f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
taaruf

Taaruf: Upaya Jitu Menikahi Pasangan Idaman

Saya juga salah satu pelaku taaruf. Menikah dengan proses taaruf, adalah hal yang luar biasa. Istri saya adalah anugerah dari Allah. Allah menyempurnakan kekurangan saya dengan istri yang tepat, sesuai apa yang saya butuhkan. Sementara apa yang saya inginkan tidak seratus persen ada padanya. Saya ingin wanita yang tinggi, glowing, cantik, pintar dan salihah. Apalagi kaya dan orang tuanya tidak masalah dengan pekerjaan saya sebagai guru ngaji. Sungguh idaman sekali, dan sangat bersyukur jika hal itu terkabul. Akan tetapi apa iya, bisa mendapatkan sosok sempurna seperti ini? Apa dia mau dengan kekurangan diri ini? Cukup mustahil mendapatkan seratus persen apa yang saya inginkan itu.

Terus terang saya bukan keturunan orang tua yang menjunjung tinggi nilai syariat islam dalam kehidupan sehari-hari. Ibu saya seorang pedagang ikan keliling dan amat jarang sekali memakai kerudung jika bepergian kecuali acara resmi. Ayah seorang tukang becak yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, tentu tidak bisa mengaji kitab suci.

Bagaimana pun, orang tua yang buta huruf ini banting tulang agar saya sekolah tinggi. Mereka sangat ketat membuat saya belajar ilmu agama di mushalla terdekat, saban Maghrib hingga Isya. Saya sangat bersyukur mengenang itu, karena selain menghafalkan surat-surat pendek, juga belajar kitab-kitab fikih. Saya belajar ilmu agama dari usia lima tahun atau pra sekolah hingga lulus SMA. Walhasil, seolah Allah menjaga diri ini agar jadi pemuda yang taat beragama. Walaupun terus terang tidak sesalih yang orang kira.

***

Beranjak remaja, saya tidak pernah pacaran. Kalau cinta lain jenis, sudah barang tentu punya cinta pertama sewaktu SMP. Singkat cerita di SMA, saya mendapat cibiran dari teman “sok alim” karena tidak mau menyentuh lawan jenis. Saya akhirnya mendapatkan sahabat sepemikiran yang tidak menyentuh lawan jenis. Hal ini berlanjut hingga tamat sekolah. Hingga kini kami masih seperti saudara.

Baca Juga  Cincin Perkawinan Sahabat

Seperti namanya, Hanif, beliau teguh pada prinsip tidak pacaran. Namun ada saja ujiannya. Versi saya, ujiannya adalah jadi budak cinta waktu kuliah. Saya ingin punya kekasih, tetapi berharap tidak pacaran. Istilahnya bermodus taaruf. Untung modus itu tidak jadi terlaksana karena akan merusak citra diri sendiri. Selama kuliah, saya tinggal di panti asuhan sebagai guru ngaji. Sangat kontras apabila saya berpacaran.

Teman-temannya selalu memaksa Hanif untuk berpacaran. Hanif memutuskan untuk taaruf setelah itu. Dengan pengetahuan seadanya, saya jadi mak comblang antara dia dengan seorang kenalan. Si wanita mau mengirimkan biodata diri begitu pula Hanif. Setelah itu, data tersebut disampaikan kepada kedua orang tua masing-masing. Oleh karena satu dan lain hal, keduanya tidak meneruskan ke tahap selanjutnya.

Terinspirasi dari kisah Hanif, saya memberanikan diri mengajak teman SMP, si cinta pertama untuk taaruf. Dia juga wanita yang anti menyentuh lawan jenis bahkan kini bercadar. Siapa coba yang tidak antusias untuk taaruf dengan wanita cantik, kaya, dan salihah?  Kami mau bertemu setelah saling tahu tujuan mulia ini.

Modusnya, ada acara reuni teman sekelas SMP yang bertempat di rumah saya. Setelah acara usai, baru kami berdua menjalankan misi bertemu. Sayangnya taaruf tidak bisa berlanjut karena ada beberapa hal. Sakit rasanya tidak bisa menikahi cinta pertama, namun saya tidak menyerah untuk taaruf berikutnya.

