f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tanpa buku

Tentang Negeri yang Ingin Mencetak Pembelajar Tanpa Buku


Tiap kali mendengar menteri atau pejabat tinggi bicara tentang pendidikan nasional, tentang visi-visi besar pendidikan, hati saya malah jadi sakit. Mereka bicara visi besar pendidikan seolah sekolah-sekolah di negeri ini akan melahirkan anak-anak dan guru pembelajar. Murid dan guru pembelajar. Itu frasa yang kelihatannya sederhana, tidak muluk-muluk. Tapi benarnya hanya kalimatnya saja yang tampak sederhana. Di balik kalimat itu, maknanya sungguh tiada tara beratnya.

Dari yang paling dasar saja. Guru pembelajar dan murid pembelajar itu syaratnya membaca, kan. Apa bisa jadi pembelajar tanpa suka membaca? Tapi coba jawab jujur, bagaimana sih tingkat kemauan dan kemampuan membaca murid maupun guru-guru kita?

Murid dan Perpustakaan

Tiap sekolah ada perpustakaan. Tapi berapa persen anak-anak yang rutin mengakses perpustakaan? Untuk kelas dasar, mereka berminat mendatangi perpustakaan secara mandiri itu ya rasanya masih terlalu muluk-muluk. Mereka yang dari rumah tidak berbekal perkenalan dengan buku, bagaimana mungkin tiba-tiba tertarik masuk perpustakaan. 

Kenapa sih kemauan dan kemampuan membaca ini tidak dipentingkan untuk anak-anak kelas dasar? Selalu saja orang tua yang disalahkan. Lha kalau orang tuanya kenal buku. Kalau tidak? Kalau semua tergantung orang tua, lalu di mana peran sekolah sebagai pemutus rantai kebodohan untuk mereka yang tidak punya orang tua yang bisa mendampingi belajar?

Sebelum pandemi saya sering bertanya pada anak-anak saya yang masih sekolah dasar. Berapa sering mereka masuk perpustakaan sekolah? Pernah meminjam buku? Tidak pernah. Apa bapak atau ibu guru tidak pernah mengajak ke perpustakaan? Ya disuruh sih. Disuruh iya. Ditemani tidak? Dibantu mencari buku-buku yang menarik? Kan ada mbak perpus yang jaga? Malah kadang dijawab perpustakaannya aja jarang buka.

Baca Juga  Tumbuh Kembang Anak Bukan Cuma Urusan Mama

Jawaban anak saya, kira-kira akan sama dengan jawaban saya apabila saya ditanya pas masih kelas dasar dulu. Saya anak yang rajin masuk perpustakaan tapi bukan karena sekolah yang mendorong saya jadi rajin membaca. Memang di rumah saya mainnya sama buku. Lha tapi bagaimana dengan anak-anak yang tidak punya orang tua seperti yang saya punya? Ya mereka jadi anak-anak yang jauh dari buku, kemudian tumbuh jadi orang tua yang tidak kenal buku. Dan tanpa bantuan kekuatan bulan, nggak akan melahirkan anak-anak yang suka membaca.

***

Kenapa sih tidak dibikin jam khusus membaca di kelas dengan didampingi guru terutama untuk kelas dasar sebagai modal utama menjadi pembelajar mandiri? Bukan hanya disuruh membawa buku lalu membaca sendiri-sendiri sementara gurunya sibuk mengerjakan urusan administrasi sekolah maksudnya. Tapi memang menganggap membaca sebagai pelajaran penting. Diberi porsi jam yang layak, benar-benar didekatkan pada buku, dengan dibacakan buku, sehingga mereka yang di rumah tak kenal buku, jadi kenal sama buku. Kalau gurunya diwajibkan membacakan buku, bukan hanya murid tapi guru yang tidak terbiasa membaca akan mulai belajar membaca.

Susah payah membuat menu-menu higher thinking order skill buat apa. Wong membaca saja masih sulit. Ini bukan iklan epilepsi jaman dulu tapi sejujurnya banyak anak-anak Indonesia benar-benar kesulitan membaca. Bisa mengeja kata bukan berarti bisa membaca dengan baik.

Sudahlah Pak, Bu Para Pemangku Kebijakan. Sebelum bicara yang muluk-muluk tentang e-learning-lah, higher order thinking skill-lah, daya saing global-lah, apalah-apalah, plis bereskan dulu urusan membaca ini. Buat skema supaya sekolah menjadi tempat yang bisa diandalkan untuk mendekatkan anak pada aktivitas membaca yang baik. Karena hanya dengan begitu cita-cita pendidikan nasional sebagai pemutus rantai ketertinggalan bisa dimulai. Iya baru akan dimulai. Jalan berikutnya masih panjang dan berliku.

Bagikan
Comments
  • Butet

    Wuah 😍
    Nunggu bukune Mb Nia. 😆

    April 29, 2021
Post a Comment