Cari Jodoh Kayak Cari Jarum di Tumpukan Jerami ?
Perhari ini, kalau kita liat-liat saya rasa menikah telah menjadi sebuah ajang. Ajang bahwa seseorang ini telah mempunyai pasangan hidup. Ajang bahwa dia tidak telat menikah atau bahkan menikah muda. Dan juga ajang bahwa seseorang telah mapan dalam finansialnya sehingga bisa menikah bahkan alhamdulillah dalam kemewahan. Bisa juga menjadi ajang untuk menampilkan kebucinannnya di social media. Beragam pikiran yang tiap orang berikan ketika terlintas kata menikah.
Saya tidak akan membahas hal di atas lebih lanjut. Pertanyaannya, sudah sampai mana usaha kita untuk mendapatkan jodoh yang katanya ingin yang terbaik dari Tuhan? Sudah yakinkah bahwa diri ini telah menerima konsekuensi menikah itu sendiri? Jangan-jangan, menikah dan mencari jodoh itu diniatkan hanya agar bisa melampiaskan cintanya dan berpikir akan bisa terus-terusan bahagia karena sudah halal. Stop, jangan menaruh harap seperti itu kepada manusia. Manusia itu banyak kecewanya. Maka dari itu, kita sudah harus benar-benar paham akan konsep menikah itu sendiri serta sudah matangkah persiapan kita terkait itu.
***
Menikah itu adalah ibadah terlama di muka bumi. Menikah juga harus ada visi dan misi ke depan. Jangan sampai kita dibutakan oleh hati yang terlalu cinta kepada makhluknya. Mencintai itu juga ada batasnya, jangan sampai kita berlebihan mencintai manusia melebihi cinta kita kepada-Nya. Lalu bagaimanakah agar mendapat pasangan yang sesuai sama diri kita, yang bisa membimbing dan tentunya berkualitas.
Yang pertama, kita harus terus mengisi kapasitas diri. Perempuan shalihah itu adalah tiang dalam keluarga muslim. Itulah kenapa kita harus punya akidah yang kuat. Ia merupakan unsur penting dan pondasi kokoh dalam keluarga. Makanya itulah kenapa perempuan adalah setengah dari masyarakat yang melahirkan setengahnya lagi dan bisa dikatakan kalau perempuan adalah keseluruhan masyarakat.
Perempuan merupakan karunia besar bagi laki-laki karena ia berperan sebagai tempat beristirahat bagi suaminya setelah menempuh kepenatan mencari penghidupan untuk keluarga. Kapasitas keilmuan saja tidak cukup jika tidak dipraktekkan. Tetapi kadang jiwa dan batin tidak serta merta sejalan. Sementara kondisi mewajibkan perempuan harus siap siaga setiap waktunya terhadap anak dan suami.
Selagi kita masih muda dan punya kesempatan yang masi banyak dalam menuntu ilmu, teruslah menuntut ilmu. Jangan sampai kita menjadi perempuan yang ketertinggalan. Belajar bisa dari mana saja. Dengan melihat dan mendengar saja kita sudah bisa mendapatkan ilmu. Teruslah berproses dalam menempa diri dahulu. Agar ketika sudah bertemu dengan jodoh insyaallah kita sudah siap baik jiwa ataupun batin, karena ketika ada masalah kita tidak langsung bertindak di atas emosi.
***
Kedua, kita harus selalu memperbaiki cara berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti kepada kedua orang tua merupakan perkara besar. Ia muncul dalam dari ikatan kekerabatan dan jalinan kasih kemanusiaan yang paling kuat, yaitu ikatan darah antara seorang anak dengan ayah dan ibunya. Perempuan muslimah harus tidak pernah lelah untuk melakukan apapun yang bisa mendatangkan keridhaan Allah Swt. Mulai dari memantau keadaan orang tuanya dari waktu ke waktu, memberikan pelayanan yang dapat menyenangkan jiwa mereka, sering mengunjungi mereka, menghadap mereka dengan senyum ketulusan, memenuhi kebutuhan mereka, hingga bertutur kata yang baik dan penuh rasa cinta.
Langkah yang selanjutnya adalah bagaimana kita bisa mencari pasangan yang baik untuk kita. Islam memberikan hak penuh kepada umatnya dalam memilih pasangan. Kedua orang tua tidak berhak memaksakan kehendak mereka jika tidak disukai anaknya. Jika laki-laki diperbolehkan memilih perempuan dengan setidaknya ada empat kriteria memilih jodoh yang baik dalam islam, yakni agama, harta, nasab atau keturunan, dan parasnya, maka perempuan juga diperbolehkan dalam menentukan siapa yang akan menjadi imamnya.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). …” (An-Nur:26)
Dari ayat di atas terkandung makna yang mendalam kalau pasangan, jodoh itu adalah cerminan diri. Perempuan yang memiliki akhlak baik pantas untuk laki-laki yang berakhlak baik, begitupun sebaliknya. Tetapi bukan berarti kita serta merta mengabaikan penampilan fisik. Islam itu menyukai keindahan dan juga kebersihan sebagaimana hadits berikut :
“Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Maka, perbaguslah baju-baju kalian dan perbaikilah pelana atau tempat duduk kalian, hingga kalian tampak seperti pribadi khusus diantara orang banyak! Sesungguhnya, Allah tidak menyukai segala perkara dan keadaan yang jelek.” (H.R. Abu Daud dan Hakim).
****
Perempuan muslimah yang cerdas adalah perempuan yang mampu menyeimbangkan antara penampilan fisik dan kapasitas instrinsiknya. Kita harus benar benar paham bahwa di dalam diri ini ada unsur jasad, akal, dan ruh. Sehingga kita harus memberikan hak masing-masing secara utuh dan proporsional. Selama gerbang ilmu tetap terbuka lebar dihadapan perempuan muslimah, maka ia dapat memasuki pintu mana pun yang ia kehendaki. Ia akan berhias diri dengan permata ilmu yang sangat berharga.
Jadi tidak apa apa jika saat ini kita merasa susah menemukan seseorang yang cocok dimata kita, karena mencari jarum yang kita maksud itu perlu perjuangan agar kita menemukan dalam keadaan diri yang sudah berkualitas. Pada intinya, perempuan muslimah yang berkualitas akan menggandeng tangan laki-lakinya untuk mewujudkan misi bersama dalam membangun keluarga muslim dengan rasa cinta dan keserasian. Mereka akan saling terus belajar didalam jalan keridhaan Allah swt. dan bingkai saling pengertian. Langkah mereka tidak terganggu oleh ketidak serasian perilaku, perbedaan kepribadian, tabiat, dan akhlak.

HAY
Inspiratif….sangat membantu, wawasan yang baik.