Pendidikan Anak, Sebenarnya Tanggung Jawab Siapa?

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Ketika saya duduk di dermaga Nanga Pinoh sambil menunggu teman saya datang, di sebelah saya ada seorang bapak paruh baya bertanya,

“Tidak libur, Bu?”

“Tidak, Pak. Gurunya sekolah, siswanya belajar di rumah”

“Wah, kalau belajar di rumah susah belajarnya main game terus”

“Didampingi pak”

“Aduh Bu, kami sibuk, kami percaya sama Guru-guru di Sekolah”

Sejenak saya berpikir dan teringat pada kenaikan kelas tahun lalu, ketika salah satu siswa yang biasanya mendapatkan peringkat tiga besar, nilainya menjadi turun sehingga berada di posisi belasan. Kemudian saya penasaran dan bertanya sambil jalan santai menuju sekolah.

“Kenapa nilaimu turun, bahkan ada beberapa yang dibawah KKM?”

Dia menjawab “Untuk apa nilai saya bagus kalau orang tua tidak mau melihatnya, saya berikan rapor saya kepadanya, malah disimpan saja di meja, seharusnya kan mereka bangga kepada anaknya“

 ***

Dari dua percakapan itu cukup menarik untuk diperbincangkan. Sebagai orang tua, mereka mempercayakan sepenuhnya bahwa pendidikan anaknya kepada gurunya di sekolah; sedangkan anaknya tidak cukup hanya mendapatkan pendidikan di sekolah, mereka membutuhkan kepedulian dan motivasi dari orang tua.

Orang tua yang bekerja dari pagi hingga petang, sering tidak menyadari bahwa ada seseorang yang rindu akan belaian kasih sayang. Rindu candaan, rindu berdiskusi, sehingga jangan heran jika ada anak yang tertutup dan mencari solusi dari luar, bukan dari keluarganya sendiri.

Jika sudah terjadi apa-apa, misalnya anak lebih suka menonton keluar dengan teman-temannya daripada di rumah, anak lebih memprioritaskan kepentingan orang lain daripada keluarganya; dan yang lebih parahnya lagi karena solusi yang diharapkan tidak ditemukan di rumah, maka mereka mencari solusi diluar yang mereka sendiri pun tidak tahu bahwa itu salah.

Seperti terjerumus narkoba dan pergaulan bebas, ini karena apa? Karena kurang pendampingan dan pemantauan dari orang tua. Guru di sekolah sebagai orang tua kedua bagi siswa hanya dapat mendidik, mengajar, mengarahkan selama jam pelajaran saja, sekitar 8 jam berada di sekolah. Sedangkan 16 jam lagi, anak-anak akan berada di rumah. Apalagi sekarang, pada masa pandemi, siswa sepenuhnya belajar di rumah, artinya orang tua bertanggungjawab sepenuhnya mendampingi anaknya melakukan aktivitas di rumah.

Bukan hanya memfasilitasi dengan memberikan smartphone, membelikan kuota internet, tetapi juga mendampingi anaknya selama pembelajaran berlangsung; agar anaknya merasa diperhatikan dan dapat membatasi mereka mengakses konten konten yang tidak baik pada smartphone itu sendiri.

 ***

Memang semenjak pembelajaran jarak jauh ini dimulai dan sampai hari ini masih berlangsung, banyak orang tua mengeluh. Karena pembelajaran jarak jauh ini dinilai kurang efektif.

Contohnya saja, meskipun guru berusaha menjelaskan dengan media seperti YouTube, WhatsApp Group, Google Classroom; tapi banyak siswa tidak menangkap materi dengan baik sehingga orang tua mencarikan solusi lain seperti mengajar anaknya sendiri.

Bukan hal yang mudah bagi orang tua yang basicnya bukan guru untuk menjelaskan materi; apalagi materi tingkat SMA. Sehingga orang tua mengeluh bahwa anaknya tidak mau belajar dengan orang tuanya sendiri; karena semakin tidak mengerti dan mereka berharap agar secepatnya kembali ke pembelajaran tatap muka.

Pandemi Covid- 19 ini menyadarkan bahwa peranan guru sangat penting dalam dunia pendidikan. Meskipun banyak teknologi yang menyebarkan informasi secara cepat. Dan semua siswa dapat mengakses materi dengan mudah, tinggal klik saja judul di internet kemudian semua informasi akan muncul dengan hitungan detik.

Tapi ada yang terlupakan bahwa teknologi tidak mengajarkan pendidikan karakter. Yang mengajarkan karakter itu adalah guru dan orang tua siswa.

Maka seharusnya, perlu kerjasama antara orang tua dan guru untuk pendidikan anak. Anak itu memerlukan figur yang dapat menjadi teladan. Karena mereka akan meniru apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat.

Orang Tua Adalah Madrasah Terbaik bagi Anak

Tempat pertama anak mendapatkan pendidikan adalah keluarga. Sebelum anak memasuki pendidikan formal, mereka memperoleh pendidikan dari keluarga, khususnya orang tuanya. Maka peranan orang tua sangatlah penting bagi pembentukan karakter dan perkembangan jiwa seorang anak.

Keluarga seharusnya menjadi tempat kembali. Artinya kemanapun mereka pergi akan selalu ingat pulang bahkan ingin cepat pulang, mereka merasa aman dan nyaman ketika berada bersama keluarganya. Dengan melalui pembiasaan ini, maka anak-anak akan terus mengingat mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan.

Pembelajaran tata krama, etika, moral dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan ini mulai dari keluarga itu sendiri. Dengan orang tua mempelajari karakter anak yang berbeda-beda, mereka akan menemukan solusi untuk membimbing, melatih, mendidik dan mengarahkan; agar anak-anaknya menjadi orang dengan mempunyai karakter yang baik. Bangga menyatakan mempunyai orang tua yang baik dan demokratis.

Orang Tua sebagai Penunjangan Potensi Anak

Orang tua harus dekat dengan anak, memberikan kebebasan kepada anak dalam mengembangkan bakat dan potensinya. Sehingga jika bakat dan potensi terus menerus diasah, maka anak akan semakin percaya diri yang nantinya akan membuat anak menjadi aktif, kreatif dan inovatif.

Kemudian, orang tua juga harus selalu menghargai apapun hasil dari pekerjaan anak, memberikan reward dari semua kerjaannya. Orang tua harus memberi memotivasi dan kebebasan untuk berkreasi agar mendapatkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang dapat menunjang pekerjaannya.

Terakhir, betapa pentingnya orang tua bagi anak untuk menjadi saling pengertian dan memahami. Caranya dengan terus berproses dan berlatih. Jika anak melakukan kesalahan, orang tua sering mengambil tindakan memarahi dengan dalih menasehati, tapi jika kita menanyakan bagaimana dan kenapa semuanya dapat terjadi dengan baik. Maka mereka akan menceritakan dengan terbuka sehingga solusi akan mudah didapatkan. Pendidikan terbaik berawal dari keluarga dan akan menjadi dasar anak-anak dalam menyikapi semua hal yang terjadi sekarang dan masa depannya.

Dan jika anak sudah belajar di lembaga pendidikan maka orang tua dan guru atau sekolah dan rumah perlu bekerja sama dalam mendidik anak atas dasar cinta dan kepedulian mereka agar tercipta generasi yang mempunyai berperilaku baik, aktif, cerdas, kreatif dan inovatif.

Bagikan:
Penulis 13 Tulisan

Dwi Sudarti

Penulis dan kontributor aktif di Rahma.ID, menyajikan inspirasi, pemikiran, dan pandangan yang mencerahkan bagi perempuan dan keluarga muslimah.

Leave a Comment