f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pengasuhan anak

Toxic Parenting, Masalah yang Jamak Terjadi dalam Pengasuhan Anak

Orang tua, rumah, dan keluarga seharusnya menjadi tempat belajar yang paling pertama bagi setiap anak. Mengapa demikian? Karena orang tua, rumah, dan keluarga adalah sarana di mana individu belajar mengenai hal sederhana yang ada di sekelilingnya; seperti kasih sayang, kejujuran, sepiritual, cinta kasih, dll. Namun, kini orang tua, rumah, dan keluarga kadangkala tidaklah menjadi tempat belajar yang paling  pertama bagi individu. Kira-kira mengapa hal itu dapat terjadi pada perkembangan teknologi yang sangat pesat seperti saat ini?

Rasa aman, nyaman, kejujuran, rasa percaya diri, sepiritual, cinta dan kasih, merupakan hal-hal dasar dalam kehidupan yang anak peroleh dari orang tua, rumah, dan juga keluarga. Hal tersebut sangat kecil persentasenya daripada yang anak dapatkan dari lingkungan sekolah dan juga pertemanan.

Saat ini banyak anak yang merasa kurang mendapat rasa kasih sayang dari lingkungan sekitarnya terutama dari orang tua dan keluarganya. Hal ini terjadi karena orang tua yang mereka cintai tidak begitu paham tentang pola asuh yang tepat untuk anak.

Banyak orang tua yang hingga saat ini enggan membuka diri bahkan tidak menyadari tentang pendidikan dasar yang harus mereka berikan kepada anak. Orang tua acapkali merasa bahwa dirinya yang paling benar dan paling mengerti mengenai anak yang mereka miliki.

Orang tua kerap kali memberikan suatu pengajaran terhadap anak sebagaimana yang mereka dapatkan dari orang tua mereka dahulu. Selain itu, terkadang orang tua merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling paham mengenai anaknya; karena mereka merasa lebih tua dan lebih banyak memiliki pengalaman daripada anak.

***

Tak jarang pula orang tua, keluarga, dan lingkungan menganggap bahwasanya ketika mereka memiliki anak, beranggapan bahwasanya mereka sedang menyemai benih yang nantinya akan mereka panen pada waktu yang sudah tepat. Oleh sebab itu, kadang mereka melakukan pengajaran sesuai yang mereka inginkan agar nantinya anak tersebut dapat ‘dipanen’ pada saat mereka telah berhasil.

Baca Juga  Bermain Tarik Ulur dengan Keinginan Anak

Mengapa saat ini banyak anak yang tidak terbuka terhadap orang tua dan lingkungan sekitarnya? Bahkan tak sedikit anak yang mengalami gangguan mental seperti depresi, tidak percaya diri, bipolar, hingga gangguan jiwa. Hal itu dapat terjadi disebabkan hal-hal yang dianggap sepele oleh orang tua bahkan keluarga mereka. Seperti hilangnya rasa tidak percaya diri yang berawal dari orang tua atau keluarga yang membanding-bandingkan pencapaian anaknya yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.

Kemudian dewasa ini tak sedikit anak muda yang mengalami depresi atau bahkan bipolar; hal tersebut dapat disebabkan juga dari keluarga yang meberikan tuntutan berlebih kepada anak tanpa memberikan dukungan yang cukup. Dukungan yang cukup bukan hanya finansial saja, namun juga berupa kasih sayang, rasa aman, apresiasi yang cukup dari orang tua.

Selain itu, anak juga kerap kali tidak konsisten atau bahkan tidak berani untuk memutuskan pilihannya. Kira-kira apa yang menyebabkan hal itu dapat terjadi? Anak tidak konsisten akan sebuah pilihan atau keputusan, dapat disebabkan oleh pola asuh orang tua yang tidak konsisten pula. Seperti apa pola asuh yang tidak konsisten?

Pola asuh yang tidak konsisten adalah pola asuh yang berbeda antara ayah dan ibu. Contohnya ketika ibu mengajarkan anak dan  mengajak anak untuk bekerjasama membereskan mainannya setelah ia mainkan guna melatih tangggung jawabnya; namun ayah memarahinya karena ayah menganggap bahwa membereskan mainan setelah anak gunakan merupakan tugas perempuan (ibu).

***

Dan mengapa anak tidak berani untuk memutuskan pilihannya meskipun dapat dikatakan anak tersebut sudah memasuki usia remaja? Ini dapat disebabkan oleh orang tua yang tidak memberikan kepercayaan kepada anak dan selalu mengambil peran untuk memutuskan pilihan yang akan ditetapkan. Contohnya seperti tidak mempercayakan anak untuk memilih baju yang akan ia gunakannya pada saat itu; atau tidak mempercayakan bahwa anaknya akan mampu mengerjakan suatu pekerjaan yang orang tuanya anggap sangat sulit. Dengan demikian anak menjadi tidak memiliki keberanian untuk memutuskan suatu hal yang akan di terapakannya.

Baca Juga  Maraknya Tiger Parenting Pada Anak di Masa Pandemi

Pada beberapa dekade terakhir banyak juga orang tua yang mengasuh anaknya dengan memerinya berbagai aplikasi hiburan yang ada dalam handphone. Apakah hal tersebut salah? Hal tersebut tidak salah, namun hal tersebut dianggap kurang tepat untuk dilakukan kepada anak, terutama pada anak di bawah usia 5 tahun. Karena anak usia 0-5 tahun merupakan masa emas dan usia di mana anak harus mengeksplor dunianya.

Anak pada usia 0-2 tahun merupakan masa di mana anak mempelajari kemampuan bahasanya, jika anak sejak dini diberikan handphone untuk menikmati hiburan di dalamnya, anak hanya akan melakukan komunikasi satu arah dan tidak ada timbal balik dalam komunikasi yang dilakukannya. Sebagai orang tua, seharusnya kita membuka diri akan perubahan yang ada dan juga menyadari pentingnya pendidikan parenting untuk pertumbuhan anak tercinta. Kita harus menyadari dan menerima bahwasanya ketika kita mendidik anak, kita bukan hanya ‘menanam benih’ melainkan kita sedang bertumbuh kembang bersama dengan anak.

Bagikan
Post a Comment