f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
padarincang

Perjuangan Perempuan Menolak Industri Ekstraksi untuk Kelestarian Ekologi di Padarincang

Siang hari, pukul 14.25 (24/1/21), matahari terhalang awan mendung, di Padarincang, Kab. Serang. Saya dan seorang rekan bertemu salah seorang perempuan dari ribuan warga Padarincang yang menolak proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) geothermal, ia akrab disapa Umi Eha.

“Seberat apapun yang kami hadapi siapapun yang menghalagi, kami akan tetap tolak!”, Kalimat pertama yang perempuan berusia 58 tahun itu ucapkan.

Saat kami mewawancarainya, Umi Eha menolak jika ada anggapan bahwa ia adalah tokoh pergerakan warga menolak geothermal; dan semua warga juga tidak berkeinginan untuk dijadikan tokoh atau motor gerakan. Gerakan perlawanan ini adalah milik bersama. Semuanya terlibat.

“Kami bergerak bersama, ulama, santri dan masyarakat, kalau bukan kita yang mempertahankan, siapa lagi?” Tegasnya.

Sejak 2010, ia melakukan perjuangan hak atas keadilan dan kelestarian Padarincang. Peran nya bersama perempuan dan elemen masyarakat lainnya berhasil menolak proyek ambisius.

“Perjuangan bangsa sampai kemerdekaan, walau tak banyak pejuang perempuan justru itu membuat semangat lebih bagi pejuang lainnya. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga harus berjuang”, katanya.

Padarincang masuk ke dalam Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Daerah Kaldera Danau Banten, Kab. Serang – Pandeglang telah ditetapkan pada tahun 2009. Penetapan WPK ini membuka izin eksploitasi sumber energi panas bumi di Banten.

Bahaya dan Celaka Proyek Panas Bumi

Dari Mongabay.co.id (25/1/21), lima orang tewas dan puluhan warga dilarikan ke rumah sakit akibat menghirup gas hydrogen sulfide (H₂S) berasal dari kebocoran gas di Desa Sibanggor Julu, Kec. Puncak Sorik Marapi, Mandailing Natal yang dikelola oleh PT. Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP).

Sebelumnya, pada 2017 hasil panen menurun dan Kali Krukut tercemar akibat pengeboran aktivitas proyek Panas Bumi di lereng Gunung Slamet.

Kejadian dua tempat tersebut memberi sinyalemen bahwa ada potensi bencana dan risiko yang tidak bisa dibayar dengan apapun untuk memaksakan jalannya proyek PLTPB ini.

Baca Juga  Pesan Jihad Literasi Perspektif Yusuf Qardhawi

“Itulah yang menjadi kekhawatiran warga Padarincang. Kami yang tinggal di Padarincang, jika terjadi apa-apa di sini kami juga yang merasakan”, tegasnya.

Proyek tenaga listrik memanfaatkan energi panas bumi berpotensi besar sebagai bentuk penghancuran ekologi di Padarincang, salah satu dari banyaknya daerah potensial panas bumi di Indonesia.

…

Umi menegaskan bahwa Padarincang bukan untuk proyek besar seperti itu dan justru untuk pertanian, ruang hijau dan pariwisata.

“Kenapa membangun proyek ini yang jelas-jelas menyalahi tata ruang di Padarincang? Kami tidak menolak pembangunan, kami sangat setuju pembangunan. Kalau pembangunan itu merusak kita harus menolaknya”, tegasnya.

Menurut BPS, Padarincang merupakan kecamatan terluas ke-2 di Kabupaten Serang dan sekitar 36,42% dari luas wilayahnya adalah persawahan menjadikan Padarincang. Daerah ini memiliki komoditas andalan yaitu cengkeh dengan jumlah panen sebanyak 129,85 Ton pada 2019, artinya Padarincang adalah penyumbang terbesar pasokan cengkeh untuk Kab. Serang yakni sekitar 28,3%, juga durian dengan hasil panen sebanyak 8.663 kwintal pada tahun yang sama.

“Warga di sini mayoritas sebagai petani dan berkebun, banyak hasil bumi seperti cengkeh, melinjo, durian”, ujar perempuan yang bernama lengkap Eha Suhaeni.

Penurunan komoditas cengkeh dan hasil bumi lainnya akan menurun jika proyek ini berhasil didirikan. Berlokasi di desa Batukuwung, Padarincang. Lokasi pendirian pabrik di Gunung Prakasak berpeluang merusak lansekap hutan.

Umi memaparkan Gunung Karang harus kita jaga kelestarian dan historisnya, Gunung Karang satu-satunya gunung kebanggaan. Yang kala itu, orang Banten menjadi saksi penyebaran Islam di Banten, sebagai orang Banten berkewajiban menjaga serta menolak segala bentuk kerusakan. “Kalau Gunung Karang ini hancur, hilang juga nilai kesejarahannya”, pesannya.

Pada 2015, dilansir Mongabay.co.id, terjadi longsor di Pengalengan, Jawa Barat sehingga menewaskan lima orang tewas akibat pekerjaan pembangunan proyek panas bumi.

