f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ien ang

Ien Ang: Suara Kajian Budaya dari Surabaya

saya diperkenalkan oleh Budiwan saat mengambil Mata Kuliah Etnisitas dan Poskolonial saat kuliah Pascasarjana Kajian Budaya, Universitas Sanata Dharma pada tahun 2006 dengan salah satu figur penting di Kajian Budaya di Asia; Ien Ang. Salah satu bukunya Ien Ang yang digunakan Budiawan, akademisi sekaligus penggila bola yang kini mengajar di Pascasarjana Kajian Budaya UGM, adalah On Not Speaking Chinese: Living Between Asia and the West (2001).

Dalam karya yang merupakan kumpulan artikel dari berbagai jurnal internasional tersebut, Ang menarasikan bagaimana prolematiknya sebuah identitas yang tidak mudah didefinisikan dalam satu penjelasan dan satu tarikan nafas. Mobilitas melalui migrasi dan kecanggihan transportasi memungkinkan batas-batas identitas yang sebelumnya sangat rigid, jelas, dan beku menjadi relatif lebih mencair. Meskipun begitu, upaya untuk terus menguatkan batas-batas identitas itu selalu hadir untuk ditegaskan, apalagi di tengah kehadiran Politik Illiberalisme dengan kehadiran figur-figur Populist Politik di beberapa negara dengan menjadikan pendatang (imigran) sebagai ancaman utama sebuah bangsa.

Dalam esai singkat ini, saya tidak menjelaskan lebih detail sejumlah karya yang dihasilkan oleh Ien Ang sekaligus dan prestasinya,  melainkan lebih pada pilihannya untuk mengambil Studi S3 yang kemudian membangun karirnya menjadi akademisi top di bidang Kajian Budaya.

Ien Ang, Profesor Kajian Budaya yang kini bermukim di Australia dan mengajar di Universitas Sidney Barat (Western University Sidney) ini merupakan kelahiran Surabaya pada tahun 1954. Ia bermigrasi ke Belanda bersama keluarganya pada tahun 1966, tepatnya setahun setelah Peristiwa 30 September 1965. Saat di tinggal di Belanda selama 25 tahun, ia telah menempuh gelar BA (Bachelor of Arts), yang kini setara dengan S1, dengan mengambil Jurusan Psikologi di Kampus Universitas Amsterdam pada tahun 1977. Proyek BA (semacam skripsi) tersebut kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Watching Dallas: Soap Opera and the Melodramatic Imagination (1982) di Penerbit bergengsi Inggris, Routledge. Ia menyempurnakan studi lanjutnya dengan mengambil gelar Doktorandus, setara dengan S2, pada 1982 di Jurusan Komunikasi di kampus yang sama. Proyek risetnya diterbitkan kembali oleh penerbit yang sama dengan judul Desperately Seeking Audience (1991).

Pengaruh Stuart Hall dan Pilihan S3 Ien Ang

Pada pertengahan 1980-an, Stuart Hall datang ke kampus Amsterdam, tempat yang Ang juga mengajar setelah lulus Dokterandus tersebut. Saat bertemu dengan Stuart Hall, Ang menceritakan mengenai keinginannya untuk lanjut S3. Ia meminta kesediaan Stuart Hall untuk kemungkinan menjadi pembimbingnya. Permintaan Ien Ang ini merupakan memimpi seorang akademisi muda untuk mengikuti jejak Perintis Kajian Budaya tersebut sekaligus menjadi Dewa di bidang tersebut melalui Pendirian Pusat Kajian Birmingham Untuk Kajian Budaya Kontemporer (Birmingham Centre for Contemporary Cultural Studies/CCCS) yang cukup fenomenal. Sayangnya, keinginan Ang itu tidak bersambut. Sebaliknya, Stuart Hall justru memintanya untuk menulis buku saja ketimbang menghabiskan waktu secara percuma untuk S3.

Baca Juga  103 Tahun ‘Aisyiyah: Membangun Budaya Baru Indonesia

Harus diakui, saat itu industri akademik tidak seperti sekarang, yang setiap individu yang ingin berkarir sebagai akademisi harus menempuh S3 terlebih dahulu. Sebaliknya, seorang akademisi bisa membangun kariernya sampai level Profesor tanpa membutuhkan gelar S3. Hal ini sebenarnya ditunjukkan jejak latarbelakang Stuart Hall sendiri yang tidak memiliki gelar tertinggi dalam dunia akademik tersebut. Karena itu, Hall meminta Ang untuk membangun karier sebagai Intelektual saja dengan menekuni Kajian Budaya yang memang sudah ia menghasilkan dua karya sebelumnya. Awalnya, tawaran ini dipikirkan secara serius, tapi Ia justru mengambil pilihan sebaliknya. Menurutnya, menekuni karir Intelektual di bidang Kajian Budaya tanpa S3 tidak cukup untuk mendapatkan rekognisi akademik secara lebih luas; mengikuti konferensi, menerbitkan artikel jurnal, sekaligus menghadiri workshop dan diundang di pelbagai panel-panel forum akademik. 

Neoliberalisme Kampus dan Tantangan Akademisi Masa Kini

Lebih jauh, menurut Ang, pilihan untuk mengambil S3 itu merupakan cara untuk membuka pintu untuk mendapatkan rekognisi akademik sekaligus peluang lebih luas pada pilihan karier akademik. Dengan kata lain, S3 adalah paspor untuk masuk dalam jejaring dunia akademik lebih luas.  Apalagi, Ien Ang merasa bahwasanya dirinya bukan siapa-siapa apabila dibandingkan dengan Stuart Hall. Bertolak dari argumen ini, Ang mengambil S3 di Kampus yang sama dengan jurusan yang berbeda, Ilmu Sosial dan Budaya (Social and Cultural Sciences). Ia kemudian membangun karier akademiknya dengan bermigrasi ke Australia dengan menjadi dosen di Universitas Murdoch pada tahun 1991 dan kemudian berpindah menjadi dosen dan Profesor di Universitas Sidney Barat sampai sekarang.

Di sini, keputusan mengambil S3 merupakan pilihan yang tepat. Ini karena, sejak tahun 1980-an, ada kebijakan neoliberalisme yang dikeluarkan oleh  Margaret Thatcher, Perdana Menteri Inggris (1979–1990). Kebijakan tersebut adalah berusaha untuk menekan sekuat mungkin peranan negara, khususnya melalu subsidi yang diberikan, dalam setiap sektor dengan memberikan peranan penuh kepada pihak swasta untuk melakukan intervensi lebih luas. Kebijakan ini mempengaruhi pelbagai belahan dunia lain, tidak terkecuali dunia kampus. Akibatnya, dari segi pendanaan, kampus diminta untuk lebih mandiri. Adanya perubahan ini, kerja-kerja intelektual yang seiring dengan keberpihakan kampus semakin menyempit kontribusinya. Sebaliknya, dosen-dosen kampus diminta untuk lebih profesional menjadi akademisi yang memberikan kontribusi di bidangnya sekaligus mendatangkan uang melalui hasil hibah dana riset.

Baca Juga  Beberapa Tradisi Lebaran yang Kini Terasa Semakin Menghilang
Neoliberalisme Kampus dan Tantangan Akademisi Masa Kini

Lebih jauh, neoliberalisme kampus ini memiliki semacam industri matrik sendiri untuk menghitung sejauhmana kontribusi akademisi itu dapat menunjang kenaikan kampus terkait dengan Urusan Rangking Dunia. Salah satunya adalah dengan publikasi internasional. Di sini, mendapatkan gelar S3 kemudian menjadi prasyarat utama bagi setiap individu yang ingin menempuh karier akademisi.

Kondisi ini tentu saja berimbas pada Subyek Kajian Budaya, yang sebelumnya sebagai bagian dari proyek Gerakan Sosial, kini harus menjadi bagian dari formalitas di Jurusan Kampus, memiliki aturan sekaligus perhitungan sendiri dengan birokrasi yang cukup rumit dan keberlanjutan seiring dengan adanya dana dan individu yang turut mendaftar menjadi mahasiswa/mahasiswi. Hal ini disadari Ang saat ingin mengembangkan Pusat Kajian Budaya dan Masyarakat (Institute for Culture and Society) sekaligus bagian dari Program Studi di Universitas Sidney Barat, yang Ia turut mengajar dan meriset.

Sebenarnya, persoalan yang dihadapi oleh Ien Ang ini dialami sebagian besar individu di Indonesia yang ingin menempuh karier sebagai akademisi, baik sebagai dosen ataupun peneliti. Pilihan S3 bukan sekedar anjuran, melainkan kewajiban. Selain kariernya terhambat, jika ini tidak mengambil S3, hal itu berimbas kepada tidak adanya kenaikan gaji. Prasyarat itu berlaku kepada semua orang; tidak terkecuali mereka yang cukup pintar sekaligus memiliki karya akademik dan reputasi intelektual yang diakui oleh publik Indonesia.

Hal ini berisian kuat juga secara personal dengan saya. Saya harus mengambil S3 karena bagian dari tanggungjawab profesional sebagai peneliti sekaligus kewajiban dari institusi tempat saya bekerja. Meskipun demikian, refleksi pertemuan Ien Ang dengan Stuart Hall ini bisa menjadi semacam pembelajaran untuk saya. Pilihan-pilihan idealisme intelektual memang harus tetap dijaga; membaca, meriset, menulis, menerbitkan karya, dan terlibat aktif dengan komunitas yang turut membesarkan saya sekaligus yang ingin saya tumbuh dan melakukan advokasi bersama, apapun itu bentuknya.

Baca Juga  Menciptakan Pelayanan Perlindungan Data Pribadi untuk Kesejahteraan Umat (1)

Namun, idealisme tersebut harus dibenturkan dengan realitas, yang syarat formal untuk bertahan sebagai profesional karier di bidang akademisi, salah satunya adalah dengan mengambil S3, harus diambil. Dengan cara ini, menjaga api intelektualisme sekaligus formalitas akademik bisa terus berjalan dengan cara menegosiasikan ulang daya posisi tersebut secara terus-menerus. Ini dilakukan untuk menjaga daya kritik sebagai individu di tengah intervensi neoliberalisme akademik di semua ranah.   

Bagikan
Post a Comment