Pendidikan adalah satu hal fundamental yang harus mendapatkan perhatian lebih dari segenap elemen bangsa. Mengapa demikian? Karena menurut Darmaningtyas, pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis dengan tujuan untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Mengingat begitu pentingnya pendidikan dalam kehidupan sehari–hari, maka semua pihak dituntut untuk senantiasa secara kolektif dan koperatif, berupaya mengembangkannya. Pendidikan juga dapat terdefinisikan sebagai pengembangan paradigma intelektual dan mengembangkan kemampuan teoritik ataupun kesiapan mental.
Pemaknaan Pendidikan Karakter
Di dalam sistem yang ada di Indonesia, pendidikan tak terlepas dari berbagai macam problematika pelik yang seperti tak ada habis–habisnya. Permasalahan yang dimaksud, bukan sekadar konteks administratif simbolik, bukan hanya itu. Melainkan permasalahan yang menyeruak hingga pada konteks yang lebih mendalam, yang menyasar pada para pelakunya. Akhir-akhir ini terjadi suatu fenomena yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding, bagaimana tidak? Di era seperti sekarang ini, tindakan atau perilaku menyimpang justru lebih dekat dengan pelajar Indonesia.
Kasus-kasus (menyimpang) inilah yang kemudian bukan hanya menunjukkan “bobroknya” pendidikan di Indonesia, namun menunjukan juga “matinya” kemewahanan intelektual dalam berfikir. Pendidikan sebagai representasi kemajuan peradaban bangsa, sejatinya tidak cukup sebatas transfer pengetahuan, melainkan juga pada pengoptimalan transfer nilai ke setiap siswa.
Berbicara soal karakter, mari kita definisikan konteksnya terlebih dahulu. Pengembangan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai–nilai yang baik kepada setiap siswa secara masif dan komprehensif. Sehingga dari upaya tersebut dapat menginternalisasikan pengetahuan, kesadaran, dan tindakan dalam mengaktualisasikan nilai–nilai substansional dalam karakter itu sendiri.
Tiga Strategi
Pendidikan karakter menjadi satu poin krusial yang mesti diperhatikan. Dengan rekomendasi dan mekanisme strategi sebegai berikut. Pertama, mempromosikan nilai–nilai kode etik berdasarkan karakter positif. Transfer nilai dapat dimulai secara simultan dengan cara promosi nilai–nilai kode etik berdasarkan karakter positif oleh institusi terkait.
Seyogyanya, guru maupun institusi penyelenggara dapat menyelipkan penanaman nilai–nilai kode etik yang positif kepada peserta didiknya. Sebagai contoh, ketika seorang guru PPKN memberikan pelajaran mengenai norma–norma kehidupan bermasyarakat, guru tersebut bisa melakukan transfer nilai karakter melalui pemberian studi kasus atau contoh faktual yang menggambarkan bagaimana karakter positif penting untuk diterapkan di dalam kehidupan sosial itu sendiri.
Kedua, melakukan pendekatan secara persuasif, komprehensif, dan pro-aktif. Bayangkan saja ketika seorang siswa merasa jauh hubungan emosionalnya dengan sang guru, jelas akan berdampak secara elaboratif terhadap mental dari siswa itu sendiri. Tak ayal, bila akhirnya transfer nilai gagal dilakukan. Maka dari itu, pendekatan secara persuasif terhadap siswa harus dilakukan secara komprehensif dan pro-aktif.
Sebagai ilustrasi, ketika seorang guru mampu mendekati siswanya secara persuasif, hal ini akan menimbulkan rasa nyaman terhadap siswa itu sendiri. Sehingga, guru dengan leluasa dapat menginternalisasikan nilai-nilai karakter positif, tanpa adanya pertentangan.
Ketiga, menciptakan lingkungan antropologis lembaga pendidikan sebagai tempat yang penuh dengan kepedulian.
Terdapat tiga cara dalam upaya mengembangkan karakter positif siswa, pertama ialah kesadaran kolektif yang tumbuh secara mandiri, oleh karena lingungan yang ada. Sedangkan yang kedua, melalui penanaman sikap dari orang lain. Dan ketiga, yakni metode reaktif yang mengkorelasikan kedua cara.
Wujudkan Nyalanya
Dengan terciptnya lingkungan intelektual yang penuh kepedulian, tentu berimplikasi secara kolektif terhadap nilai-nilai karakter positif. Lebih daripada itu, seorang pendidik juga harus mampu secara kooperatif melakukan pengembangan karakter secara lebih parsial.
Terakhir, sebagai penutup. Mari bawa pendidikan Indonesia menjadi lebih baik lagi, perbaiki sistem yang ada, internalisasikan nilai–nilai karakter kepada murid; jangan biarkan kejadian-kejadian pelik dan menguras emosi ihwal intelektual di negeri ini terulang kembali. Semua butuh proses, namun tiada hal yang tidak mungkin di dunia ini; apalagi jika menyangkut pendidikan, yang menjadi wahana kaderisasi penerus bangsa. Seperti yang Nelson Mandela sampaikan, “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengannya kita dapat merubah dunia.”
Daftar Pustaka
Kadi, Titi & Awwaliyah Robiatul (2017). Inovasi Pendidikan : Upaya Penyelesaian Problematika Pendidikan di Indonesia. Jurnal Islam Nusantara, 01(02), 1.
Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar : Menggagas Paradigma Baru Pendidikan (Jakarta: Paramadina, 2003) h.25
Azzet, A.M., 2011. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia, Yogyakarta : Arruz Media
Koesoma, D.A.,2007. Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta : Grasindo
