f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak SMA

Belajar di Masa SMA v.s Masa Kuliah

Belajar sebenarnya tidak berat, itu kata orang-orang. Walau sebenarnya, dalam satu kelas, tidak hanya berisi orang-orang yang profesional dalam belajar saja, beberapa masih tahap mengumpulkan niat untuk belajar, dan sebagian lainnya tertinggal dalam belajar.

Tetapi mau bagaimana lagi, sebagai murid memang mempunyai kewajiban belajar dan membaca. Lebih dari itu, kita juga dituntut untuk pandai bersosial dengan lingkungan sekitar. Baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Banyak anak-anak SMA yang mengira bahwa kehidupan perkuliahan adalah dunia lepas mereka, entah mau berkelana ke mana saja, jajan apa saja, ngobrol apa saja, intinya free time every day! Namun tidak sepenuhnya terjadi pada semua mahasiswa tepatnya pada semester awal perkuliahan.

Seperti yang kita ketahui bahwa masing-masing orang mempunyai ketertarikannya masing-masing, ada yang bisa mengontrol waktu antara kewajiban dan waktu luangnya. Ada juga yang belum mampu mengatur waktunya. Ada juga yang hanya kuliah atau main saja, yang penting lulus SMA terus hora-hore.

Jadi, apa bedanya kehidupan masa SMA dan kuliah?

Kalau melihat pengalaman saya saat di SMA, sebenarnya kehidupan mahasiswa dengan jenjang sekolah tidak jauh berbeda hanya saja tingkatan materinya yang lebih to the point di SMA. Saat masa kuliah, semua problematika kehidupan harus dipelajari seperti halnya seorang anak menangis di kelas, maka harus mencari tahu penyebabnya.

Pastinya, mahasiswa jurusan pendidikan merasakan beratnya memahami teori keguruan, ya seperti itulah beratnya. Begitu juga mahasiswa jurusan lainnya. Semua punya titik ‘merasa beratnya’ masing-masing.

Umumnya anak-anak SMA mengira bahwa kuliah tidak ada tugas. Padahal, kalau melihat tugas atau PR pada jenjang SMA tidak ada apa-apanya dengan perkuliahan, apalagi saat ospek (orietasi pengenalan akademik). Yang perlu kita pahami bersama yaitu kesadaran terhadap kewajiban murid untuk siap menerima segala tantangan dan risiko selama masa kuliah.

Baca Juga  Standar Kecantikan Perempuan Modern dalam Perspektif Islam
Melatih diri sejak SMA

Melihat anggapan-anggapan tersebut, maka bagi kamu yang masih duduk di bangku SMA, mulailah dengan belajar serius saat mempelajari materi pelajaran. Hal tersebut bisa kamu mulai dari mencoba membuka buku 5 menit saat jam istirahat. Kalau bisa secara rutin, maka kamu akan serba tahu dan menjadi terbiasa membaca.

Selain membaca buku, cobalah mengobrol dengan orang-orang yang menyenangkan, membahas obrolan serius tapi santai. Pasti ada dalam satu kelas ada anak yang pinter tapi terbuka dengan semua temannya, kecuali saat ujian lho ya!

Dalam pengalaman saya, sering sekali mengajak teman saya mengobrol bersama membahas tentang kehidupan perkuliahan padahal masih kelas 11 SMA. Melalui obrolan tersebut, akan mengetahui sedikit demi sedikit bahwa perkuliahan itu sebenarnya berat tapi ada semangat untuk bisa menggapaikannya. Tergantung dari tujuannya masing-masing mau itu kejurusan filsafat atau hukum atau pendidikan atau pun lainnya.

Kehidupan anak SMA mulai berubah sedikit ketika memasuki kelas 12 SMA. Kebanyakan lebih rajin lagi dan mendadak menjadi ahli ibadah, yang pastinya mengharapkan bisa masuk ke perguruan tinggi yang diimpikan. Para orang tua memfokuskan anaknya belajar mati-matian memasukkannya ke bimbingan belajar yang terbaik. Dulu saat saya, awal-awal kelas 12 SMA, sudah mempunyai kampus impian.

Karena itu semenjak masuk kelas 12 SMA mendadak rajin shalat Dhuha, ngaji setiap usia shalat, masuk ke tempat bimbel, dan sering tanya-tanya atau konseling ke BK. Bedanya saya dari kelas 10 SMA memang suka belajar, kalau tiap malam belajarnya tidak terlaly berat-berat. Cukup membaca materi yang akan dipelajari di kelas tapi lebih kebanyakan mengerjakan tugas. Sehingga saya tidak kaget dengan perubahan jadwal yang mepet sekali, menyantai hanya ada 1 hari.

Baca Juga  Mengosongkan Untuk Mengisinya Lagi
***

Apalagi saat fase-fase SNMPTN-SBMPTN. Sempat kena php karena lolos di empat puluh persennya, tapi saat pengumuman kedua tidak lolos SNMPTN. SBMPTN pun juga, sangat sulit belajar hal yang tidak pernah diketahui semasa sekolah meskipun sudah masuk bimbel.

Namun beruntungnya saat mengikuti UM-PTKIN, jadi itu tes tulis tapi masuknya ke UIN, IAIN, STAIN. Saya lolos melalui jalur tersebut dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Senang sekali merasakan lolos lingkup negeri, sebab satu keluarga swasta semua, baru saya sendiri yang berhasil kampus negeri.

Bedanya kampus ini ada asrama, sempat terkejut karena jadwal yang hampir sibuk ke mana-mana, urusan asrama, perkuliahan, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Tapi tidak berlebih dalam menanggapi jadwal yang sangat rumit karena sudah terbiasa di SMA yang bahkan satu minggu itu berjalan kesana-kemari hanya untuk belajar.

Memang benar masih semester satu di mata kuliah yang ringan-ringan tapi ada satu problem, yaitu mata kuliahnya yang sangat-sangat melihat kehidupan nyata, atau tidak berkonsep seperti SMA. Dan di semester selanjutnya pun sama, lebih berat lagi dan berat lagi.

Jadi, transformasi kehidupan dari SMA ke perguruan tinggi bagi orang yang sudah paham dari awal akan mampu menghadapinya meski banyak hambatan. Tapi untuk orang yang sukanya bermalas-malasan saat SMA, jangan berharap mudah saat kuliah.

Perlu diingat bahwa ini masih dunia perkuliahan, belum dunia profesi yang bakalan banting otak dan tulang sepenuhnya alias sangat berat dan kejam. Maka dari itu, mumpung masih di SMA maksimalkan waktumu untuk belajar dan mengobrol hal-hal yang bermanfaat, agar saat di perkuliahan kamu akan terbiasa dengan perbincangan yang levelnya berat, baik di kelas maupun di luar kelas.

Baca Juga  Peran Keluarga dalam Menyuarakan Aktif Kontra Radikalisasi

Akan ada saatnya kamu menghambat tetapi selesai begitu saja. Ingat, tugas harus dikerjakan serta nomor duakan dulu hal-hal yang tidak menyangkut perkuliahan.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment