Menumbuhkan Minat Baca pada Anak

7 menit baca
Teks:
WhatsApp

Rahmania, tanggal 23 April kemarin lalu diperingati sebagai Hari Buku Dunia yang diselenggarakan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Hari buku ini ditujukan untuk mempromosikan membaca, menerbitkan, dan hak cipta ini, pertamakali dirayakan pada 23 April 1995. Pemilihan tanggal 23 April merujuk pada peringatan kematian William Shakespeare dan beberapa penulis lainnya.

Peringatan hari buku ini dapat menjadi kesempatan kita untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca, menumbuhkan minat baca anak-anak mempromosikan untuk mencintai karya sastra serta mengintegrasikannya dalam kehidupan kita. Dalam kesempatan ini, penulis akan membagi pengalaman dalam membesarkan anak dan menumbuhkan minat membaca anak, ditambah dengan berbagai sumber.

Tahapan Membaca Anak
1. Membaca Sejak Kehamilan

Kita sering mendengar nasihat orangtua kepada perempuan hamil untuk membaca Surat Maryam, agar anaknya perempuan, shalehah dan pintar atau Surat Yusuf agar anaknya laki-laki, sholeh dan ganteng. Selain mengandung pesan spiritual agar pasangan yang sedang hamil lebih mendekatkan diri pada Allah, membacakan kitab suci atau buku tidak hanya bermanfaat untuk orang tua tapi juga untuk bayi yang dikandungnya.

Membaca dengan membesarkan suara ditujukan agar ananda mengenali suara ayah dan bundanya. Kita juga bisa mengajaknya mengobrol dan bermain, seperti permainan “tepuk dan jawab”, yaitu tepuk perut satu kali, dan ia dari dalam perut akan membalasnya. Ada buku yang berjudul “Cara Baru Mendidik Anak sejak dalam Kandungan”, karya F. Rene Van De Carr, M.d. terbitan Mizan 1997 yang didalamnya terdapat cara menumbuhkan minat baca anak sejak dalam kandungan, sekaligus memberikan nilai spiritual sejak dini.

2. Usia 0-1,5 tahun

Pada usia ini, membaca lebih ditujukan untuk melatih indra penglihatan dan pendengaran, serta memperkenalkan buku sebagai media interaksi antara orangtua dan anak. Buku yang dibacakan oleh orang tua bisa berupa cerita dengan kalimat sederhana, atau jika ingin mendongeng, buku-buku yang memiliki pesan moral yang baik.

Sedangkan untuk ananda, carilah buku dengan ilustrasi warna primer, bergambar tunggal dan berbentuk jelas. Karena penglihatan pada usia ini masih sebatas gambar tunggal, belum gambar kompleks. Misalkan gambar kucing saja, bukan gambar kucing di tengah hutan. Saat ini sudah tersedia buku bayi yang terbuat dari kain, sehingga bisa dicuci, atau buku dari plastik yang bisa diajak mandi. Dengan metode ini ananda akan terbiasa dengan kehadiran buku di kehidupannya

3. Usia 1,5-3 tahun

Pada usia ini, membaca ditujukan untuk mulai mengajak berpikir kreatif. Carilah buku dengan ilustrasi cerdas dan jenaka serta rangkaian kata yang dapat diucapkan bersama. Buku sebaiknya berhalaman tidak lebih dari 10 lembar, berhuruf besar dengan kalimat yang tertata dan memiliki rima. Seri buku anak Winie The Pooh, memiliki kalimat dan cerita sederhana. Sebaiknya lembaran buku terbuat dari bahan yang tidak mudah lecek atau rusak, yaitu kertas karton tebal atau busa keras.

Selain buku yang mengandung cerita, buku yang bisa diberikan adalah buku yang bertema pengenalan warna dasar. Tugas Ananda adalah mencocokkan kedua bagian sehingga gambar benda dipasangkan dengan warna yang tepat. Buku juga bisa digunakan untuk melatih motorik halusnya, misalkan untuk membuka dan menutup. Ada buku yang didesign untuk bermain mencari dengan membuka satu gambar, menarik atau menggeser gambar atau bermain puzzle. Pada usia ini buku puzzle terdiri dari 4 keping, dan anak akan belajar memasangnya. Jumlah keeping puzzle ditingkatkan sesuai kemampuannya.

4. Usia 3-5 tahun

Pada usia ini, membaca adalah untuk menetapkan fungsi buku sebagai hiburan yang mengasyikkan dan memperluas kosa kata. Pilihlah buku yang mengandung pilihan kata yang baik dan kreatif serta ilustrasi yang menggugah imajinasi. Saat ini juga terdapat buku tiga dimensi (pop-up) yang akan membantu imajinasi dan motorik halusnya. Tehnik membaca orangtua diubah tidak hanya membacakan, tapi memberikan kesempatan pada si anak membacakan buku yang pernah dibacakan atau sengaja menyalahkan nama tokoh atau urutan ceritanya, dan biasanya ananda akan protes atau mengkoreksinya.

Kami selalu teringat, bagaimana anak kami membacakan (ia belum bisa membaca) kisah Frangklin Sayang Ibu, kepada teman-temannya di play group persis seperti gaya, dan intonansi ibunya. Atau ia memainkan boneka tangan, bercerita tentang banjir karena membuang sampah sembarangan, persis seperti bapaknya.

5. Usia 5-8 tahun

Pada usia ini membaca ditujukan untuk memupuk kecintaan membaca. Pilihlah buku dengan tema yang unik serta tokoh yang menarik. Pada usia ini, anak akan penasaran tentang segala sesuatu dan mulai percaya diri untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal yang digemari. Berawal dari film kartun Tintin Pergi ke Bulan, anak kami sangat antusias untuk mengetahui ruang angkasa. Saat itu semua buku tentang ruang angkasa, tata surya, dan astronomi menjadi buku buku yang dipilihnya.

