Air, Politik, Kebudayaan dan Kehidupan

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Air itu misterius. Air itu mistis. Maka manusia berlomba-lomba menaklukkannya. Tidak percaya? Coba saja buka buku seluruh bidang ilmu. Kita akan mendapati upaya penaklukan air dalam buku fisika, kimia, politik, sastra, agama, ekonomi, sosiologi, bahkan buku klenik.

Sophie Amundsend dalam novel garapan Jostein Gaarder (2006) juga tergerak untuk menaklukkan misteri air dengan mengimajinasikan kisah Thales, seorang filsuf kuno yang mengungkapkan asal mula segala sesuatu adalah air. Sophie membayangkan perjalanan Thales di dataran Mesir di sepanjang sungai Nil yang sibuk. Thales menangkap sesuatu yang penting. Air sungai Nil adalah sumber kehidupan warga. Tanpa air dari sungai Nil, tidak akan ada peradaban Mesir. Air adalah sumber kehidupan, air adalah sumber segala sesuatu.

Bayangan Sophie tentang sosok Thales di novel Dunia Sophie itu sangat akurat. Keakuratan itu bisa disandingkan dengan buku filsafat karangan Mohammad Hatta yang berjudul Alam Pikiran Yunani (1980). Hatta menulis, “Bagi Thales air adalah sebab yang pertama dari segala yang ada dan yang terjadi, tetapi juga akhir dari segala yang ada dan yang terjadi itu. Di awal air, di ujung air. Air sebab yang penghabisan!”

*

Selain di buku novel dan filsafat, kita juga bisa menemukan upaya penaklukan misteri air di puisi Wiji Thukul berjudul Puisi Keadaan (1989). Wiji Thukul menulis, “Hujan turun, got-got meluap, banjir datang, bingunglah rakyat.” Penyebab kebingungan rakyat ialah air yang datang tiba-tiba. Air menjelma jadi musuh masyarakat. Air banjir adalah petaka yang menyebabkan kerugian harta, benda, dan jiwa.

Sayangnya, banjir yang Wiji Thukul ceritakan dalam puisinya tidak berakhir bahagia seperti dalam kisah banjir Nabi Nuh. Tidak ada bahtera yang menjadi penyelamat warga Jagalan, Solo, Jawa Tengah. Yang ada hanya genangan air dan keluh kesah warga yang Thukul serap secara ajaib menjadi puisi yang luar biasa.

Zaim Uchrowi dalam buku Menggagas Renaisans Indonesia, Refleksi Kebangsaan Seorang Muslim (2004) mengakui kebenaran pendapat WS Rendra tentang penyebab kehancuran Indonesia. Menurut Rendra kemakmuran hanya bisa terwujud jika dua kebudayaan bisa bertaut erat. Kedua kebudayaan itu adalah kebudayaan tanah yang merepresentasikan kebudayaan pedalaman (agraris) dan kebudayaan air yang merepresentasikan kebudayaan pesisir (maritim).

Kekalahan armada laut kerajaan Demak yang Pramoedya Ananta Toer kisahkan dalam novel Arus Balik (1995) adalah titik balik dari kemunduran budaya air di nusantara. Nusantara yang sepertiga wilayahnya adalah air dipecundangi bangsa barat melalui perang dan intrik politik.

Kerajaan Demak tidak bisa merebut kendali wilayah maritim nusantara dan terpojok ke pedalaman. Kerajaan Demak mengalami kemunduran hingga akhirnya lenyap seiring berjalannya zaman. Tanpa kontrol atas kebudayaan air bangsa barat dengan mudah menguasai nusantara. Dari sana misteri air yang seharusnya menjadi kekuatan bagi masyarakat nusantara malah berubah menjadi malapetaka.

Air dan Politik

Dalam konteks politik, air bukanlah satu hal yang misterius. Dalam politik, air adalah wilayah sengketa. Isu yang berkaitan dengan air selalu menjadi komoditas yang laku hampir di setiap bidang. Dalam bidang kelautan misalnya. Susi Pudjiastuti yang pernah menjabat sebagai menteri di Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia periode awal kabinet Jokowi banyak menuai puji akibat upayanya menjaga kedaulatan air Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Menteri Susi Pudjiastuti, mafia internasional yang selama ini menjarah kekayaan laut Indonesia takut bukan kepalang. Mereka ngeri jika harus berhadapan dengan Menteri Susi Pudjiastuti. Mereka takut dengan ancaman penenggelaman kapal yang selalu Bu Susi jadikan andalan. Sayangnya saat ini Presiden Jokowi tidak memainkan isu ini secara maksimal. Menteri Kelautan malah terlibat skandal korupsi yang justru mencoreng wajah kabinet Jokowi.

