f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mahkota ummi

Mahkota untuk Ummi

“Boleh jadi jika kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al-aqarah : 216).

⁰  ⁰  ⁰

Namaku Az-Zahra, ummi dan abi memberikanku nama itu karena ia berharap putri semata wayangnya ini bisa menjadi anak solehah sebagai perhiasan yang mereka miliki di dunia dan kelak akan mengharamkan tubuh mereka dari panasnya api neraka.

Saat ini aku duduk dibangku kelas tiga di salah satu MA yang berada di kawasan Pondok Pesantren tempat aku menimba ilmu dan sore ini aku harus kembali ke Pondok Pesantren, ummi bahkan telah menyiapkan semua keperluanku selama satu semester ke depan.

Ummi dan abi ingin aku menjadi seorang hafizah. Itulah mengapa mereka rela melepas kepergianku agar bisa menghafal Al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama lebih dalam sejak dini. Awalnya aku tak masalah jika harus tinggal jauh dari kedua orang tuaku, tapi ….

Ummi Sakit Leukimia

Beberapa tahun lalu, aku menemukan amplop putih berisi surat keterangan dari rumah sakit di atas meja samping tempat tidur ummi. Dan, yah … ummi dinyatakan mengidap leukimia. Sejak saat itu, aku tak mau jauh dari ummi. Bahkan memohon pada ummi agar tak lagi mondok.

Aku merasa duniaku hancur. Aku tak bisa membayangakan bagaimana hidupku kelak jika tak ada ummi. Lamunanku buyar. “Ara,” panggil ummi dari balik pintu kamarku. Ku rapihkan jilbab panjang yang menutupi hampir sebagian tubuku itu, lalu segera menghampiri ummi.

“Ummi, Ara gak mau pulang ke pondok,” kataku dalam pelukan tubuh ummi. Semakin hari, tubuh ummi semakin mengecil. Aku merasa kehilangan banyak waktuku bersamanya. Rasanya, aku tak mau lagi pergi meinggalkan ummi. Aku takut, jika aku pergi nanti, justru ummi lah yang akan meninggalkanku.

Baca Juga  Arti Bapak Buatku

“Kenapa, Nak?” tanya ummi yang terkejut dengan tingkahku. Bahkan ummi khawatir, takut sesuatu terjadi padaku. Aku pun menjawab seraya menengadahkan kepalaku agar dapat melihat wajah ummi, “Ara tahu minggu depan ummi akan dioperasi. Kenapa ummi gak ngasih tau Ara?”

Ummi terdiam, kemudian mendekap tubuhku yang bergetar.“Maafin ummi, Nak.” Kata-kata itu tak henti-hentinya ummi ucapkan. “Ummi belum bisa jadi ummi yang baik buat Ara,” lanjut ummi. Kata-kata yang ummi ucapkan membuatku sesak. Bagaimana mungkin ummi bisa berbicara seperti itu, sedangkan ummi adalah ummi terbaik di dunia.

“Kamu sayang kan sama ummi?” tanya ummi melepaskan dekapannya dariku. Ia menatap mataku, matanya sembab seperti mataku, tangan lembutnya bergetar menghapus setiap tetes air mataku. Lama, kami saling memandang. Aku baru sadar jika wajah ummi pucat pagi itu.

“Kamu belajar yang rajin. Tetaplah menjadi putri ummi dan abi yang penurut dan baik, jadilah seorang hafidzah yang kelak bisa menolong orang-orang di sekitarmu. Jangan khawatirkan ummi, ada Allah. Jangan pernah merasa kesepian, ada Allah. Doa ummi selalu meyertai langkah putri kesayangan ummi.”

***

Pagi ini, aku diwisuda menjadi seorang hafidz. Alhamdulillah, tak terasa tiga tahun sudah aku berjuang bersama teman-temanku di pondok ini. Berkat bimbingan dari ustazah serta doa ummi dan abi, aku bisa. Dengan jubah hitam serta topi toga lengkap dengan selempangnya, kudatangi rumah sakit tempat ummi dirawat.

Sebuket bunga yang ku dapat saat wisuda tadi akan ku persembahkan pada ummi. Tapi …. Topi toga yang kukenakan jatuh begitu saja, buket bunga yang kubawa pun entah sejak kapan sudah berserakan di lantai. Aku bahkan tak bisa merasakan lagi tubuhku sendiri.

Baca Juga  Kesuksesan Korban Perundungan

Ummi telah pergi. Yang kulihat saat itu hanyalah abi yang ikut mendorong ranjang ummi bersama beberapa perawat lainnya. Senyum tegar dengan pundak bergetar abi malah semakin membuatku sakit. Abi benar-benar ikhlas menerima kepergian ummi.

Mahkota untuk Ummi

Hari itu juga ummi disemayamkan. Aku meminta abi untuk duluan pergi dan memberikanku sedikit waktu agar bisa berdua bersama ummi untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya ingin berbincang sebentar dengan ummi di rumah barunya, walaupun aku tahu beliau tak akan mendengarnya.

“Ummi, Allah rindu sama ummi, makanya ummi di panggil. Sekarang, ummi udah gak ngerasa sakit lagi. Maafin Ara yang gak bisa menemani di saat-saat terakhir ummi.” Aku merasa tak sanggup lagi meneruskan kata-kataku. Tanganku tak henti-hentinya mengusap nisan putih bertuliskan nama ummi.

Jika dulu aku bercerita, ummi akan dengan senang hati mendengarkannya dan mengusap jilbab yang menutupi rambutku. Tapi sekarang, akulah yang mengusap ummi, walaupun hanya nisannya. “Ara sudah diwisuda, Ummi. Semua teman Ara didampingi orang tuanya tadi, cuman Ara saja yang hanya didampngi ustazah,” kataku lagi.

“Ummi tunggu Ara, yah. Ara sama abi akan nyusul ummi suatu saat nanti. Ketika nanti kita dikumpulkan lagi, Ara mau memberikan ummi mahkota.” Aku kemudian memasangkan topi togaku di nisan ummi dan mengucapkan salam. InsyaAllah, aku ikhlas. Ini sudah ketetapan Allah, tak ada seorang pun yang mampu menandingi-Nya ketika Ia sudah berkehendak.  

Bagikan
Post a Comment