f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pagi

Pagi Menghilang Ketika Malam Datang

Tak biasanya aku terbiasa sendiri, semenjak kekasihku meninggalkanku pergi. Perginya abadi. Kematian memang tak bisa diajak berdiskusi. Apalagi dinegosiasi. Aku sedih. Aku menjadi wanita penyedih. Dulu aku penyeduh kopi, diteduh dengan kehadiran kekasih. Bersamanya, juga secangkir kopi pahit yang terasa manis, dan satu bungkus rokok, menjadi klop. Waktu itu aku perokok karena cocok. Dia juga tak pernah bercekcok karena aku merokok.

***

“Sebelum ada pagi, di manakah ia berada?” tanyanya.

“Di belahan yang lain,” jawabku polos.

“Lalu, ke mana pagi pergi?”

“Juga di belahan yang lain.”

Dia selalu mengobrolkan hal-hal yang ringan.

Hampir tiap pagi, tapi yang terngiang adalah pagi itu, pagi hari Rabu.

Tiap pagi, usai mentari menggeliat mengelap halimun di daun-daun, gemawan cerah berbaris mengambang di atas nun, burung-burung pagi bertengger di genting untuk berkesiur. Hampir tiap pagi. Mulai jam enam hingga jam delapan. Dua jam kuanggap sepenggal waktu dari sorga yang diluangkan di teras teduhku ini. Aku menyebutnya jadwal harmoni. Tapi, ingatanku dipatri oleh hari Rabu. Rabu itu.

***

Dia baru menganggur, aku masih penganggur—waktu itu. Makan dan minum, serta tetek-bengek hidup, tak tahu siapa yang mengatur. Hidup terasa mengujur mujur. Makanya, dia sering main ke terasku ini, menyambangi bunga melati untuk disirami, walau rumahnya di seberang jalan raya sana, butuh setengah jam untuk tiba.

***

“Na, kenapa ketika malam datang, pagi menjadi hilang?” tanyanya ulang.

Namaku Kirana, baru lulus kuliah. Teman-teman memanggil Ira, tapi hanya dia yang memanggil ‘Na’, panggilan yang membuatku menggigil. Mungkin juga karena perasaanku padanya. Bukankah bunga akan mekar jika kerap disiram?”

Baca Juga  Ketupat Terakhir

“Karena apa ya, rotasi, barangkali.” Aku balas lalu menyeduh kopi yang uapnya meretas ke atas.

“Aku suka barangkali,” ujarnya dibarengi ruap gerombolan asap di bibirnya yang menguap meraup nyala wajahnya.

“Ah! Aku tak tahu maksudmu, Na!” kutangkis apa adanya.

Namanya Laksamana, dulu teman SMA, bekas pekerja yang baru diPHK. Aku juga memanggilnya ‘Na’, seperti dia memanggilku, tapi aku tak tahu apakah panggilan itu membuatnya menggigil, seperti aku yang digigilkan panggilannya, ‘Na’. Sama-sama ‘Na’, jodohkah kita? Hah! Nanananana seperti remangan irama. Hanya perlu seorang komposer yang mengawinkan dengan ilhamnya agar menjadi blok nada.

“Dalam hidup ini cuman kematian yang dapat diketahui pasti hanya dengan dialami,” celetuknya tiba-tiba.

Telingaku seperti terlibas, menjalar ke hati, terasa ditebas, angin menghempas. Daun yang melekat di kembang depan rumah menjadi berdesir, memberi aba-aba pada burung-burung bahwa mereka saatnya diusir, pintu menderit, hendak menutup seluruh.

“Hei jangan melamun,” sergahnya mengagetkan.

“Apa maksudmu dengan kematian, kenapa kau tiba-tiba menyebut kematian?” tanggapku.

“Tidak. Sebenarnya aku hendak mengatakan bahwa aku sekarang sudah dapat pekerjaan. Aku hidup lagi,” lanjutnya, “dan esok pagi aku bergegas kerja lagi.”

“Bagus kalau gitu. Sudah tak menganggur lagi. Cukup aku saja yang menganggur. Akhirnya aku di pagi hari menjadi sepi, tak ada lagi obrolan dan kopi,” balasku.

“Tak apa. Kan kau masih bisa menyimak sepi. Mengobrol dengan diri.”

“Lalu apa yang tadi kau maksud dengan kematian. Ada apa dengan kematian?” kejarku.

“Bukankah kita akan tahu pasti bila mengalami?” jawabnya bertanya.