***

Dengan bantuan seorang ustadz, saya mengajukan proposal taaruf. Setelah ada yang mau proses taarufnya berlanjut bahkan sampai tahap lamaran, dia mengurungkan niatnya untuk dilamar. Padahal saya sudah datang bersama kedua orang tua saya. Sakit sekali rasanya hati saya mendapat perlakuan seperti ini, tetapi ini bukan salah ustadznya melainkan wanita yang bersangkutan.

Baca Juga  Ayah Pahlawanku

Saya tidak berhenti untuk mencari pasangan sejati. Taaruf berikutnya berbeda, yakni perjodohan oleh warga. Ketika mengalami perjodohan, saya tetap menyerahkan biodata diri agar si wanita tahu seperti apa diri saya. Saya sederhanakan kriteria istri, yakni mencari seorang guru ngaji. Salah satu wanita yang dijodohkan warga adalah guru ngaji. Tidak berpikir panjang, saya langsung melamar setelah tahu kriteria suaminya juga mudah.

Hanif juga melanjutkan taaruf kesekian kalinya hingga sampai ke pelaminan. Saya menikah beberapa tahun setelah lulus kuliah, di mana mulai taaruf usia 26 tahun dan berhasil mendapatkan pasangan di usia 28 tahun. Kesimpulan dari cerita ini menurut saya menunjukkan bahwa taaruf adalah upaya yang jitu, profesional dan praktis untuk mendapatkan pasangan.

***

Taaruf adalah upaya jitu karena kriteria istri atau suami sesuai kebutuhan. Siapapun yang setuju melanjutkan taaruf hingga jenjang pernikahan adalah dua sejoli yang mau menyamakan visi misi masa depan. Semuanyaterbuka dengan keadaan sebenarnya, keturunan orangtua yang seperti apa, hartanya, bahkan kegiatan agamanya bagaimana. Tidak ada yang namanya salah pilih atau bak beli kucing dalam karung.

Memang ada beragam versi taaruf. Satu hal yang sama adalah profesionalitas. Ketika menyerahkan berkas taaruf baik digital maupun manual, kerahasiaan data sangat terjaga. Apalagi jika menggunakan jalur ustadz/ustadzah. Komitmen dari masing-masing pelaku taaruf juga sangat tinggi. Kejujuran yang tidak bisa diakali karena bukan seperti pemuda pacaran, yang notabene sering menipu diri dan pasangannya.

Cara taaruf tergolong praktis. Biasanya tinggal cetak berkas biodata diri lalu diserahkan kepada ustadz yang berkepentingan dan tinggal menunggu kabar. Bagi yang mandiri, bisa menggunakan jalur surel atau aplikasi seperti WhatsApp. Saya selama taaruf dengan istri dulu, saling menukar biodata menggunakan media sosial yang tentunya praktis. Meskipun praktis, ada beberapa kelemahan di dalam proses taaruf tanpa ustadz/ustadzah itu.

Baca Juga  Nikah Dini Bukanlah Nikah Muda
***

Secara garis besar, taaruf terbagi menjadi tiga Versi. Versi pertama, taaruf via ustadz/ustadzah. Versi ini merupakan versi paling baik daripada versi lainnya karena kerahasiaan data benar-benar terjaga. Interaksi di dunia maya maupun nyata terbatasi. Khawatir berduaan sebelum menikah, karena sangat tidak etis dan jauh dari profesionalitas. Taaruf tipe ini tidak merusak harga diri karena setelah proposal berada di tangan uztaz, kedua belah pihak akan memperoleh pemberitahuan kalau ada yang ingin taaruf.

Versi kedua, jalur mandiri. Kelebihannya adalah bisa memilih sendiri pasangan sesuai keinginan. Kelebihan metode ini jelas, mendapatkan kriteria yang diinginkan kalau sama-sama cocok. Kelemahannya, kadang seseorang belum memantaskan diri untuk mengimbangi calon yang ditarget. Tipe ini cenderung kurang profesional, biasanya diakibatkan banyak unsur pemaksaan kehendak dan modus di dalamnya. Bahkan sampai merugikan salah satu pihak.

