f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
silver

Memotret Jogja dari Manusia Silver

Kilap itu berasal dari tubuh manusia, sekujur tubuh yang terlumuri cat berwarna silver. Mereka menjalankan aktivitas itu dengan modal rata-rata Rp.50.000 untuk mendapatkan rerata untuk Rp.100.000 dalam sehari. Mereka mengendap-endap menghampiri pengendara di lampu lalu lintas sambil berharap memperoleh beberapa rupiah. Kita lalu mengenal banyak orang ini dengan sebutan manusia silver (silver man). Mereka melakukan kegiatan ini berulang-ulang, bahannya adalah cat yang mereka campurkan dengan minyak goreng.

Bila handai taulan hendak melihatnya, anda bisa mengamatinya di banyak perempatan lampu lalu lintas. Pekerjaan ini tidak saja berlaku pada anak muda yang menganggur, kadang pula juga pada orang tua yang kehilangan pekerjaan. Apalagi setelah pandemi Covid itu membunuh perekonomian masyarakat. Bagi mereka, sekerdil apapun pemberian dari pengendara, adalah rezeki halal yang mesti mereka sambut. Setidaknya bisa menegakkan leher beberapa waktu.

Tiap hari, demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah, manusia silver berkali-kali mengecat tubuhnya sendiri. Untuk membersihkan batang tubuhnya setelah berjam-jam di bawah terik matahari, mereka membersihkan dengan sabun pencuci piring. Mereka menganggap kegiatan ini sebagai pekerjaan setelah sebelumnya mencari penghasilan lewat mengamen, bengkel dan lainnya.

*

Pekerjaan itu bagi manusia silver adalah bentuk lain dari mencari rezeki yang halal. Kegiatan tersebut berlangsung dengan bayang-bayang Satpol PP yang tetiba waktu dapat saja menyisir mereka di jalan. Catatan ini tidak berada dalam diskursus apakah menjadi manusia silver itu baik atau buruk, salah atau benar, saya memandangnya dari aspek yang lain.

Fenomena manusia silver bukan fakta yang begitu saja ada, ia adalah dampak dari rentetan sebab yang menemaninya. Musabab paling utama tentu kebutuhan ekonomi yang mendesak. Mereka serupa manusia yang akan tenggelam, bila tak segera meraih pelampung. Ia bisa mati sekejab jua. Potret manusia silver adalah gambaran tegas mengenai masalah kita di wilayah ini: kemiskinan perkotaan yang mendesak untuk segera memperoleh penyelesaian!

Baca Juga  Membangun Ketahanan Ekonomi Womenpreneur di Masa Pandemi
Potret Kemiskinan Kota

Setidaknya kemiskinan di kota berdasarkan oleh faktor kurangnya lapangan pekerjaan dan tingginya biaya hidup. Masyarakat kelas bawah yang terdampak secara struktural sering terlempar dari sistem sosial, termarginalkan. Kondisi kian runyam kala tata kelola ekonomi dari pemerintah tak dapat menyerap tenaga kerja yang banyak ke dalam sektor ekonomi masyarakat.

Hal lain yang menjadi masalah ialah rendahnya kreativitas dan inovasi masyarakat dalam membangun ekonominya sendiri. Bila demikian adanya, masyarakat kelas bawah akan selalu terbayangi oleh kemiskinan. Demikian akhirnya mereka memilih jalan ringkas: mengecat tubuh mereka sambil berharap mendapatkan belas kasih dari pengendara di jalan.

Bantuan sosial dari pemerintah pula seringkali tidak tepat sasaran. Banyak orang mapan meraih bantuan dan tak sedikit dari kaum miskin tak terjamah bantuan. Ini akibat dari pendataan pemerintah yang acap tidak valid dan kredibel, dalam bahasa penelitian hal ini adalah inclussion error dan ekslussion error.

*

Setelah wabah pandemi merebak, kemiskinan kota meningkat tajam. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, mereka lalu menjadi pengangguran. Dalam kepeningan mencari uang penghidupan itulah, segala daya mereka lakukan.

Potret kemiskinan kota itu terang terlihat di Kota Yogyakarta. Manusia silver secara langsung maupun tidak langsung adalah dampak dari masalah kemiskinan tersebut. Mereka terlempar dari sistem ekonomi yang diakumulasi oleh kelompok menengah ke atas. Sementara kebijakan mengalir tidak tepat arah, tidak ada distribusi kekayaan yang merata. Deru kemiskinan itu kian menakutkan kala mereka yang tinggal di pinggiran kota segera harus tergusur oleh kengerian pembangunan di kota ini.

Mengubah Wajah Jogja

Potret manusia silver di Kota Jogja sebagai dampak dari kemiskinan struktural dan kultural tentu harus diubah. Dan tentu usaha untuk mengubah itu tidak saja berhenti pada penertiban-penertiban Satpol PP di segala penjuru lampu lalu lintas. Di wilayah struktural, pemerintah berkewajiban membangun kebijakan pemerataan ekonomi, logika pertumbuhan ekonomi jangan sampai melupakan usaha untuk melakukan distribusi ekonomi yang merata. Khususnya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Baca Juga  Membuka Pendidikan Darurat di Masa Pandemi

Kebijakan tersebut senada dengan perbaikan di wilayah penelitian dan pendataan, praktis di wilayah implementasi program pengentasan kemiskinan. Usaha untuk mengentaskan kemiskinan tersebut seharusnya pula sepaket dengan upaya melakukan pemberdayaan di masyarakat. Pemberdayaan itu khususnya dalam rangka membangun kreativitas ekonomi masyarakat dalam mencari penghasilan dan penghidupan.

Akhirnya, melihat manusia silver tidak saja bisa dilihat dari segi yang sempit, ia harus ditilik dari banyak sisi, dicandera dari kacamata multiaspek dan diamati dari analisis multifaktor. Kehadiran mereka sesungguhnya adalah akibat dari sistem yang tidak adil, suasana sosial yang mati rasa dan rusaknya tata kelola ekonomi di perkotaan yang berdampak pada tergusurnya mereka dari sentra kehidupan lalu terlempar di pinggiran.

Maka memandang manusia silver tidak cukup dari kacamata belas kasih atau cemoohan belaka. Mereka harus dilihat sebagai bagian dari kita, bagian dari masalah bersama, masalah yang harus dipecahkan secara bersama-sama.

Kerja-kerja mengurangi jurang kemiskinan dan ketimpangan sosial itu adalah kerja kolektif semua pihak; para intelektual, agamawan, pemerintah dan masyarakat secara umum.

Bagikan
Post a Comment