Pada usia ini, kita bisa menerapkan cara membeli buku yaitu 1 buku dipilih anak dan 1 buku dipilih orangtua. Saat di toko buku, biarkan ia membawa sendiri dan membayarnya di kasir. Selain belajar mengantri, membayar sendiri menjadi kebanggaan sendiri untuk ananda

6. Usia 8-12 tahun

Pada usia ini, anak-anak sudah mandiri membaca buku, mulai menyadari emosi dan gagasannya sendiri, haus mengenal wawasan baru dan perlu memperkaya kosa kata dan gaya berbahasanya.

Anak kami lepas dari buku bergambar, ketika sekolahnya setiap pagi menyelenggarakan kegiatan “Reading Time”, dan memiliki pojok buku bacaan di setiap kelasnya. Di pojok kelas disimpan buku yang dibawa masing-masing anak dari rumah, dan dibaca bergantian saat reading time. Ketika ada promosi buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya), karena teman sebayanya membaca KKPK, iapun membacanya, dan kami harus membelikan 3 buku KKPK setiap minggunya. Ini menggambarkan bahwa teman sebaya yang memiliki kegemaran yang sama akan memicu anak-anak untuk giat membaca dan membangun relasi pertemanan melalui buku. Setelah ia bisa membaca tanpa gambar, buku yang dibacanya adalah seri Georges Adventures karya Stephen Hawking. Buku tentang astronomi yang dikemas dalam cerita anak-anak, dan buku yang sangat keren. Pada usia ini, ia juga sudah membaca lengkap seri Harry Potter.

Rahmania, hal lain yang menganggu minat baca anak-anak adalah serbuan manga. Ketika idealnya usia 8 tahun ke atas, anak-anak sudah mengembangkan imajinasinya melalui buku, bukan komik, justru serbuan manga terjadi. Namun, tidak sedikit manga yang baik dalam menjelaskan pengetahuan, contoh seri WHY. Seri WHY menjadi gambaran bagaimana Korea Selatan sangat serius dalam mendidik generasi mudanya. Semua hal diterjemahkan dalam bentuk visual yang mudah dipahami anak.

Pada usia ini, orangtua lebih menjadi mitra membaca dan “penyensor”. Walaupun buku dipilih anak, orangtua yang harus membacanya terlebih dahulu, untuk nilai kami, buku yang diijinkan dibaca adalah tidak mengandung unsure kekerasan, pelecehan terhadap perempuan, pornografi, kebencian dan tata bahasa yang baik. Untuk tata bahasa yang baik, kami mengalah ketika ia gandrung dengan karya Raditya Dhika, yang menurut kami, kalimat dan gaya bahasanya tidak baik, namun ternyata memang terjadi perubahan komunikasi di kalangan anak-anak saat ini.

Kepemilikan Buku, Menabung dan Cara Merawatnya

Rahmania, selain memahami proses kemampuan membaca di setiap tahapan usia anak, dalam proses menanamkan minat membaca, kita juga harus mendidik anak kita akan hak kepemilikan, menabung dan cara merawat buku.

Untuk membangun rasa kepemilikan, berikan tempat khusus untuk buku ananda seperti keranjang, rak buku atau kardus untuk menyimpan buku-bukunya, dan katakan: “Ini Bukumu”, dan di rak lain kita katakan: “Ini Buku Bapak, Ini Buku Ibu”. Dengan mengatakan hal tersebut, maka keputusan atas buku tersebut menjadi otoritasnya, dan walau kita orangtuanya tidak punya hak mencampurinya. Misalkan, ketika ada temannya atau keluarga besar kita bermain ke rumah, menginginkan untuk meminjam buku itu, maka keputusan bukan di kita tapi anak kita. Juga ketika buku sudah menumpuk dan sudah saatnya dikosongkan, biarkan ia yang memilih buku mana dan kepada siapa buku akan diberikan.

Ketika proses memilah buku ini, kami mendapatkan beragam jawaban, “Buku ini masih ingin aku baca !”, padahal ia sudah ratusan kali membacanya atau sudah tidak sesuai dengan usianya. “Buku ini penuh kenangan buatku!”, seperti buku yang diperolehnya dengan menabung atau hadiah seseorang. “Buku ini buat risetku kalau menggambar”, atau “Buku ini nanti untuk anakku!”. Dengan menghormati kepemilikan anak, maka anak akan menghormati milik orangtuanya. Seperti ia tidak akan membaca buku milik ibu atau bapaknya, mengambil uang, atau memakai handphone orang lain.

Jika usia balita, kita bisa menerapkan membeli dua buku setiap bulannya, ketika semakin besar kebutuhannya (tepatnya permintaan) akan semakin banyak. Maka ajari ananda untuk menabung, dan ajak ke toko buku dengan tabungannya. Biarkan ia membayar buku dari uangnya sendiri. Kasir di toko buku yang baik, akan memahami metode ini. Buku pertama yang dibelinya dengan tabungannya sendiri adalah komik Hachiko, Kisah Anjing Yang Setia.

***

Demikian Rahmania pengalaman kami dalam menumbuhkan minat baca ananda. Walau kini, anak kami lebih banyak membaca secara digital, namun kerangka berpikir logis dan mengekplore pengetahuan tetap terjaga. Nikmati hari-hari bersama ananda, dan tidak ada kata “capai “ atau “tidak ada waktu”, karena ia akan menjadi panah yang melesat dari busurnya, dan menjaga peradaban kita.

Bagikan:
Penulis 8 Tulisan

Siti Aminah Tardi

Seorang feminis dan Ibu. Saat ini menjadi Komisioner Komnas Perempuan, tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili Lembaga

Leave a Comment