f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bipolar

Mari Berkenalan dengan Bipolar Disorder

Jika berbicara mengenai mental health, pasti orang tua zaman dulu akan mempertanyakan hal ini, “Mengapa anak jaman sekarang sangat rentan terkena mental health, sedangkan di jaman dulu tidak?”

Jawabannya, pemahaman mengenai mental health pada zaman dulu sangatlah minim, terutama bipolar. Sama halnya dengan zaman modern saat ini, meski memang masih banyak orang yang minim ilmu mengenai gangguan mental health terutama bipolar. Namun, sedikit demi sedikit orang mulai mencari tahu mengenai mental health dan lebih aware terhadap penyakit ini. Sehingga seseorang yang memiliki kelainan yang mengganggunya segera tertangani oleh psikiater maupun psikolog. Hal ini tentunya dapat mengurangi peningkatan pada tindakan bunuh diri bagi orang yang sudah enggan untuk melanjutkan kehidupan karena tidak mendapatkan solusi yang tepat untuk memecahkan suatu masalah.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, “Sebenarnya, apa sih bipolar disorder?”

Bipolar disorder adalah gangguan mental yang menyebabkan adanya perubahan, baik suasana hati  atau mood, tingkat aktivitas, maupun konsentrasi yang ekstrem dan dapat mengganggu kegiatan sehari-hari.

Sampai sekarang, penyebab bipolar masih belum diketahui dengan pasti. Beberapa penelitian menunjukkan adanya kemungkinan faktor genetik yang berperan mencetuskan gangguan ini. Selain faktor genetik, ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan bipolar, yaitu: mengalami kesedihan yang mendalam akibat segala sesuatu yang membuat kecewa, pengalaman traumatis, dan lain sebagainya. Namun, perlu kita garisbawahi, hal ini harus berdasarkan diagnosis sang ahli. Jadi, jangan mendiagnosis diri sendiri, ya!

Kondisi mental health berupa bipolar ini tidak dapat ditentukan. Biasanya mereka mengalami perubahan suasana hati dari senang lalu sedih dengan tempo yang cepat. Orang dengan gangguan bipolar memiliki 2 fase dalam hidupnya, yakni mania dan depresi. 

Apa itu mania? Mania adalah kondisi suasana hati yang berbeda dari fase depresi. Seseorang dengan gangguan bipolar yang mengalami fase mania umumnya akan merasa sangat bersemangat, baik fisik maupun mental. Biasanya, mereka akan sangat antusias dan penuh dengan motivasi dalam menjalani hari.

Baca Juga  Gen Z dan Sedentary Lifestyle

Adapun gejala umum pengidap bipolar saat fase mania meliputi: semangat yang tinggi, senang berlebihan, tidak kenal lelah, dan sensitif. Ada pula yang dapat berpikir berbagai hal dalam satu waktu dan merasa diri sangat istimewa, serta berbicara sangat cepat. Pada fase ini mereka cenderung bertindak impulsif sehingga dapat melakukan apa pun dengan seketika.

Lalu, bagaimana dengan fase depresi?

Kebalikan dari fase mania, biasanya pada fase depresi  seseorang pengidap bipolar akan merasa tidak bersemangat bahkan sampai kehilangan minat dalam melakukan sesuatu yang pada akhirnya membuat tubuh merasa lelah meskipun tidak sedang beraktivitas. Pada fase ini, pengidap bipolar seringkali merasa tidak punya harapan, merasa bahwa telah gagal, bahkan sampai muncul keinginan untuk mengakhiri hidup.

Adapun gejala umum ypengidap bipolar pada fase depresi meliputi: merasakan kesedihan yang sangat dalam, kesulitan untuk tidur, berbicara sangat lambat (merasakan kesulitan dalam berpikir), kehilangan minat dalam berkegiatan, merasa putus asa, merasa lelah yang berlebihan, mudah tersinggung,  dan lain sebagainya. Pada fase ini, pengidap bipolar bahkan bisa merasakan nyeri kronis pada tubuhnya tanpa alasan yang jelas.

Sebagai pengidap bipolar, aku berusaha semaksimal mungkin untuk menjalani hari-hariku dengan baik. Sebisa mungkin aku tidak menjadikan penyakitku ini sebagai penghalang menuju kesuksesan. Biasanya, ketika aku sedang ada di fase mania, aku mencoba untuk beraktivitas, mencoba berbagai hal baru, dan melakukan bermacam kegiatan yang aku suka, salah satunya menulis. Hal ini karena pada saat aku mengalami fase itu, aku merasa sangat bersemangat dan menggebu-gebu. Jadi, aku memanfaatkannya untuk melakukan banyak hal sehingga aku dapat tetap produktif.