Dalam sektor pertanian, Mantan Presiden Soeharto menjadikan air sebagai salah satu kunci dari politik pangan yang ia anut. Kemampuan Presiden Soeharto dalam memainkan politik air diganjar dengan kesuksesan swasembada pangan.

Di zaman orde baru, urusan air bukan hanya diayomi namun juga diawasi. Sektor irigasi dan perairan membuka peluang bagi warga yang ingin berkarir di bidang penyuluhan serta pengawasan dan perawatan.

Air dan Tradisi

Di berbagai wilayah Indonesia, air menjadi bagian dari warisan budaya. Di Banyuwangi misalnya. Tradisi ituk-ituhkan yang warga Osing lakukan dalam rangka syukur atas melimpahnya sumber air di desa. Warga osing di Dusun Rejopuro, Kecamatan Glagah, Banyuwangi akan datang berduyun-duyun ke sumber mata air pada tanggal 12 Dzulqa’dah untuk syukuran. Warga desa akan datang membawa berbagai macam kudapan khas yang akan mereka makan di sekitar sumber mata air desa.

Prosesi makan di depan mata air desa seolah menyiratkan pentingnya air bagi kehidupan warga. Dengan adanya air, warga desa bisa bercocok tanam. Dengan bercocok tanam kemakmuran, kedamaian, dan ketentraman bisa mereka peroleh. Selain itu,  tradisi padusan dalam menyambut bulan suci Ramadan juga melibatkan unsur air sebagai medianya. Air dalam tradisi Padusan di daerah Yogyakarta dan Solo memerankan peranan kunci untuk pembersihan diri dalam upaya menyambut datangnya bulan suci. Air diperlakukan sebagai wahana menghilangkan noda dan najis yang akan mengurangi nikmatnya ibadah puasa. 

Menjaga Air Tetap Lestari

Air merupakan salah satu elemen kunci kehidupan. Air diperlukan untuk makan, minum, bercocok tanam, melestarikan tradisi, dan bahkan beribadah. Begitu pentingnya air hingga air nampak serupa misteri yang harus dipecahkan para ahli. Filsafat dipilih sebagai upaya pertama manusia memahami hakikat air.

Namun beberapa isu lingkungan menyebabkan air kini mulai mengancam manusia. Air bisa menjadi sangat langka dan sangat berlimpah. Kekeringan dan banjir menjadi fenomena lumrah seiring dengan adanya perubahan iklim akibat global warming. Air datang dan pergi bukan lagi sebagai sahabat namun sebagai musuh yang mengancam.

Melihat fenomena tersebut, sebaiknya kita mulai waspada. Jangan sampai anak cucu kita mewarisi kerusakan lingkungan yang menjadikan air sebagai musuh. Kita harus segera bertindak untuk menyelamatkan air agar tetap lestari dan bersahabat dengan manusia.

Salah satunya dengan ikut melestarikan alam dan berkampanye tentang upaya penyelamatan lingkungan. Jangan biarkan penebangan hutan, pertambangan yang merusak sumber air, dan reklamasi yang menghancurkan ekosistem tetap ada. Kita wajib turun tangan untuk menyelamatkan lingkungan demi anak cucu kita.

Bukankah air yang mengalir jernih, hutan yang asri nan lestari, dan lingkungan yang sehat adalah suatu yang ingin kita wariskan? Jika iya, mari berpolitik demi menyelamatkan eksistensi air. Mari berbudaya dan bertradisi yang ramah dengan air. Begitu.

Bagikan:
Penulis 2 Tulisan

Iklas Kurnia

Penulis adalah alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penulis pernah mengajar di Pesantren Tahfizh Qur'an Darul Fikri Sidoarjo. Saat ini Penulis tinggal di Banyuwangi dan mendirikan TBM Rumah Pinus Banyuwangi.

Leave a Comment