f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pengajar

Bu Ela, si Pengajar Surat Al-Fatihah

“Ibu hanya ingin mengajarkan Al- Fatihah kepada anak-anak.”

Aku tertegun mendengar jawaban Bu Ela. Segelas teh hangat yang hendak aku minum kembali kuletakkan di atas meja. Baliau tidak berubah, masih sama seperti delapan belas tahun silam. Senyum teduh itu masih bisa kulihat dari wajahnya. Kesabaran pun terpancar sempurna.

“Wah, masih disimpan saja, Bu?” Aku bertanya saat Bu Ela memperlihatkan foto di sebuah halaman sekolah dengan perosotan besi bercat kuning belasan tahun silam. Ada aku dan teman-teman di masa lampau dengan wajah lugu, sungguh lucu.

“Ini kenangan untuk Ibu. Setidaknya, Ibu pernah menjadi bagian dari masa kanak-kanak kalian yang penuh tawa dan merengek minta jajan.”

Aku tergelak lepas, begitu pun Bu Ela. Aku masih ingat, dulu beliau selalu berdiri di depan pintu gerbang saat jam enam pagi. Sekolah masih sunyi. Embun-embun masih tampak pada kelopak-kelopak anyelir putih di sisi gerbang. Aku suka sekali datang ke sekolah lebih pagi hanya untuk melihat Bu Ela yang tengah berkebun dan menyenandungkan beberapa lagu anak-anak.

Saat bel masuk berbunyi, beliau akan merapikan barisan kami, mengabsen, dan membenahi seragam kami yang belum rapi. Satu usapan hangat jemari lembut Bu Ela selalu singgah di pipi kami. Aku yakin, semuanya sayang Bu Ela, seperti Ibu sendiri.

“Kamu sekarang jadi penulis, Fa?” Pertanyaan beliau membuyarkan lamunanku.

“Sepertinya belum bisa disebut penulis, Bu.” Aku tersenyum malu.

“Ibu baca tulisanmu, lho. Bagus sekali. Bangganya Ibu pernah menjadi gurumu, Fa.”

“Ibu berlebihan.”

“Tidak … tidak!” Bu Ela menggenggam tanganku. Hangat sekali, sama seperti dulu. “Ibu tahu kamu berpotensi untuk ini. Dulu, kamu paling semangat kalau disuruh cerita ke depan kelas. Meski sekarang ceritanya lewat tulisan, tapi tetap Fasya, muridku yang paling berani maju ke depan.”

Baca Juga  Pentingnya Perlindungan Hukum untuk Guru: Menghadapi Dilema Pendisiplinan Siswa

Mendadak mataku panas, mulai buram karena bulir-bulir bening memaksa untuk menetes kian deras. Aku bangkit dari kursi dan duduk di tepian tempat tidur Bu Ela. Tangannya sudah tak sehalus dulu. Ada keriput-keriput otot yang menyembul, dan tulang yang begitu terasa.

“Ibu bangga sekali karena ada murid Ibu yang berhasil akan cita-citanya,” ujarnya kemudian. “Disapa di jalan pun, apalagi sampai disambangi, senang rasanya. Bersyukur masih ada yang ingat.”

“Fasya enggak pernah lupa dengan Ibu.” Air mataku kian deras mengalir.

“Fasya, jangan pernah tinggalkan salat,” ujarnya kemudian.

“Insya Allah, Bu.”

“Tidak ada yang bisa Ibu ajarkan selain Surah Al-Fatihah yang kita baca berulang sebelum memulai pelajaran dulu. Tidak pernah mengharap gaji besar. Ibu hanya ingin menjadi bagian dari langkah sukses kalian di dunia, juga akhirat.”

“Aamiin, Bu. Aamiin.”

Bu Ela, sudah dua bulan ini beliau sakit. Stroke membuatnya tak lagi mampu berjalan. Ada rasa nyeri menyusup di hati. Ke mana saja aku selama ini? Kami tinggal satu desa, tetapi berkunjung pun tak pernah. Hanya sesekali melempar senyum dengan ucapan salam saat berpapasan. Kini, aku datang di saat beliau tak lagi mampu berdiri. Terbujur lunglai, terlihat lemah sekali. Sungguh durhakanya aku ini.

“Ibu minta maaf jika ada salah, ya, Fa.”

“Tidak, Bu. Fasya yang harus minta maaf,” sahutku cepat. “Dulu Fasya nakal di kelas. Sekarang pun Fasya jarang menyapa. Maafkan, Bu.”

Bu Ela menggeleng dengan senyum hangatnya. “Ibu sayang pada kalian semua. Semua murid-murid yang pernah Ibu ajar, sangat Ibu sayang.”

Beliau memang sebaik itu, sehangat itu, senyumnya seteduh itu. Darinya, aku mengenal apa itu alfabet, hijaiyah, dan angka-angka. Bu Ela adalah tangga pertamaku menapaki dunia dan mencari amal untuk bekal pulang.

Baca Juga  Segelap Apa Masa Depan Fresh Graduate yang Menjadi Guru Honorer?

Sebelum beranjak, beberapa menit aku berdiri termangu di depan rumah Bu Ela. Masih sama. Rumah sederhana dari susunan jati tua dengan cat cokelat klasik. Rumah yang dulu sering aku datangi untuk belajar membaca usai shalat Maghrib. Rumah yang dulu ramai akan celoteh bocah-bocah yang ingin bisa berhitung satu dua tiga.

Kini, di saat sang pemilik rumah tengah terbujur tiada sanggup mengajar lagi, ke mana perginya para bocah pengais ilmu itu? Sibuk. Itu alasan nyata yang sebenarnya sangat klise.  

Lima ratus meter dari rumah Bu Ela, ada sebuah Taman Kanak-kanak dengan gerbang bercat biru tua. Di sinilah aku dulu. Bermain ayunan, perosotan, menangis karena bertengkar dengan teman, atau lari-larian saat tim dokter dari puskesmas datang untuk jadwal imunisasi bulanan. Lantas, ada satu sosok yang selalu hadir untuk menenangkan, Bu Ela. Beliau selalu ada di situasi apa pun, demi kami, murid-muridnya.

Hari ini, aku akan menulis kisahnhya. Sebuah kisah manis, penuh kesabaran dari seorang guru berhati hangat.

Akan aku tulis kisah tentang Bu Ela yang selalu berkata, “Saya menjadi guru TK agar bisa mengajarkan Surah Al-Fatihah pada murid-murid saya. Surah itu akan selalu dibaca dan semoga Allah jadikan hal itu sebagai amal jariyah.”

Bagikan
Post a Comment