f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
PKI

Mari Hapus Kebencian dan Tebarkan Cinta

Apakah hantu PKI (Partai Komunis Indonesia) akan bangkit kembali tahun ini? Pertanyaan itu layak kita ajukan mengingat kita saat ini telah memasuki akhir bulan September, bulan yang biasanya penuh oleh tuntutan pemutaran film G30S/PKI.

Sebelum peristiwa G30S/PKI meletus di penghujung bulan September 1965, Indonesia mengalami ketegangan politik yang menggila. Orang-orang mempersiapkan diri untuk menghadapi, meminjam istilah Soe Hok Gie clash besar. Menurut prediksi, clash akan terjadi antar golongan yang pro Soekarno dan anti Soekarno.

Prediksi Gie akhirnya benar-benar terbukti. Clash tidak bisa terhindarkan lagi. Pemicunya adalah penculikan beberapa jenderal oleh Pasukan Cakrabirawa di daerah Lubang Buaya. Peristiwa G30/SPKI telah membuat rakyat marah. Orang-orang yang dianggap PKI ditangkap, dibuang, dan dibunuh. Clash antar masyarakat berkecamuk di beberapa wilayah yang menjadi basis massa PKI.

Efek dari penculikan beberapa jenderal yang terbalas oleh kemarahan rakyat itu masih terasa hingga kini. Kita masih sangat membenci orang-orang yang tidak cinta pancasila. Juga akan menyemarakkan kebencian itu di akhir bulan September. Kita akan menuntut pemerintah dan pihak stasiun TV swasta untuk memutar kembali film Pengkhianatan G30S/PKI.

Namun marilah kita merenung sejenak. Apakah kebencian itu masih relevan untuk saat ini, saat semua orang terdampak virus bernama Covid-19? Apakah kita masih bersemangat untuk menyemai kebencian di generasi muda? Tentu kita sendirilah yang bisa menjawab pertanyaan dilematis itu.

Cinta Yang Melindungi dan Mengayomi

Konflik politik yang hadir pada tahun 1965 menampilkan wajah buas. Para aktor yang terlibat di dalamnya tidak segan-segan bertindak ekstrim seperti mengecam, mengutuk, meneror, dan bahkan membunuh.

Semua kekejaman itu masih sangat jelas terekam dalam memori kolektif bangsa ini. Mahfud MD yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan pernah memberikan kesaksian terkait kebuasan PKI pada orang-orang yang ia kenal.

Baca Juga  Hari Kebangkitan Nasional Indonesia dan Keadaan Pendidikan Nasional Indoensia 2023

“Tahun 1965 itu saya ada. Saya sudah umur 8 tahun. Saya tahu ketika kyai-kyai saya terbunuh. Kyai saya namanya Kyai Jufri, baru turun pidato terbunuh PKI,” ungkap Mahfud MD dalam acara Indonesia Lawyer Club tahun lalu. 

Singkat cerita, pasca peristiwa G30S/PKI, teror dan kebrutalan PKI itu masyarakat balas dengan teror dan kebrutalan yang serupa. Seperti kata pepatah, mata dibalas dengan mata, api dilawan dengan api.

Namun untungnya tidak semua orang melakukan pembalasan dendam seperti itu. Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang tetap menumbuhkan cinta di tengah kemelut sosial. Kyai Muslim Rifai Imampuro atau mbah Lim adalah salah satu tokoh hebat yang tetap bisa memegang teguh prinsip cinta pada orang-orang yang pernah membencinya.

Saat terjadi pembantaian anggota dan simpatisan komunis, Mbah Lim pasang badan untuk melindungi warga desanya yang terindikasi sebagai simpatisan komunis. Mbah Lim mengerahkan segenap tenaga dan pikirannya agar simpatisan komunis di desanya tidak terbantai. Mbah Lim bahkan pernah berujar pada para algojo. “Lho, siapa yang nanti akan shalat di masjidku jika kalian membunuh mereka semua?”

