f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
memantaskan

Memantaskan Diri Sebelum Menikah

“Capek Kuliah, Pengen Nikah ajah”, “Capek kerja, pengen nikah ajah”.

Kata-kata ini sering kita dengarkan atau bahkan kita sendiri mengucapkan ketika sudah lelah dengan aktivitas perkuliahan; tugas-tugas dari dosen yang menumpuk; dan banyak masalah atau kerjaan dari kantor. Seakan akan setelah menikah semua masalah akan selesai dan berakhir dengan pernikahan.

Salah satu yang memicu hal ini ialah romantisasi pasangan suami istri di sosial media atau para selebgram yang memamerkan kemesraan bersama pasangannya sehingga ada stereotip “couple goals” yang didefinisikan oleh masing-masing muda-mudi saat ini.  Hal ini memicu banyak anak muda yang dengan mudah ingin menyelesaikan masalahnya dengan menikah tanpa mengetahui hakikat dari pernikahan.

*

Pernikahan merupakan hal yang sakral dan suci sehingga dalam Al-Qur’an disebut mi tsaqan ghali zan atau perjanjian yang kokoh. Ketika ada keinginan dari dalam diri untuk menikah baiknya bagi calon suami dan istri untuk memantaskan diri bukan hanya mempersiapkan pernikahan.

Mempersiapkan pernikahan lebih kepada mengulik-ulik tentang vendor pernikahan untuk mewujudkan “wedding dream”, MUA (make up artist) siapa yang akan digunakan, fotografer pernikahan, souvenir, dan perintilan nikahan lainnya.

Sedangkan memantaskan diri lebih kepada persiapan secara lahir dan batin sebelum memasuki bahtera rumah tangga. Memantaskan diri bisa menjadi salah satu usaha untuk menjemput jodoh. Memantaskan diri sangat bisa dimulai sebelum kita bertemu dengan jodoh kita.

Firman Allah dalam Q.S An-Nur ayat 26 yang berarti “Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”.

Dari ayat ini meyakinkan kita bahwa Allah Swt pasti memberikan pasangan yang setara dengan diri kita sendiri. Jika seorang laki-laki menginginkan calon pendamping hidupnya ialah seorang yang ahli Qur’an berarti ia juga sudah berusaha menjadi seorang ahli Qur’an.

Baca Juga  Pilah-Pilih Pasangan untuk Lanjut ke Jenjang Pernikahan

Jika seorang perempuan menginginkan calon pasangan hidup yang berwawasan luas, berarti ia juga sedang berusaha untuk memperluas wawasannya. Sehingga untuk menikah bukan hanya melengkapi syarat dan rukun nikah tetapi dari jauh sebelumnya telah memantaskan diri untuk menikah.

Langkah Memantaskan Diri Sebelum Menikah
Pertama, dimulai dari memahami diri sendiri.

Sebelum ada orang lain yang ingin kita pahami, cintai, dan sayangi yatu seorang suami. Hendaknya kita memahami diri sendiri terlebih dahulu.

Menurut Koentjoro, memahami diri sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sehingga dapat melakukan respon yang tepat terhadap tuntutan yang muncul dari dalam diri maupun dari luar.

Beberapa orang dapat mengenali dirinya dengan baik, namun bagi sebagian yang lain belum mengetahui dan memahami dirinya. Salah satu Teknik untuk mengenali diri sendiri digagas oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham dengan mengembangkan konsep Johari Window dengan membagi  diri menjadi 4 bagian.

Empat bagian tersebut yaitu bagian publik (public area) ialah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh dirinya dan orang lain; bagian buta (blind area) ialah bagian yang diketahui oleh orang lain tetapi tidak diketahui dirinya; bagian tersembunyi (hidden area) ialah bagian yang memuat hal-hal yang diketahui oleh diri sendiri tetapi tidak diketahui orang lain; dan bagian yang tidak disadari (unconscious area) ialah bagian yang tidak diketahui baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Tetapi ketidaksadaran ini kemungkinan bisa muncul.

Kedua, memantaskan persiapan  mental dan mengelola emosi.

Setelah menikah yang dihadapi bukan hanya suami melainkan beserta keluarganya. Akan banyak sekali watak orang yang kita temui dalam diri suami maupun keluarganya yang mungkin saja akan menguras emosi.

Baca Juga  Value yang Harus Dimiliki sebelum Menikah

Setidaknya dengan mempersiapkan dan belajar mengelola emosi sebelum menikah kita mengetahui bagaimana cara diri kita menyikapi suatu masalah, bagaimana cara self healing ketika menghadapi suatu masalah dalam rumah tangga.

Ketiga, memantaskan ilmu.

Sebelum menikah tidak ada salahnya kita mulai membaca ilmu ilmu dalam pernikahan, ilmu parenting, manajemen konflik dalam rumah tangga, edukasi tentang seks. Di tengah dunia yang serba canggih, ilmu pun bisa diakses dengan gratis melalui tayangan youtube, kajian-kajian virtual, dan ebook parenting yang tersedia di perpustakaan online.

Setidaknya mempunyai bekal lebih baik daripada tidak ada bekal sama sekali. Dengan begitu, para calon suami dan istri sudah memiliki gambaran hal-hal apa saja yang terjadi di dalam rumah tangga.

Keempat, persiapan keterampilan dasar.

Berumah tangga bukan hanya pemenuhan kebutuhan biologis saja. Akan tetapi di dalamnya dibutuhkan kerja sama berbagi peran antara suami dan istri. Setidaknya untuk para calon suami dan istri sudah memiliki keterampilan dasar sehingga kerja sama dapat terwujud antara keduanya.

Keterampilan dasar yang dimaksud seperti memasak. Memasak jangan diartikan sebagai memasak opor ayam, gulai, rendang, dan masakan yang penuh dengan rempah-rempah lainnya. Dimulai dari belajar memasak untuk hal-hal yang sederhana seperti memasak air, menggoreng atau merebus telur, menanak nasi, atau bahkan memasak mie instan.

Hal ini bisa menjadi skill bertahan hidup ketika mengarungi bahtera rumah tangga.  Selain itu mencuci pakaian sendiri, bersih-bersih rumah atau kamar, menjahit dan lain sebagainya.

*

Memantaskan diri dengan mempersiapkan diri lahir dan batin juga termasuk salah satu ikhtiar untuk menjemput jodoh. Quraish Shihab juga mengatakan bahwa jodoh itu perlu dijemput tetapi dengan memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan oleh agama dan budaya.

Baca Juga  Pendidikan Pranikah : Perwujudan Masyarakat Beradab

Di samping  berusaha memantaskan diri dengan melakukan berbagai macam persiapan di atas, tetap tak luput diselingi dengan senjata terbaik bagi seorang muslim yaitu doa. Salah satunya dengan doa “Rabbana hablana min azwajina wa z|urriyyatina qurrata a’yun wa ja’alna lilmuttaqi na imama”

Artinya, “Ya Tuhan kami, anugerakanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Sehingga tidak perlu menjadi beban apabila jodoh belum nampak, mungkin Allah tahu kamu belum pantas sehingga Allah memberikan waktu kamu untuk memantaskan diri, sebelum Ia datangkan jodoh sesuai dengan yang kamu ikhtiarkan.

Bagikan
Post a Comment