f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Budaya Membaca ala Pesantren

Aku bersyukur terlahir di lingkungan yang mencintai buku. Entah seberapa dalam kecintaannya pada buku, tapi abah—ayahku—suka sekali memborong buku. Walaupun seringkali buku-buku itu tidak sempat dibaca sampai selesai karena kesibukannya bekerja.

Abah banyak membeli buku-buku motivasi, pendidikan, agama, novel dalam negeri, bahkan novel luar negeri alias terjemahan yang menghiasi sebagian besar rak buku di rumah. Manfaat dari buku-buku itu tentu saja sangat banyak—terutama untukku.

Aku tak ingat buku pertama apa yang selesai kubaca sampai halaman terakhir, tapi buku yang lumayan tebal dan paling berkesan yang kubaca dan kunikmati sampai halaman terakhir adalah buku karangan penulis Jepang; Tetsuko Kuroyanagi yang berjudul Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela. Saat itu usiaku masih delapan tahun. Sampai sekarang, sudah tiga kali aku membaca ulang novel itu. Dan masih saja senyum-senyum sendiri saat membaca ulang. Totto Chan berkisah tentang anak-anak yang bersekolah sebuah sekolah dasar di Jepang yang bernama Tomoe Gakuen.

Hingga saatnya aku harus pergi jauh dari rumah untuk masuk ke salah satu pesantren putri di Ponorogo, Jawa Timur. Kesukaanku membaca semakin menjadi-jadi. Apalagi dengan jumlah buku yang beragam dan berlipat ganda melimpahnya. Karena sudah menjamur budaya pinjam-meminjam dan antre membaca buku dalam lingkungan pesantren itu.

Dari ratusan orang yang tinggal di pesantren, jika setiap orang misalnya membawa dua hingga tiga buku. Bayangkan, berapa jumlah buku yang bisa kalian baca selama setahun?

***

Di pesantrenku hanya boleh bicara menggunakan bahasa Arab dan Inggris, bergilir bergantian tiap minggunya. Saat itu, kata yang kupelajari untuk mengantri meminjam buku adalah “Ba’daki!” dalam bahasa Arab dan “After you!” dalam bahasa anggris, yang berarti, “habis kamu, ya!”. Jika ada seseorang yang terlihat sedang membaca buku baru di kamar yang berisi 10-15 orang (Yaa, dulu aku punya kamar se-rame itu!) bisa dipastikan, akan ada sahut-menyahut panjang dan perdebatan “after you” tentang giliran membaca buku terbaru itu. Benar-benar saat-saat yang mengasyikkan dan ngangenin.

Tahun pertama tinggal di pesantren, buku yang menjamur masa itu adalah novel-novel milik Asma Nadia; serial Aisyah Putri 1, 2, dan 3. Lalu novel berjudul Diorama Sepasang Al-Banna dan Dilatasi Memori milik Ari Nur, Kumpulan cerpen Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Dan… Tere Liye! OMG, ternyata aku sudah mengenal bang Tere Liye, penulis legendaris yang telah menerbitkan empat puluhan buku, bahkan sejak SMP!

Baca Juga  Rasulullah Berpesan: Beri Tahu, Jangan Disalahkan

Saat naik kelas, ketika aku mulai berani berinteraksi dengan kakak kelas, seleraku merambah buku-buku terjemahan luar negeri milik Torey Hayden seperti Sheila; Luka Hati Seorang Gadis Kecil dan Kevin; sebuah Memoar dan novel terjemahan The Devil wears Prada. Aku melewatkan waktu membaca pada masa sibuk kelas 4-5 (kelas 1-2 SMU). Saat itu adalah tahun tersibuk di pesantren, karena dalam setahun aku harus menyelesaikan kegiatan Syarat Kecakapan Umum (SKU PRAMUKA), SAKA Bhakti Husada, menjadi pengurus OSIS, hingga menyelesaikan KMD (Kursus Mahir Dasar) PRAMUKA.

***

Otomatis buku-buku yang bisa dibaca berkurang di waktu super sibuk itu. Ah, ya, tetap saja kami tidak ketinggalan membaca Serial terakhir Harry Potter and the deathly hallows, novel berbahasa Inggris yang dibawa langsung dari Amerika oleh guru bahasa Inggris native speaker kami, Miss Natalie Binder yang berasal dari Amerika Serikat. Tahun itu novel karya Dan Brown juga sedang menjamur di Indonesia, dan berkat meminjam aku bisa membaca dua di antaranya yaitu The Da vinci Code dan Angels and Demons.

Saking banyaknya pilihan buku dan panjangnya antrean membaca, otomatis kecepatan membacaku meningkat tajam karena dikejar-kejar waktu.  Betapa saat itu adalah masa emas dalam dunia membacaku. Terima kasih, teman-teman dan para kakak dan adik kelas yang telah membawa buku-buku keren saat itu ke pesantren. Berkat kalian minat membacaku tumbuh subur hingga saat ini.

Membaca yang biasanya identik menjadi hobi yang membosankan, berkat hidup di lingkungan pesantren, menjadi suatu kebiasaan yang lumrah dilakukan. Terutama jika musim ujian tiba. Kalian akan melihat pemandangan “tidak biasa” di setiap sudut pesantren. Kalian akan menemukan santri yang sedang membaca buku sembari jalan-jalan santai di dalam lingkungan pesantren, membaca ketika antre mengambil makan, membaca di depan kamar mandi saat anter mandi, bahkan aku pernah membaca sambil ngempet buang air besar di depan WC. Benar-benar pemandangan “tak biasa”, bukan?

Baca Juga  Menenangkan Istri yang Tidak Tenang
***

Musim ujian pesantren tempatku menimba ilmu, Pesantren Putri Al-Mawaddah Ponorogo, menggunakan dua kurikulum sekaligus—yaitu kurikulum negara yang dinaungi oleh Kementrian Agama; dan kurikulum pesantren ala Pondok Modern Gontor—yang menjadikan musim ujian menjadi dua kali lebih panjang dari pada ujian di sekolah biasa.

Kebiasaan buruk belajar dengan sistem SKS—Sistem Kebut Semalam—yang tumbuh subur di kalangan santri menjadikan kami ngebut membaca dan menghafal pelajaran selama masa ujian yang berlangsung hingga satu bulan lebih. Padahal motto ujian di Pesantren adalah “Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”, hehehe.

Hingga saat aku menulis ini, peraturan di pesantren tempatku menimba ilmu masih melarang gadget tipe apapun untuk masuk ke lingkungan pesantren—yang akhirnya membuat buku masih menjadi satu-satunya sumber informasi bagi santri. Kecuali saat pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komputer) yang mengizinkan santri untuk mengakses internet selama pelajaran berlangsung.

Sore tadi aku mendapat oleh-oleh dari ibuku. Sebuah novel berjudul Menantu Untuk Ibu karangan Faradhina Izdhihary yang sudah setengah-selesai. Mungkin malam ini tamat. Lalu, buku apa yang sedang kamu baca saat ini? Virus Covid-19 masih menyebar di luar rumah meskipun vaksinasi sudah dimulai. Yuk, manfaatkan waktu di rumah saja untuk membaca!

Bagikan
Post a Comment