Ujaran Mbah Lim yang penuh cinta itu sangat mengesankan bahkan untuk kita yang hidup saat ini. Mbah Lim tetap berusaha melindungi, mencintai, dan mengamalkan ajaran kasih untuk orang-orang yang pernah menentangnya. Beliau tidak memendam benci pada simpatisan komunis yang berlindung di bawah naungannya. Mbah Lim adalah simbol manifestasi cinta yang akan tetap tumbuh dan melindungi setiap orang yang membutuhkan. 

Rantai Kebencian

Kejadian berdarah yang terjadi pada tahun 1965 telah mengakibatkan luka dan kebencian yang sangat dalam. Luka dan kebencian itu bukan hanya masyarakat rasakan, namun juga anak-anak mantan simpatisan PKI rasakan, dan algojo pembunuh PKI seperti Anwar Kongo di film Jagal garapan Joshua Oppenheimer tahun 2012.

Baca Juga  Menciptakan Ruang Aman bagi Perempuan dengan Mengubah Cara Pandang yang Berkeadilan.

Bagi masyarakat yang keluarganya menjadi korban teror PKI, akan sangat sulit untuk melupakan dan memaafkan. Masyarakat akan terus mengingat dan mendendam pada apapun yang berbau PKI. Luka dan trauma akibat intrik politik PKI akan sangat sulit tersembuhkan. Inisiatif untuk menjadi algojo dalam memburu dan membunuh simpatisan dan anggota keluarga komunis adalah ekspresi lumrah dari kebencian yang memuncak.

Bagi anak-anak mantan simpatisan PKI, kebencian itu akan terus hidup. Kebencian itu akan mengarahkan pada para algojo pembantai keluarga mereka. Anak-anak mantan anggota PKI juga akan membenci masyarakat dan aparatur negara yang mereka anggap telah memperlakukan mereka secara tidak adil. Anak-anak mantan anggota PKI merasa tidak terlibat dengan pemberontakan namun diperlakukan seolah-olah mereka terlibat dan memberontak. Hal yang mereka anggap tidak adil dan tidak wajar.

Jika  rantai kebencian ini tidak diputus, kedamaian, ketentraman, dan keamanan hanyalah mimpi. Masyarakat akan terjebak pada lingkaran kekerasan dan kebencian yang tidak berujung. Masyarakat akan terpolarisasi dan mudah diadu domba. Maka penting bagi kita untuk belajar dari masa lalu untuk menghapus rantai kebencian yang masih tersisa.

Menghilangkan Benci

Kebencian atau dendam adalah fenomena empiris sehingga keberadaanya bisa diurai, diteliti, dan dicarikan jalan keluar. Menurut Sigmund Freud benci adalah suatu pernyataan ego (ke-aku-an) yang ingin menghilangkan sesuatu yang membuat si pembenci tidak bahagia. Benci menurut Abraham Maslow bukanlah sisi mendasar dalam kepribadian manusia. Benci merupakan akibat dari defisiensi lingkungan.

Jika kita ingin menghentikan rasa benci, maka kita harus berhenti membuka luka lama. Apapun agenda yang berusaha mengorek penderitaan masa lalu harus kita hentikan. Dengan begitu kita telah selangkah lebih maju untuk menciptakan masyarakat tanpa kebencian

Baca Juga  Kesetaraan Gender dalam Keluarga; Sebuah Utopia atau Cita-Cita Kemanusiaan

Lalu langkah berikutnya adalah menumbuhkan rasa cinta pada semua orang yang telah terkena demam benci. Sebab dalam wacana psikologi modern, rasa benci merupakan kebalikkan dari rasa cinta. Dengan menumbuhkan rasa cinta, kebencian akibat luka bisa diobati.

Dengan niat tulus untuk menumbuhkan rasa cinta, mari kita buka lembar-lembar baru kehidupan bermasyarakat. Kita yang telah lelah berkonflik seharusnya bisa mencintai siapapun. Kita akan mencintai siapapun tanpa memandang status, jabatan, ideologi, dan pandangan politik seseorang. Bukankah itu lebih baik daripada memendam benci sampai mati? Wallahu a’lam.

Bagikan
Comments
  • Ani

    Mencintai lebih baik daripada membenci. Membenci bikin hidup kita semakin susah.

    September 30, 2021
Post a Comment