Refleksi Hari Kartini
Hari Kartini…
Bulan April 2021. Bulan April kedua setelah pandemi. Kartinian tanpa upacara langsung di lapangan sekolah bagi peserta didik. Juga di lapangan depan kantor bagi lembaga pemerintah. Tak ada tradisi Kartinian langsung atau memakai pakaian adat seperti tahun – tahun sebelumnya untuk memeriahkan hari Kartini.
Seperti hari pendidikan dan hari kemerdekaan yang sudah kita lalui tahun lalu, tampaknya Kartinian tahun ini pun masih virtual. Yang jamak kita nanti juga webinar – webinar mengenai peringatan Kartini; termasuk berbagai video edukasi mengenai siapa sosok Ibu Kartini.
Hanung Bramantyo, sutradara terkenal sudah membuat film Kartini dan tayang pada peringatan Hari Kartini 19 April 2017. Ibu Kartini dipeankan oleh Dian Sastrowardoyo. Beragam artis papan atas lain juga membintangi film ini, seperti Reza Rahadian, Christine Hakim, Ayu Sitha, Acha Septriasa dll. Film ini mengena. Dikemas dengan apik untuk memperkenalkan kisah Ibu Kartini ke khalayak modern. Dengan riset yang apik serta penggunaan latar waktu dan tempat kala itu. Bercerita mengenai pernikahan di bawah umur, pendidikan, poligami dan kebebasan berpendapat.
Beberapa hal yang masih cukup relevan hingga saat ini ketika pernikahan di bawah umur masih banyak cerita di daerah. Pendidikan masih jadi isu yang sering ditemui, poligami masih sering diperbincangkan dan kebebasan berpendapat masih membuat beberapa pihak ciut untuk mengutarakan pemikirannya.
Lantas apa yang dapat kita refleksikan pada hari Kartini tahun ini?
Mari membicarakan tentang Ibu Kartini, sosok perempuan yang diangkat sebagai perempuan yang luar biasa. Yang membuka mata kita mengenai emansipasi dan keterlibatan perempuan dalam masyarakat. Ibu Kartini memang hanya salah satu sosok; namun sangat visioner di zamannya.
Seperti mendobrak tradisi agar perempuan tetap berperan dalam masyarakat; sekalipun putri pemimpin; mau keluar dan bermanfaat untuk masyarakatnya. Bercita – cita tinggi untuk pendidikannya dan ingin memajukan daerahnya dengan mempromosikan ukiran Jepara.
Kartini secara tidak langsung terkenal karena tulisan – tulisannya di media Belanda. Media yang hanya bisa dibaca priayi saat itu. Karena tidak semua masyarakatnya paham Bahasa Belanda. Ia mau untuk turun langsung mengajar Bahasa Belanda kepada anak – anak di sekitarnya; setelah mengetahui potret menikah muda yang terjadi yang membuat perempuan tidak bisa mengenyam pendidikan.
Kartini begitu antusias bertemu seorang ulama yang mengajarkan Al-Qur’an. Kemudian menanyakan apakah beliau tidak mau membukukan tulisan dan ajarannya; kemudian dijawab bahwa sedang diusahakan.
Kartini merupakan awal simbol perubahan.
Ada yang mengawali tentu saja untuk perubahan. Didukung ayahnya, saudaranya dan akhirnya bertemu suami yang juga mendukungnya. Kisah di film ini mungkin dibumbui drama supaya menarik meski saya yakin ada riset mendalam di baliknya.
Tapi penceritaan bagaimana Kartini muda bertemu dengan keluarga Belanda yang terus memupuk jiwa menulisnya, juga bersapen (istilah zaman dahulu untuk surat menyurat) dengan temannya dari Belanda yang juga aktivis perempuan ternyata menguatkannya untuk terus maju meski tradisi dan pertentangan sekitar cukup alot dan berat untuknya.
Film ini menurut saya cukup baik menerjemahkan kisah Ibu Kartini dalam versi yang akan lebih banyak dilirik daripada sekedar buku teks atau artikel. Dan cukup berhasil meraih jumlah penonton yang mengalahkan film mainstream saat itu.
Di zaman modern seperti ini, meski perempuan lebih banyak menduduki kelas di perkuliahan daripada laki – laki; dan berbagai riset yang mengatakan perempuan lebih ulet dan tekun dalam belajar. Beragam pemikiran yang masih mengekang perempuan juga masih sering kita dengar di masyarakat kita. Perdebatan perempuan bekerja atau tidak. Menikah muda atau di usia matang. Dan baru – baru ini mengenai biaya memiliki anak yang mahal.
Semakin kompleks dan semakin panjang.
Orang – orang dahulu padahal selalu berpikir sesederhana tiap anak sudah ada rezekinya. Menikah ya kalau sudah ketemu jodohnya menikah. Tapi pemikiran perempuan sebagai kanca wingking yang hanya di belakang yang tugasnya dapur sumur kasur juga masih ada.
Para aktivis perempuan dan kesetaraan gender sering mengutarakan mengenai ini. Dan kembali lagi, hal itu bergantung masing – masing perempuannya dan bagaimana kesadaran suami serta lingkungan dan keluarganya.
Kita tentu tidak bisa memaksa seorang perempuan berkeluarga harus tetap di rumah padahal suaminya sakit dan dia juga harus membiayai ayah dan anaknya yang tinggal bersamanya. Kita juga tidak harus menuntut perempuan dengan gelar S berderet atau mempunyai pengalaman kerja lebih dari 19 tahun untuk berkarir di luar sementara anaknya mempunyai kebutuhan khusus dan butuh perhatiannya.
Keputusan perempuan dengan segala konsekuensinya bisa jadi jalan untuknya beribadah dan berperan meski dari skala kecilnya dahulu yaitu keluarga.
Hari Kartini tahun ini yaitu 21 4 21 (21 April 2021) jatuh hari Rabu di bulan Ramadhan.
Rasa – rasanya tidak cocok jadi tanggal pernikahan. Tapi terlepas dari itu semoga kita bisa menjadi Kartini – Kartini masa kini dan depan.
Dengan berbagai kompetensi dan keadaan kita saat ini. Berkontribusi untuk masyarakat, untuk umat dan skala kecil kita, keluarga. Karena Kartini cerminan perempuan.
Wirausaha yang sedang menempuh S2 di salah satu perguruan tinggi keguruan di Yogyakarta. Tertarik dengan dunia kepenulisan sejak lama dan pernah menjadi reporter Humas Fakultas saat S1. Suka memperhatikan hal – hal sekitar dan menuangkannya menjadi ide
