Cerita di Beranda
Seorang lelaki membaca berita di sebuah beranda lini masa.
Seorang pemuka agama mengunggah sebuah gambar sebagai bukti transfer dari seseorang yang tak dikenal yang memberikan sedekah dengan jumlah yang luarbiasa
Pada takarir pemuka agama itu selain mengungkapkan syukur, kabar gembira juga memberitakan bagaimana ia bisa mendapatkan sedekah. Ia hanya rajin memberikan tulisan-tulisan yang mengunggah.
“Saya tidak pernah meminta pada manusia. Saya meminta pada Tuhan. Biar Tuhan yang menggerakan hati para dermawan untuk menyumbangkan sebagian harta miliknya.”
Unggahan pemuka agama itu dikomentari oleh lebih dari seribu umat yang hidup di layar kaca. Dan lebih dari tiga ribu sudah dibagikan. Itu berarti berkali-kali lipat menyebar di sepuluh ribu umat layar kaca.
Seorang lelaki tadi, melalui mulut pemuka agama yang berbentuk huruf di layar kaca, merasa takjub akan keajaiban yang Maha Kuasa.
Ia menitikkan air mata.
Sejurus kemudian di bawahnya ada seorang pengusaha muda yang begitu digandrungi oleh semua umat belia yang baru merintis usaha, juga mengunggah bukti kekosongan rekeningnya karena telah habis untuk sedekah. Di kolom komentar pengusaha muda itu merinci kemana saja hartanya dibelanjakan;
Panti asuhan, pesantren, masjid, dan lain sebagainya.
Pemuka agama dan pengusaha muda tadi bercakap-cakap di kolom komentar. Saling bertukar pujian karena sudah kehabisan harta untuk dibelanjakan pada jalan Tuhan. Pada jalan kebenaran. Untuk mendapat pahala. Berlomba-lomba menjadi manusia bermanfaat.
Lelaki tadi membaca percakapan dua manusia mulia itu melalui gawainya, yang kuotanya diambil secara percuma di samping masjid, dari tetangganya. Matanya sudah tidak lagi ada air mata. Namun hatinya berdarah.
Terbayang anaknya yang pakaiannya sudah tidak jelas ukurannya. Terbayang istrinya yang begitu mengandalkannya. Terbayang orang tuanya yang sudah tiada mungkin mencoba untuk bangga.
Tapi ia ingat ucapan pemuka agama tadi.
“Saya tidak pernah meminta pada manusia. Saya meminta pada Tuhan. Biar Tuhan yang menggerakan hati para dermawan untuk menyumbangkan sebagian harta miliknya.”
Lelaki itu tidak mau meminta-minta karena ia masih mampu bekerja. Maka ia mengerjakan apa yang ia bisa kerjakan. Ia kembali mengunggah pada lini masa miliknya barang jualannya. Berharap ada orang yang membelinya.
Karena ia tak mungkin meminta sedekah pada lini masa miliknya. Ia harus menjadi pemuka agama dulu untuk bisa melakukan itu. Sekarang ia hanya lelaki biasa yang tidak begitu bagus ilmu agamanya, tapi keyakinannya pada bantuan Tuhan masih bagus.
Bapak Rumah Tangga.
Pemilik akun facebook https://web.facebook.com/taufikrahmantedi/