Saat sedang mengalami fase mania, mungkin orang akan berpikiran kalau aku terlalu berlebihan dalam beraktivitas. Ya, pada fase itu aku menjadi sangat gila kerja dan tak kenal lelah. Namun, rasanya lebih baik kalau aku menggunakan kesempatan itu untuk melakukan hal-hal positif. Sebab, aku tidak pernah tahu kapan fase depresi datang menghampiriku. Jika saat itu tiba, aku bisa kehilangan semangat dan minat atas apa pun. Hal ini cukup mengganggu karena kegiatanku menjadi sangat terhambat dan tubuhku akan menjadi sangat lelah sehingga aku tidak bisa beraktivitas dengan baik.

Baca Juga  Menakar Kesungguhan
Bipolar juga memiliki 4 tipe gangguan yakni tipe 1 dan 2, siklotimia disorder, rapid cycle di antaranya:

Gangguan tipe 1 adalah gangguan bipolar yang biasanya mengalami episode mania. Kurang lebih selama 2 minggu kemudian berubah menjadi fase depresi yang berlangsung kurang lebih 2 minggu juga. Dan keadaan seseorang yang mengalami ini akan sangat terlihat jelas perubahannya dari bahagia menjadi sedih.

Adapun orang yang didiagnosa bipolar tipe 2. Mereka umumnya tidak mengalami fase mania, namun episode hipomania yang mana merupakan bentuk mania tetapi tidak terlalu ekstrem sehingga perubahan suasana hati tidak begitu terlihat.

Kemudian siklotimia disorder, yaitu bentuk bipolar dalam versi ringan. Gejala dari siklotimia ini adalah adanya perubahan hati yang begitu cepat, namun singkat. Jika dibandingkan dengan tipe 1 dan 2, intensitas depresi dan episode hipomania dari siklotimia disorder ini lebih ringan.

Yang terakhir yaitu rapid cycle, umumnya pengidap akan mengalami perubahan mood dalam kurun waktu yang cukup lama. Perubahan suasana hati ini biasanya terus berganti dengan intensitas yang kurang stabil, yang artinya mereka merasakan bahagia namun tidak terlalu bahagia dan sedih namun tidak terlalu sedih bahkan pada umumnya mereka terlihat normal seperti tidak ada masalah.

Setelah mengetahui beberapa hal dari bipolar, mari kita cari tahu kapan seharusnya kita pergi ke dokter untuk konsultasi:

Pertama, apabila diri kamu merasakan adanya perubahan mood yang ekstrem dan kamu merasa terganggu atas hal itu. Kedua, saat kamu telah sampai pada titik di mana hal yang tidak seharusnya dipikirkan, yaitu ketika kamu memiliki pemikiran untuk bunuh diri atau menyakiti diri dengan berbagai hal, seperti melakukan cutting pada area tubuh terkhusus tangan, menjambak rambut dengan kasar, membenturkan kepala, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Pengaruh Membeda-bedakan Anak terhadap Kesehatan Mental

Nah, kira-kira apa saja ya yang perlu dilakukan apabila ada orang di sekitar kita yang memiliki gangguan mental ini?

Hal yang bisa kita lakukan apabila menghadapi seseorang yang memiliki gangguan bipolar adalah menemaninya. Menjadi pundaknya untuk bersandar, dan mendengarkannya bercerita tanpa menghakimi, serta meyakinkannya bahwa ia tidak sendirian. Kamu juga bisa mempelajari hal yang berkaitan dengan gangguan tersebut. Sebab, semakin kamu mengerti apa yang mereka hadapi, maka akan semakin mudah bagi kamu untuk memahami mereka.

Teruntuk orang-orang hebat, terima kasih karena telah menjadi sosok yang kuat. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Mari kita bergandengan bersama dan melewati semua ini dengan sempurna. Life is temporary, mari kita lukiskan kisah indah bersama hingga akhirnya kita bahagia. Tetap semangat! Yakinlah bahwa suatu saat nanti kita akan bisa mengenal banyak warna selain hitam dan abu-abu. Ingat janji Allah bahwa kita akan berjaya!

Bagikan
Post a Comment