Versi ketiga, jalur perjodohan. Jalur ini tidak sekuno yang dipikirkan. Saya dijodohkan warga dengan diberi nomor teleponnya. Pada proposal milik istri, melalui WhatsApp, saya tahu bahwa dia tingginya sesuai kriteria dan seorang guru ngaji. Saya langsung janjian mampir ke rumahnya. Kelebihan jalur ini tidak terlalu prosedural, bisa langsung menemui orang tua untuk melamar. Sementara kelemahannya, banyak terjadi obrolan daring yang sebenarnya berbahaya secara syariat.

Bagaimana pun, ketiga versi taaruf tersebut memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Saya telah melakukan ketiganya dan yang paling baik adalah jalur ustadz/ustadzah berpengalaman.

Bagikan
Comments
  • Kristina Rahayu

    Touchable

    April 7, 2021
    • Mustofa

      Artikel ini ditulis dengan hati dan pengalaman pribadi.

      April 16, 2021
  • Zainul Arifin

    Sangat inspiratif dan juga seperti sedang membaca cerita yang banyak memiliki kesamaan dengan kisah diri saya

    April 7, 2021
    • Mustofa

      Semoga selalu istikamah di jalan kebaikan hingga Allah menyatukan hati anda dengan pasangan Anda, memberkahinya dan membuatnya bersatu dalam kebaikan.

      April 16, 2021
  • Utik

    Luar biasa, adikku… Semoga Istiqomah di jalan yg baik dan menginspirasi banyak orang di luar sana….

    April 8, 2021
    • Mustofa

      Terimakasih atas dukungannya ya Mbak. Semoga adikmu ini diberikan keberkahan dalam setiap goresan penanya dan tidak diadili atas kehilafan dalam tulisannya.

      April 16, 2021
  • Mega

    Good story

    April 8, 2021
    • Mustofa

      Artikel ini ditulis dengan hati dan pengalaman pribadi bersama sahabat. Hanif. Dan dia telah memberikan komentar dukungannya.

      April 16, 2021
  • Hanif

    Good story

    April 8, 2021
    • Mustofa

      Terimakasih atas dukungannya ya Akhi. Semoga saudaramu ini diberikan keberkahan dalam setiap goresan penanya dan tidak diadili atas kehilafan dalam tulisannya. Terutama namamu yang kusebut dalam cerita.

      April 16, 2021
  • Evi Widowati

    Pelaku taaruf tak melulu orang alim, justru yang awam, dengan taaruf bisa shalih-kan diri.

    April 8, 2021
    • Mustofa

      Benar sekali, seperti diri ini secara pribadi demikain halnya. Alhamdulillah Allah karuniakan kebaikan dan keberkahan dengan hadirnya teman hidup. Semoga anda juga demikian dengan pasangan anda.

      April 16, 2021
  • Meizy

    Sangat inspiratif dan juga seperti sedang membaca cerita yang banyak memiliki kesamaan dengan kisah diri saya

    April 8, 2021
    • Mustofa

      Artikel ini ditulis dengan hati dan pengalaman pribadi dan sahabat sejati.

      April 16, 2021
  • Sigit Candra Lesmana

    Mantab, referensi untuk ta’aruf

    April 16, 2021
    • Mustofa

      Terimakasih. Semoga Allah mudahkan.

      April 17, 2021
  • Fiki

    Izin share untuk meningkatkan semangat orang awam, hijrah ke cara taaruf.

    April 16, 2021
    • Mustofa

      Oke, Bro. Semoga teman-teman kita disana dapat pencerahan. Hehehe

      April 17, 2021
  • uti

    Sangat2 infiratif uti salut membacanya kuncinya dimanapun hamba Allah mau berusaha dg iklas baik dan positif in sya Allah akan memetik buah yg berkwalitas jua. lanjutkan!

    April 17, 2021
Post a Comment