f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pandemi

Siti Noordjannah Djohantini: Perempuan Lolos Uji Ketangguhan Masa Krisis

Pandemi menjadi arena menguji ketangguhan umat manusia, termasuk salah satunya perempuan. Uji ketangguhan ini bukan berarti semua perempuan sudah kuat dengan sendirinya, yang berarti tantangan seperti apapun mampu teratasi. Namun juga tidak membuktikan bahwa perempuan itu lemah. Justru sebaliknya, perempuan diuji karena harus menghadapi dinamika tantangan yang sedemikian rupa selama pandemi dengan kadar kekuatannya masing-masing. Tantangan inilah yang pada akhirnya akan menjawab bagaimana tingkat ketangguhan perempuan dalam menghadapi krisis.

Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak covid. Perempuan khususnya, harus menghadapi tantangan baik di ruang domestik maupun publik. Di ruang domestik, beban rumah menjadi semakin berat karena banyaknya pekerjaan rumah sebagai konsekuensi kebijakan PSBB dan WFH dari pemerintah.

Tidak hanya pekerjaan rumah tangga, namun urusan pendampingan belajar anak pun menjadi tanggung jawab perempuan. Hal ini tentu menemui banyak kendala. Mulai dari hal-hal yang bersifat childcare seperti pendampingan dan pengawasan belajar anak, hingga hal-hal yang bersifat teknis seperti minimnya pembiayaan dan akses terhadap IT.

***

Masalah ini menjadi lebih serius karena Komnas Perempuan telah mencatat meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) selama pandemi. Pandemi telah memberikan masa-masa sulit untuk mencari nafkah, sehingga banyak perempuan yang menjadi “samsak” emosi pasangan mereka. Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah lelah mengurus rumah tangga dan mendampingi anak, masih mendapat kekerasan. Ini baru tantangan domestik saja.

Sementara di ruang publik, WHO melaporkan bahwa 70% tenaga kesehatan di dunia terdominasi oleh perempuan. Dengan demikian, perempuan menjadi kelompok yang paling banyak berada di garda terdepan selama pandemi. Berada di zona dengan resiko penularan tertinggi menjadi konsekuensi para tenaga kesehatan. Banyak yang akhirnya tumbang karena terpapar virus maupun kelelahan.

Baca Juga  Kreativitas Tanpa Batas Menembus Tembok yang Kokoh

Bayangkan para perempuan yang menjadi tenaga kesehatan dan masih memiliki tanggung jawab di keluarga. Belum lagi perempuan hamil di masa pandemi, di mana mereka harus memeriksakan diri ke rumah sakit atau klinik, namun di satu sisi harus sangat berhati-hati terhadap keselamatan diri. Bahkan tidak bisa kita katakan beban ganda lagi. Namun beban yang lebih multidimensional; beban publik, domestik, fisik, psikologis, dan lain-lain. Dan jika kondisi ini tidak terkelola dengan baik, juga tidak adanya kerja sama dari pasangan, maka perempuan dapat mengalami stress dan kelelahan.

Tidak hanya dari sektor kesehatan, sektor ekonomi pun juga memberikan dampak terhadap perempuan. Pandemi telah menambah angka kemiskinan karena banyak sektor usaha yang kolaps, maka banyak terjadi PHK. Menurunnya pendapatan juga minimnya keterampilan yang dimiliki seperti memberikan jalan buntu. Sementara secara psikologis, beban keluarga yang berlebih menyebabkan produktivitas perempuan menurun sehingga mempengaruhi pekerjaan.

***

Tantangan di ruang domestik juga publik memberikan pukulan ganda bagi perempuan dalam satu waktu. Namun meskipun demikian, banyak perempuan yang bangkit berdiri untuk mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Seperti mulai menginisiasi aktivitas ekonomi dari rumah dengan segala kendala yang ada, berupaya adaptif terhadap kondisi pandemi.

Perempuan memiliki daya tahan yang tinggi untuk berupaya memenuhi kebutuhan rumah tangga. Juga memiliki sikap welas asih untuk merawat dan melindungi anggota keluarga agar tidak terpapar virus. Ibu adalah penyangga dalam keluarga karena dapat melakukan banyak kegiatan.

Ketangguhan yang perempuan miliki sebenarnya bukan terbentuk karena pandemi, karena perempuan sudah menerima banyak sekali tantangan jauh sebelumnya. Perempuan sudah tangguh sebelum itu. Namun karena perempuan sudah teruji memiliki resiliensi yang lebih baik untuk menghadapi rasa sakit dan kesulitan di berbagai kesempatan.

Baca Juga  Childfree: Pemahaman Tentang Kodrat (Sebuah Refleksi)

Pandemi ini telah menambah penderitaan itu, namun juga melahirkan perempuan-perempuan yang jauh lebih kuat untuk menghadapi tantangan yang lebih besar. Sehingga wajib hukumnya perempuan memperoleh akses seluas-luasnya untuk mengembangkan kapasitas dan keterampilan sebagai modal utama menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks di masa mendatang.

Siapa yang tahu, jika di suatu hari terdapat krisis kemanusiaan yang lebih rumit dan multidimensional lagi —belajar dari ketangguhan perempuan menghadapi tantangan pandemi ini— perempuan bisa menjadi penolong yang berdiri di garda terdepan.

***

*) tulisan disarikan dari Pidato Iftitah Tanwir Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah oleh Ketua Umum ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, dengan ditambahkan elaborasi dari penulis.

Bagikan
Post a Comment