Pembangunan yang konon sebagai solusi energi terbarukan nyatanya masih jauh dari kata aman. Praktek kerja di lapangan menimbulkan kerusakan dan bencana ekologi baru. Lagi-lagi warga harus menerima dengan dalih ini merupakan bencana alam.

Baca Juga  Bagaimana Peran Perempuan dalam Membentuk SDM yang Unggul?

Kegigihan Perjuangan Perempuan

PT. Sintesha Banten Geothermal (SBG) sebagai perusahaan pemenang lelang terbuka pada 2010, berkali-kali gagal dengan intrik jahatnya agar warga menyepakati proyek ini.

Sebelumnya, pada 23/11/2020 masyarakat Padarincang tergabung dalam Syarekat Perjuangan Rakyat (SAPAR) melakukan penghadangan alat berat untuk memberhentikan proyek ekstraksi ini, ribuan massa tumpah ruah dan memblokade jalan.

“Seluruh lapisan masyarakat ikut menolak, termasuk perempuan yang tidak gentar mendukung penolakan tersebut”, ucap Umi Eha.

Suatu waktu perwakilan warga─termasuk Umi Eha─diundang menghadiri “sosialisasi” dari perusahaan PT.SBG untuk membangun proyek besar ini. Namun, beberapa dari warga berpikir ulang untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Berbeda tidak dengan Umi Eha, ia yakin bahwa warga akan menang lantas hal itu memberi semangat pada warga lainnya dan ia berpesan tak boleh mundur dari perjuangan ini, ceritanya.

Harapan korporasi mendatangkan para ahli pada pertemuan itu untuk meyakinkan dan melunakkan warga justru berkebalikan, menambah keyakinan warga untuk menolak geothermal itu.

Mendengar Umi Eha bercerita dengan semangatnya, membawa kami membayangkan kejadian tersebut.

Pembodohan dan alasan tak masuk akal selalu dicoba untuk menggoyahkan tekad warga, salah satunya dengan rayuan penduduk Padarincang akan mendapatkan pekerjaan dari proyek ini. Umi Eha dan warga tidak telan bulat-bulat dan berpikir bahwa, alih-alih menawarkan pekerjaan tetap saja tidak bisa terbayarkan dengan kemungkinan potensi kerusakan alam lainnya.

Ia selalu berucap dengan lantang dan penuh semangat, “Umi sudah biasa diintimidasi, didatangi pejabat, pihak kepolisian dan tentara, tetapi Umi tetap berjuang dan tidak akan mundur sampai akhir”.

…

Sadar betul peran perempuan berpengaruh besar, Umi Eha melakukan upaya penyadaran  terhadap perempuan melalui majelis atau pengajian yang ia pimpin.

Umi Eha tidak mau bertindak tanpa dasar dan alasan kuat untuk menolak, mula-mula ia pelajari dan mencari tahu dari berbagai sumber mengenai dampak pembangungan pembangkit geothermal tersebut.

Baca Juga  Memaknai Kembali Kesucian Perempuan dalam Novel The Holy Woman Karya Qaisra Shahraz

Pada tahun 2010, gerakan perempuan sudah dimulai. Umi Eha bersama-sama perempuan menolak pendirian pabrik PT. Tirta Investama, anak perusahaan Danone untuk menguasai air bersih.

“Hal itu merugikan perempuan karena perempuanlah yang pertama kali merasakan dampak negatif adanya pabrik itu, mulai dari krisis air, memasak,dan kebutuhan lainnya”, tambah Umi.

Tidak ada kata instan untuk perjuangan. Umi Eha melakukan usaha penyadaran tentang bahaya proyek geothermal kepada ibu-ibu tidaklah mudah. Butuh waktu lama untuk meyakinkan kaum perempuan untuk berani dari segala bentuk ancaman dan intimadasi pihak luar. 

Agar mau berjuang, ia lakukan dengan sistem “door to door” atau ajaran Islam tentang perjuangan dan jihad di majelis dan pengajian rutin.

“Perjuangan itu ada empat macam, yakni perjuangan agama, tanah air, hak, dan keluarga. Maka ibu-ibu bersemangat dan berani menyuarakan penolakan yang membuat dinamika pergerakan masyarakat tumbuh dan kesadaran perempuan meningkat”, ujar perempuan paruh baya itu.

Karena jika terjadi kerusakan, perempuanlah yang merasakan dampaknya. Umi Eha menyadarkan dengan penjelasan sederhana tentang kerusakan lingkungan akibat proyek ekstraksi ini.

Ia menegaskan jika proyek ini berhasil pastilah menimbulkan dampak bencana sosial dan bencana alam yang kita hadapi nanti.

Genap sepuluh tahun lebih warga Padarincang terus memperjuangkan lingkungan hingga saat ini. Umi Eha berharap perjuangan ini terus dilakukan dan digaungkan, lingkungan ini merupakan milik anak cucu dan generasi muda kelak. “Kita hanya sebatas meminjam dan memakai seperlunya”, harap Umi Eha.

Pertemuan kami diakhiri dengan setelah sayur goyobod dengan ayam kampung─sepanjang hidup kami, baru mencicipi sayur khas Banten tersebut─begitu hangat sambutan pada kami, walaupun kami orang baru.

Bagikan
Post a Comment