f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
spiritual entrepreneurship

Spiritual Entrepreneurship Sebagai Pijakan Wirausaha

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Data menyebutkan bahwa jumlah penduduk yang beragama Islam pada tahun 2019 berjumlah 227,23 juta jiwa atau setara dengan 12,6% dari total populasi Muslim di dunia. Hal itu menjadikan Indonesia memiliki potensi pasar yang besar terhadap perkembangan industri Halal.

Merujuk pada laporan ekonomi Islam atau industri halal dunia pada 2019 oleh Dinar Standard. Indonesia menempati urutan kelima sebagai negara dengan perkembangan industri halal yang cukup pesat. Di mana tahun sebelumnya Indonesia mampu menempati urutan ke sepuluh (State of the Global Islamic Economy Report 2019/2020).

Melajunya peringkat Indonesia tidak terlepas dari peran pemerintah, melalui KNKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah) dan Bappenas yang mengeluarkan masterplan Ekonomi Syariah 2019-2024. Yang memiliki harapan akan mendorong penguatan ekosistem industri halal di Indonesia. Artinya penguatan hadirnya industri halal tersebut membutuhkan penguatan pula dari banyak pihak, baik itu pengusaha, masyarakat dan pemerintah.

Apa Itu Industri Halal?

Mengkaji lebih lanjut tentang fenomena tersebut, Mari mulai bahasan dari apa itu Industri Halal? Industri Halal adalah kegiatan mengolah barang atau jasa dengan menggunakan cara dan peralatan yang sesuai dengan Syariah. Saat ini produk dan industri halal telah menjadi gaya hidup (Lifestyle) bagi masyarakat Muslim. Makin tingginya kesadaran dalam membangun kegiatan usaha yang baik sejalan pula dengan bagaimana pola konsumsi, produksi dan distribusi (pemasaran) yang baik pula.

Sebagaimana dalam sebuah Hadis Riwayat Hakim menyebutkan, “Usaha apakah yang paling baik? Rasulullah menjawab, kegiatan usaha dengan tangannya sendiri (Wirausaha) dan setiap jual beli yang baik.” Dikuatkan lagi dari Hadis Riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda bahwa, “Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki hamba yang saleh.”

Baca Juga  Sertifikasi Halal Produk Non-Makanan, Perlukah?

Semua berpijak dari kesadaran bahwa semua aspek kehidupan telah ada dalam Islam dan menjadi magnet kebaikan. Mulai dari diri sendiri sampai pada tata masyarakatnya dalam menjalani kehidupan dengan mengacu pada halal lifestyle. Nah, Apa itu halal lifestyle? Lifestyle sendiri merupakan suatu hal yang menunjukkan bagaimana orang hidup, bekerja, pola tingkah lakunya. Bagaimana membelanjakan uang dan bagaimana pula mengalokasikan waktunya.

Perkembangan halal lifestyle saat ini menjadi indikator kebutuhan masyarakat akan produk dan jasa yang halal. Seiring perkembangan Industri berdasar data hasil survey Global Islamic Economy (GIE) potensi industri syariah dan halal secara global pada tahun 2022 berkisar US$3,081 miliar dan pengeluaran Muslim global di seluruh sektor gaya hidup mencapai US$2,1 pada tahun 2017. Menuju upaya penguatan halal lifestyle maka yang kita butuhkan adalah bagaimana seluruh aspek gaya hidup seseorang termasuk dalam kegiatan atau aktivitas yang halal. Minat dalam membelanjakan uangnya untuk makan, minum dan kesenangan lainnya secara halal dan bagaimana pula mengalokasikan waktu juga secara halal.

Membangun Halal Lifestyle Bagi Wirausaha

Konsep halal lifestyle sendiri dapat mencakup beberapa sektor baik jasa maupun produk di antaranya jasa perjalanan, makanan dan minuman, pendidikan, obat dan kesehatan, media & rekreasi, kosmetik, fashion, dan medical care & wellness. Realitas yang hadir saat ini menjadi kebutuhan dalam menyiapkan penguatan halal lifestyle kehidupan wirausaha. Semuanya mulai dari diri sendiri sebagai model.

Sebagai contoh, menjadi produsen suatu produk maka harus memastikan adanya sertifikasi halal sebagai bentuk penjaminan dari produk yang ia ciptakan. Sebagaimana sesuai dengan UU No. 33 tahun 2014 yang mana aturan ini masih berlanjut sampai tahun 2024 tentang sertifikasi halal produk makanan dan minuman. Sehingga konsumen juga merasakan aman dan yakin dalam mengkonsumsi produk halal. Mencipta kepercayaan antara produsen dan konsumen menjadi kebutuhan tidak sekedar keperluan. Adanya label halal juga menjadi suatu kewajiban/ kebutuhan agar produk terjamin.

Baca Juga  Persepsi Emosi dalam Suara Manusia

Maka dari itu perlu adanya spiritual entrepreneurship (SE) dengan ciri-ciri berikut: Pertama, seorang wirausaha memiliki etos kerja dengan kerja kerasnya agar menjalankan pola hidup disiplin waktu dalam beribadah, bekerja dan berwirausaha sebagaimana dalam HR Tirmidzi mengatakan bahwa Allah SWT mencintai Muslim yang giat bekerja. Kedua, wirausaha bekerja dengan niatan tidak hanya untuk bekal mencari kehidupan dunia semata namun kehidupan akhirat sehingga giatnya bekerja tersebut mendapatkan kebarokahan dari rejeki yang ia dapatkan.

Ketiga, bekerja dengan menggunakan kecerdasan akal yang mampu membekali manusia menjaga ketaatan dalam perilaku yang berasal dari pikiran baik dan kejernihan hati yang didapat dari ilmu, pengetahuan maupun pengalaman. Keempat, Menyadari bahwa sebagai khalifah menanamkan nilai untuk diaktualisasikan dalam segenap gerak kehidupan.

***

Dari keempat pijakan tersebut wirausaha dapat membangun habit/kebiasaan dari pola hidup halal. Mulai dari diri sendiri sebagai model untuk berperan baik sekaligus sebagai pengambil kebijakan yang baik pula. Selain itu penting pula terdapat penguatan riset untuk menganalisa perkembangan dari halal lifestyle baik menyangkut produksi, konsumsi maupun distribusi produk maupun jasa. Seperti kebutuhan adanya pengetahuan mengenai wisata halal, kuliner halal dan hal terkait lainnya.

Adanya spiritual entrepreneurship mampu mewujudkan keseimbangan yang harmonis dalam beraktivitas kewirausahaan. Upaya menuju terciptanya halal lifestyle terwujud dari kemampuan wirausaha/pelaku usaha dalam mengelola usaha melalui sikap dan pengambilan keputusan-keputusan berlandaskan kecerdasan spiritual. Halal lifestyle tercipta dengan hadirnya keempat pijakan penciri dalam spiritual entrepreneurship. Sehingga aktualisasi berupa tindakan/ sikap menjadi cerminan dari penerapan nilai yang terintegrasi dari setiap muslim (wirausaha) dalam menjalani kehidupan. Semoga…

Bagikan
Post a Comment