Bermain Tarik Ulur dengan Keinginan Anak
Momen lebaran kemarin menyisakan beberapa cerita yang sempat terekam di kepala. Yang paling membekas adalah ihwal merajuknya Bebe, anak saya yang berusia 22 bulan. Ketika bersilaturahmi, dia selalu merajuk tiap kali menjumpai permen dan minuman kemasan berperisa di meja tetangga. Inginnya makan permen lagi dan lagi. Minum minuman berperisa lagi dan lagi. Tak jarang sampai tantrum, bergulung-gulung di lantai.
Si pemilik rumah sih tidak keberatan jajanannya dimakan tamunya dalam jumlah berapapun. Apalagi jika yang menghabiskan itu seorang batita, mereka malah gembira. Tak jarang si tuan rumah membujuk saya agar membebaskan Bebe memakannya, daripada dia menangis. Los dhol lah pokoknya.
Saya mafhum bahwa hampir semua batita menggemari permen, juga minuman kemasan berperisa. Tak terkecuali Bebe. Dan saya bukannya melarang Bebe untuk mengkonsumsinya. Yang saya lakukan adalah memberi batasan konsumsi. Semacam permainan tarik-ulur agar tidak berlebihan.
Saya percaya bahwa semua yang berlebihan akan menimbulkan efek yang kurang baik. Permen dan minuman kemasan berperisa tentunya mengandung zat aditif yang kurang baik untuk anak usia batita. Jika dikonsumsi secara berlebihan bisa menyebabkan sakit, yang paling sering adalah batuk.
Sakit fisik karena konsumsi yang berlebihan tadi adalah satu hal dan tampak jelas oleh mata kepala. Namun masih ada hal lain yang mungkin luput dari pengamatan kita, yaitu efeknya terhadap perkembangan mental si kecil. How can? Ya, Anak yang terbiasa berlebihan dalam berbagai hal akan tumbuh layaknya layang-layang yang putus dari benangnya.
***
Saya sering mengibaratkan mendidik anak dengan permainan layang-layang. Dalam menerbangkan layang-layang selalu ada waktu untuk menarik maupun mengulur benang. Fase tarik dan ulur ini sama pentingnya, demi bisa terbangnya layang-layang. Kita perlu mengasah feeling agar tahu kapan waktunya mengulur dan kapan mesti menarik benang.
Jika kita terlalu sering menarik benang maka layang-layang tak kan pernah terbang tinggi. Ia hanya akan menjadi layang-layang medioker yang cuma bisa berkelebat di atas kepala. Pun mustahil untuk selalu mengulur dan mengulur. Perlu kita ingat, benang di gulungan memiliki batas panjang.
Bagaimana halnya tarik ulur keinginan anak? Ketika si kecil ingin permen (atau apapun) pertama, silakan diberikan. Dia juga perlu mengetahui rasanya permen kan? Jika dia masih menginginkan permen untuk yang kedua kalinya, juga tidak mengapa. Di fase ini kita sedang mengulur. Tapi begitu dia mau yang ketiga, kita mulai masuk fase tarik. Kita bisa memberi dia permen ketiga dengan sebuah peringatan: “Ini yang terakhir ya nak, kamu boleh minta lagi besok.” Dan jika si kecil tetap ngeyel minta lagi, you know what to do. Tarik, jangan kasih kendor.
Kita bisa menerapkan trik tarik ulur tersebut untuk semua keinginan anak, tidak hanya terpaku pada permen, minuman berperisa ataupun coklat saja. Bisa dalam hal membeli mainan, menerapkan jam bermain, menerapkan waktu penggunaan gadget, dan hal-hal lainnya.
***
Perihal memberi batasan untuk anak ini saya punya sebuah contoh buruk. Tidak jauh-jauh, contoh itu ada pada keponakan saya sendiri, sebut saja si Boy. Sejak bayi si Boy terbiasa dituruti segala keinginannya. Tidak ada larangan untuk urusan jajan. Tidak ada batasan dalam membeli mainan. Pun tak ada batas waktu dalam bermain. Alasan si Ibu terdengar klise: “Turuti saja, daripada menangis. Toh dia masih kecil.” Diulur dan diulur terus, pantang untuk menarik benang.
Seiring berjalannya waktu, si Boy tumbuh menjadi anak yang sulit memahami batasan. Uang jajan harus selalu tersedia, kapanpun dia mau. Membeli mainan baru hampir setiap minggu. Segala yang dia inginkan pantang tertunda. Dia tidak bisa memahami bahwa sumber daya (uang) orang tua ada batasnya.
Memasuki SD dia semakin menjadi-jadi. Membeli jajan tanpa ukuran. Membeli mainan juga setiap hari, tanpa peduli harga mainan tersebut. Jika tidak keturutan, dia akan marah-marah. Ngeluyur dan bermain juga tanpa batasan. Jika dilarang oleh orang tuanya dia sudah berani membantah. Akibatnya urusan sekolah dan belajar jarang terpikirkan.
Kini di usia remaja (kelas 2 SMP), si Boy layaknya layang-layang yang putus benang. Begadang hampir setiap malam, tentu dengan lingkaran pergaulan yang lebih dewasa. Di masa pembelajaran daring tak pernah satu kalipun mengerjakan tugas. Fungsi smartphone baginya hanya untuk main game online dan menonton youtube saja.
Apalagi kini, memasuki masa pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) dia semakin enggan masuk sekolah. Kerap kali wali kelas atau guru BK haru datang ke rumah sekedar untuk membangunkan si Boy dan membujuknya untuk berangkat sekolah. Mengangankan dia bisa lulus SMP saja sepertinya menjadi hal yang mustahil. Saya sungguh ngeri jika membayangkan si kecil Bebe kelak tumbuh seperti itu. Naudzubillah.
Ayah, Bunda, dalam permainan layang-layang apa yang bisa kita lakukan ketika benang di gulungan telah mentok? Sedangkan angin masih ingin menerbangkan si layang-layang lebih dan lebih tinggi lagi?
Full time daddy & part time teacher,

Rois Pakne Sekar
Eh, ternyata ditayang ya..
Matur nuwun.
Fenty
Pertanyaan di akhir bikin merenung..
Tetap pegang talinya, tapi ikuti alurnya angin. Tarik balik saat diperlukan. Begitu kah, Sensei?
Rois Pakne Sekar
Itu pertanyaan retoris, Bunda 🤭