Obrolan itu masih terpatri rapi di benakku, obrolan Rabu. Tanya dijawab tanya, seperti gunung yang menyuguhkan gema. Selebihnya tak kunyana.

Baca Juga  Merasakan Berbagi Cinta
***

(Tang-tang) … Jam berdentang tujuh kali. Membangunkan lamun yang melarung setahun lalu, hari Rabu.

“Aku berangkat dulu, sayang.” Kata suamiku yang berpamitan kerja.

“Oh iya.”

Keningku terkecup, seperti kuncup tersiram air, bibirnya memandikan lamunan, hidupku jadi segar. Segar yang samar. Aku berusaha tegar. Lalu, bergelepar ulang ke lamunan.

Secepat inikah kehidupan. Rasanya, kematian Laksamana baru sebulan silam. Itu hanya rasa. Nyatanya setahun sudah. Mengingat-ingat dia di teras ini. Obrolan dan kopi. Kini aku mengobrol dengan diri, seperti sarannya. Tak ada lagi yang memanggilku ‘Na’ agar membuatku menggigil. Kematian memang tak adil.

Kini kehidupanku hanya terisi suami yang kerja pagi hingga matahari mengempis. Tak ada yang romantis. Penat rasanya. Berjumpa dengan suami hanya di saat malam. Selain uang, suamiku hidup hanya untuk malam. Hanya malam: ‘pelayanan’. Hidupku tak berarti. Tak ada lagi pagi. Inikah yang dimaksud Laksamana, “Ketika malam datang, pagi menjadi hilang.” Sial. Inilah sesalku. Andai aku dulu tak menolak pernyataan cinta Laksamana, pasti kini dia sepayung seumur hidup denganku, setahun seatap rimbun.

***

Usai obrolan yang tidak obralan itu. Terasa berbeda. Entah apa. Aku dan Laksamana diam menyeduh kopi, menikmati sigaret. Obrolan kami terseret ke sepi. Dia merunduk. Menghadap kakinya, seperti merapalkan mantra. Atau …

“Na, aku cinta dirimu, aku hendak menikahimu,” gerutunya malu.

Dadaku buncah, bibirku kelu. Aku terasa pecah. Pasti mukaku sekarang pucat. Padahal aku merasakan bahwa bunga melati yang ia sirami sudah mekar, tapi tidak saatnya untuk ia petik!

“Maaf. Bukan berarti menolak cintamu. Aku juga mencintaimu. Tapi, aku belum siap menikah.”

***

Lalu, angin seperti minggat. Udara lembap, tubuh terasa pengap. Semua lamat-lamat lindap, hingga lesap. Mukamu semakin merunduk, kempis. Kutahu bahwa jawabanku itu amat mengiris. Atau, itu memalu hatimu. Tapi harus kuutarakan jujur kalau aku belum siap.
Hanya lesap. Hampir setengah jam, mulai jam tujuh hingga setengah delapan. Kita cuman mempercakapkan lengang, bertatapan lindang.

Baca Juga  Ayah: Sosok Pelindung Telah Kembali

Lalu, masih setengah delapan kau pamit pulang. Tak biasanya. “Aku pulang dulu, Na.” Itu bincang yang memungkasi pagi, setelah palu hakim memutuskan kau ditolak. Suara pamitmu parau, tubuhmu seperti daun yang desau, matamu sayu hampir lelehkan sedu. Harusnya kau pulang jam delapan, atas nama kebiasaan. Hanya gara-gara palu keputusan, kau belok dari kebiasaan.

Tak kunyana itu pulangmu. Pulang. Pamit pulang. Pulang ke palung kematian. Kau tertabrak di jalan, kata orang-orang, memang, aku sendiri juga menyaksikan, mayatmu. Aduh! Kematian tak bisa didiskusikan. Harusnya kau pulang jam delapan. Ah! Kenapa kau harus pulang setengah delapan. Kau melawan kebiasaan, melawan kehidupan. Menyambut kematian. Ini karena palu keputusan.

Andai aku tahu itu, aduh! Akan kuterima cintamu, Laksamana. “Iya. Aku mau kau nikahi.” Keputusan hakim mesti mendapat revisi agar kau tak pulang setengah delapan. Tak pulang ke keabadian. Dan kau, kini sudah “mengalami dengan pasti”, persis seperti celotehmu Rabu itu. Sialnya nasib!

Kenapa aku harus menikah dengan suamiku yang hanya tahu malam, hanya tahu pelayanan. Aku ingin pagi. Ke mana pagi menghilang ketika malam datang?

Bagikan
Post a Comment