f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mencintai

Cara Mencintai Terbaik, Dipendam atau Diungkapkan?

Cinta adalah pokok bahasan yang akan tetap kontekstual menjadi perbincangan di segala zaman. Setiap individu pasti pernah merasakan jatuh cinta. Tidak harus jatuh cinta pada lawan jenis, pada orang tua, guru dan keluarga lainnya juga termasuk jatuh cinta.

Akan tetapi dalam tulisan ini, karena konsep cinta sering kali dipersepsikan dalam hubungan laki-laki dan perempuan; maka penulis akan mengurai konsep mencintai dalam kerangka hubungan tersebut. Tentu nilai dari konsep mencintai dalam kerangka mencintai lawan jenis ini berlaku secara universal.

Jika Belum Waktunya, Dipendam Saja

Ketika seseorang menyadari bahwasanya ada perasaan asing yang singgah di hatinya, seseorang tersebut pasti berkeinginan mengkomunikasikan perasaan itu pada seseorang yang membuat perasaan itu timbul. Perasaan yang membuat orang yang merasakannya tersenyum-senyum sendiri; yang dapat mengubah emosi secara tiba-tiba.

Hingga tak heran, budaya pacaran masih menjamur di Indonesia, bahkan menjangkiti anak-anak di bawah umur. Hal tersebut membawa dampak yang lebih serius jika tidak ada kontrol, seperti maraknya kasus hamil di luar nikah.

Padahal seseorang yang serius dengan perasaan yang dimilikinya, dia harusnya justru memendamnya dalam-dalam, menutup pintu hatinya rapat-rapat agar tiada sesiapapun yang tahu, kenapa? Karena tidak ada cara terbaik kebersamaan bagi laki-laki dan perempuan yang saling mencintai selain pernikahan yang jelas hubungannya; baik di mata agama maupun hukum.

Konsep Pernikahan dalam QS. An-Nisaa’: 21

Sedangkan menikah sendiri bukanlah suatu hal yang main-main. Al-Qur’an dalam surat an-Nisaa’: 21 menyebutnya sebagai miitsaaqan ghaliizhan, “perjanjian yang kokoh”. Perjanjian berarti kesepakatan di antara kedua belah pihak dan komitmen bersama.

Imam Abu Ubaidah al-Bashri mengartikan kata miitsaaq dalam kitab Majaaz al-Qur’aan sebagai sumpah (yamiin) dan janji setia (‘ahd). Imam Yahya al-Farra memaknai kata “miitsaaqan ghaliizhan” dalam kitab Ma’aani al-Qur’aan dengan penggalan ayat lain “fa imsaakun bi ma’ruufiin aw tashriihun bi ihsaan” (QS. Al-Baqarah: 229).

Baca Juga  Tradisi Tujuh Bulanan dalam Pandangan Islam

Dengan demikian ikatan kokoh adalah mandat dari Allah Swt. kepada suami-istri untuk berkomitmen mengelola rumah tangga dengan prinsip, “berkumpul secara baik-baik atau berpisah secara baik-baik.”

Maka niat menikah tersebut harus bertujuan untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas (dzuriyyah thayyibah) sehingga menjadi bagian dari umat terbaik (khairu ummah) yang akan mengemban amanah untuk membentuk bangsa yang sejahtera (baldan thayyibah).

Jadi tidak sesederhana hanya untuk menghalalkan hubungan intim yang awalnya haram. Sebab, hubungan intim sendiri, dalam Islam, harus bermartabat dan bertanggung jawab. Menghalalkan hubungan intim adalah tujuan minimalis. Lebih dari itu adalah soal tanggung jawab yang harus menjadi tanggungjawab bersama sebagai pasangan; dalam mewujudkan kehidupan yang baik di dunia (fi al-dunya hasanah) yang terhubung juga dengan kebaikan di akhirat (fi al-akhirah hasanah).

Cara Mencintai Terbaik Perlu Melihat Diri dan Diri Orang yang Dicintai

Dengan amanat pernikahan yang harus diemban oleh kedua belah pihak (suami-istri) tersebut, maka seseorang yang serius dengan perasaannya; pertama-tama yang ia lakukan adalah melihat dirinya dan diri orang yang dicintainya. Apakah sudah mampu baik secara mental, spiritual dan finansial?

Katakanlah orang yang jatuh cinta itu telah mampu dalam ketiga aspek tersebut, lantas bagaimana dengan diri orang yang dicintainya? Tidak mengganggu orang yang dicintainya kah ketika dia mengungkapkan perasaannya? Lebih-lebih lagi jika orang yang jatuh cinta dan objek yang dicintainya tersebut sedang sama-sama menempuh masa studi. Keduanya masih harus sama-sama banyak belajar. Tentu, mengungkapkan perasaan bukanlah suatu hal yang ideal pada masa itu.

Jadi orang yang serius dengan perasaannya akan menahan hasrat pada orang yang dicintainya sebisa mungkin. Menjaga mulutnya agar tak mencari kesempatan untuk bisa mengobrol lama-lama dengannya, menahan langkah kakinya agar tidak terus menerus melangkah ke arahnya, mengontrol pikirannya agar tidak terus menerus memikirkannya. Dia fokus dengan tujuan dan cita-citanya.

Baca Juga  Menilik Pesan Cerita pada Sinetron Ikatan Cinta

Menahan rindu itu memang berat, tapi keberatan itu tak jadi soal bagi orang yang benar-benar paham hakikat cinta dan mencintai itu seperti apa. Sederhananya, untuk mengukur sejauh mana kita serius dengan perasaan yang kita miliki adalah apakah setiap hari kita menjadi lebih baik atau malah sebaliknya.

Bagikan
Comments
  • Luthfatul Ainiyah

    Barokallah ❤️❤️

    April 4, 2021
Post a Comment