Mau jadi apa nanti kalau kamu mondok? Di pondok itu ngaji melulu, pelajaran umum kamu bakal ketinggalan dengan teman sebaya kamu, bukan? Ijazah pondok buat apa, kalau bukan buat jadi guru ngaji? Kalau kamu jadi santri, berarti kamu bakal jadi ustaz? Atau mau jadi kiai? Atau malah pengen jadi ulama? Terus kamu mau kerja apa nanti kalau lulus dari pondok?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu ternyata masih menghantui pikiran orang tua hingga sekarang ini. Lebih-lebih orang tua yang tidak memiliki pengalaman menjadi santri. Bahkan, bisa-bisa timbul lebih banyak pertanyaan yang maha galau dan aneh lainnya. Terkadang, itu juga menjadi pikiran si anak, yang dipaksa orang tua masuk ke pondok.
***
Saya memiliki pengalaman menjadi santri. Dan, saya ingin bocorkan rahasia para santri yang masa depannya jauh terarah tinimbang orang biasa. Mereka mampu mematahkan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tadi.
Setelah lulus SD, saya dimasukkan ke pondok oleh orang tua saya. Padahal, saya sudah mengincar SMP favorit di daerah saya. Orang tua saya memiliki pengalaman menjadi santri, meski sebentar. Dan karena mereka merasa gagal, saya harus menanggung nasib untuk melanjutkan perjuangan mereka.
Waktu itu, pikiran saya benar-benar kacau balau menerima keputusan mereka. Sebab, selama di sekolah, saya memiliki nilai yang selalu berada di posisi sepuluh besar, bahkan sering naik ke lima besar, dan pernah juga jaya di tiga besar. Selain itu, teman-teman saya yang nilainya pas-pasan saja mendaftarkan diri ke SMP favorit itu. Saya pikir ini nasib sial.
Lalu, saya masuk pondok dengan brebes mili pada 12 tahun lalu. Di pondok, saya digembleng dengan kajian kitab pagi-siang-sore-malam. Kegiatan ekstrakurikuler cuma kaligrafi, qiraah, hadroh. Sedangkan saya dari kecil suka bermain sepak bola dan voli. Semua hal yang saya sukai harus benar-benar pergi dari hidup saya. Dan saya pun berpikir, saya harus merubah cita-cita dari seorang pengusaha menjadi guru ngaji atau kiai.
***
Selepas boyong dari pondok, saya merasa sial lagi, saya gagal meraih cita-cita menjadi guru ngaji dan kiai. Sekarang, saya harus menjalani aktivitas saya sebagai pengusaha, yang cukup sukses tentunya. Dari sini saya kembali mengulas masa lalu, dan saya harus berterima kasih dengan pondok pesantren, yang membesarkan saya.
Saya baru sadar, selama saya di pondok, saya memiliki banyak sekali teman, ribuan, dan ini sangat membantu dunia kesuksesan saya. Inilah keberuntungan menjadi santri. Dan jalur pertemanan ini memudahkan saya dalam menjalankan setiap usaha yang sedang saya geluti. Hebatnya lagi, saya memiliki teman yang menyebar ke seluruh pelosok negeri dan relasi bisnis ke mereka. Bayangkan, betapa suksesnya saya. Haha.
Relasi bisnis semacam ini membuat kita (baca: para santri) mudah membangun usaha. Apapun usaha kecil kita, dengan relasi besar begini menjadikan bisnis mudah mencapai kata sukses. Saya hanya punya modal pisang, bisa mengolah menjadi berbagai varian bisnis dan dengan mudah menyebarkannya ke pelosok negeri.
Begitupun dengan teman-teman saya di pondok dulu. Teman saya, hanya modal bermain akun media sosial, dia berhasil jadi punya perusahaan pakaian, yang desain dan bahan semua diproduksi sendiri. Ada yang berawal dari ikut konter jualan pulsa, lalu tiga bulan ke depan sudah punya konter sendiri, dan sekarang malah sudah buka cabang.
Teman-teman santri saya tidak ada yang pengangguran. Mereka memiliki pekerjaan. Kita saling komunikasi dan saling membantu dalam berbagai hal, salah satunya usaha atau bisnis. Memang, bisnis tidak diajarkan di pondok. Mentok hanya cerita keren dari Rasulullah Saw yang juga pedangang. Dan teori tanpa praktik, persis seperti pepatah, “pohon tak berbuah”.
***
Ada lagi yang menjadi rahasia sukses santri. Kemandirian. Selain relasi, kemandirian adalah paket lengkap yang diberikan pesantren. Ini jauh lebih penting dari ijazah kelulusan. Apapun usahanya, meski punya relasi, tanpa kemandirian, usaha itu rentan mengalami kegagalan. Atau, paling tidak usaha itu tidak bisa berkembang.
Kita tidak bisa hidup terus menerus mengandalkan orang lain. Ada saat di mana kita harus percaya pada diri sendiri. Makanya, ketika di pondok, kita selalu ditanamkan kalimat, “mulailah dengan dirimu sendiri”. Dulu, ketika di pondok, itu diaplikasikan dengan mencuci baju sendiri, menyapu, membersihkan kamar, dan masih banyak lagi. Kalau tidak disiplin kita bisa kena takziran. Hal sepele itu, akhirnya menjadi pengaruh besar di masa selanjutnya.
Begitulah rahasia santri yang kadang tiba-tiba sukses, tiba-tiba punya mobil mewah, rumah megah, harta berlimpah, dan tentunya istri salehah. Haha. Uang bukan modal utama, tapi relasi pertemanan adalah harta terkaya yang tak dijual toko manapun.
