f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
syukur

Bersyukur Dulu, Bahagia Kemudian

Tidak mudah menjalani kehidupan tanpa sibuk dengan berbagai pikiran; apa saja yang belum kita miliki,  apa yang masih kurang. Tanpa sadar, seringkali membiarkan diri untuk lupa bersyukur kepada Maha Pemberi. Meskipun Allah sudah memberikan begitu banyak nikmat-Nya, tetapi yang menerima tetap saja merasa kekurangan.

Kita yang bernama manusia ini, beranggapan berlebihan dalam segala hal adalah hal biasa. Istilah “rumput tetangga lebih hijau” seolah-olah sedang mencerminkan penyakit tak kasat mata yang menjangkiti kejiwaan manusia. Kata-kata negatif yang dikira sepele; “Andai saja, kehidupanku enak seperti dia.” Meracuni jiwa untuk berpikiran sempit terhadap nikmat-Nya. Sengaja ataupun tidak,  kita sudah membiarkan diri  menjadi pihak antagonis yang menjatuhkan mental sendiri.

Imbasnya, waktu lebih banyak memikirkan hal-hal yang membuat kurang bersyukur. Allah tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa perencanaan yang tepat. Dia lebih mengetahui mudharat apa yang akan terjadi jika memberikan semuanya sekaligus. Kekurangan di mata manusia, sebenarnya adalah bentuk penjagaan Allah terhadap kita.

***

Allah lebih mengetahui sekuat apa mental makhluk-Nya dalam menghadapi fitnah dunia. Dalam surat Al-baqarah ayat 216 “… Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Memiliki sifat qanaah adalah keharusan bagi orang-orang yang memiliki keimanan dalam hatinya.  Secara bahasa, qana’ah  memiliki arti merasa cukup atau rela. Sedangkan, jika secara istilah, qanaah mempunyai makna merasa cukup serta rela menerima pemberian Allah SWT. Lawan dari sifat qana’ah adalah tamak, di dalam KBBI tamak memiliki arti selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri.

Sebanyak apapun yang manusia miliki, tidak akan pernah membuat jiwanya merasa cukup. Apabila tidak berbekal ilmu tentang qana’ah, keinginan untuk meraih hal-hal duniawi tidak akan pernah ada habisnya. Nikmat-nikmat Allah tidak bisa terhitung secara sempurna, sekalipun memakai rumus hitungan para ahli matematika terhebat di dunia.

Baca Juga  Bekerja sebagai Ibadah
***

Kita harus mensyukuri pemberian dan fokus pada apa yang  bermanfaat untuk kehidupan. Buatlah mindset bahwa skenario Allah jauh lebih indah dari rancangan hidup manusia. Apa yang sudah kita miliki saat ini dan tidak merupakan kehendak Allah.

Tidak akan berkurang sama sekali kekayaan Allah, walaupun kita tidak mau bersyukur atas pemberian-Nya. Allah tidak pernah membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Justru sebaliknya, kita yang selalu membutuhkan Allah dalam segala urusan.

Surat Luqman  ayat 12, “ Dan sungguh, telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.”

Apabila membiarkan diri terus-menerus merasa  kekurangan, tanpa sadar akan menumbuhkan bibit-bibit hasad kepada yang diberi kelebihan nikmat oleh Allah. Kita harus berhati-hati, ini sama saja artinya kita sedang menantang Allah yang memang berhak untuk memberikan kepada siapapun dikehendaki-Nya.

***

Bukankah takaran Allah tidak pernah salah? Lantas, mengapa kita masih ragu terhadap perhitungan Allah dan tetap merasa cemas?. Dalam surat An-nisa’ ayat 32 Allah berfirman, “ Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain…”

Sebelum pandemi, kondisi kita dalam keadaan kekurangan dan bisa  bersikap qana’ah terhadap pemberian Allah. Qadarullah, di masa pandemi ini kita semakin kekurangan dalam urusan materi. Berhadapan dengan kehilangan pekerjaan, tabungan yang menipis, dan juga berbagai hal lainnya yang menghimpit hati dan pikiran. Masihkah kita sanggup untuk bersikap qana’ah dan berlapang dada untuk selalu bersyukur kepada Allah?.

Sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita mengetahui bahwa rezeki  bukan hanya sekedar nilai angka dan harta benda. Apakah pantas kita hanya bersyukur saat kelapangan saja, dan ketika perut kelaparan rasa syukur itu menjadi lenyap dari jiwa?.

Baca Juga  Sepuluh Tahun Pernikahan dan Insecure, Emang Enak ?!

Dalam hadits yang diriwiyatkan Ibnu Hibban no.685, Al-Hakim no.7929, dishahihkan Albani dalam shahih At-Targhib no.827 “Apakah kalian menyangka kefakiran itu adalah kekurangan harta?” Abu Dzar menjawab: “Iya wahai Rasulullah” Beliau bersabda : “Sesungguhnya kekayaan hakiki itulah kekayaan hati, dan kefakiran itu adalah kefakiran hati.”

Dari hadits tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa sebenarnya yang menentukan miskin atau kaya itu adalah jiwa. Mari kita bermuhasabah diri, mencari tahu seperti apa keadaan hati saat ini. Apabila merasakan jiwa selalu merasa kurang terhadap perkara duniawi, sepertinya hubungan kita dengan Allah harus segera diperbaiki. Penting sekali untuk mengoreksi  kualitas ibadah wajib, zikir pagi-petang, tilawah qur’an, serta doa-doa kita kepada Allah.

***

Rasulullah ﷺ berkata kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu‘anhu sambil memegang tangannya, “Demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau tinggalkan pada akhir shalat (sebelum salam) mengucap doa:

اللهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وشُكْرِكَ وحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Daud no. 1522; Ahmad no. 22119)

Mewujudkan semua keinginan mungkin akan menciptakan kebahagiaan. Tetapi, tidak semua yang kita inginkan akan diberikan oleh Allah. Jika kita bersyukur dan menerima pemberian Allah, maka tidak ada cela untuk  hasad kepada orang lain. Lebih baik memfokuskan diri kepada apa yang bermanfaat untuk hidup. Selalu mengatakan kepada diri sendiri bahwa rencana manusia kalah hebat dengan apa yang sudah dituliskan oleh Allah.

 Level bersyukur haruslah tetap sama ketika berada di rumah yang lapang maupun sempit, dompet penuh ataupun kosong. Dengan bersyukur dalam setiap kondisi apapun, akan membuat jiwa selalu lapang dan bahagia. Jangan lupa, untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah. Berdoalah, agar terhindar dari penyakit “jiwa miskin yang meronta”.

Bagikan
Post a Comment