f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mahasiswa

Seratus Hari Menuju Ramadan, Umat Bisa Apa Ya?

Pada kurun waktu selama awal tahun 2020 sampai purna dan tergantikan oleh tahun 2021. Banyak hal yang telah terjadi dari segala sudut kehidupan dan turut merubah habit hidup kita. Bukan hanya mengenai kasus covid-19, namun juga terjadinya demonstrasi dan pergolakan yang terjadi akhir-akhir ini untuk menentang rezim semi otoritarian yang di pimpin presiden Jokowi.

Adapun koleksi peristiwanya dimulai dari lockdown di daerah-daerah, bencana banjir, gunung meletus dan bencana non alam yakni kasus korupsi bansos, pelanggaran HAM dan seribu peristiwa lainnya yang tak bisa disebutkan di sini. Dampaknya kini ternyata umat selalu sibuk membahas isu dan konflik terkini sehingga secara tak sadar kita melupakan hal yang justru harus dipersiapkan bahwa sebentar lagi memasuki bulan suci Ramadan. Terhitung dari tulisan ini dimuat, adalah 100 hari menuju bulan suci Ramadan . Memang Tak terasa yang namanya waktu, di mana ia cepat dan terus berjalan. Menebas tanpa pedang dan membunuh tanpa terasa.

***

Kini umat Islam hanya tinggal melewati dua bulan menuju Ramadan, yakni bulan Rajab dan Sya’ban. Sekarang sudah memasuki pertengan jumadil awal menuju jumadil akhir. Bulan Jumadil awal ini umat memasuki musim basah. Tetapi bukan musim hujan saja, melainkan musim basah pipi umat akibat bencana alam, dan korupsi yang menimpa bangsa ini dengan istiqomah dalam tahun pandemi ini. Selanjutnya, Bulan Jumadil Akhir yang terdiri dari 29 hari dan memiliki nama lain yaitu Jumadil Tsaniyah. Nama bulan ini berasal dari di sambutnya bulan baru yang bebasnya masa sulit yang di awali pada Jumadil Awal. Dalam arti bulan ini, semoga benar menjadi babakan baru untuk bangkit dari wabah pandemi dan wabah koruptor yang semakin merajalela.

Menyambut Bulan Ramadan

Beberapa hari di tahun 2021 telah bergulir hampir separuh perjalanan. Itu artinya waktu semakin mendekati bulan Ramadan. Sudah maklum bagi umat Islam merindukan bulan Ramadan. Bulan Ramadan memang istimewa terutama bagi umat muslim yang menyambutnya dengan berbagai bentuk, ada yang dengan menyambutnya di media sosial, lomba-lomba islami, buka bersama, sahur bersama dan bahkan tv nasional berlomba-lomba menampilkan iklan minuman sirup yang sangat identik di bulan Ramadan.

Baca Juga  Bertahan dengan Ikhtiar

Bukan hanya itu, hal ini bisa kita rasakan pada kehidupan di sekitar kita. Tidak hanya harga sembako yang secara perlahan tapi pasti mulai beranjak naik, tetapi juga semangat ibadah semua orang dari anak-anak hingga nenek-nenekpun semakin bertambah. Bahkan masjid dan mushalla mulai berbenah diri untuk menyambut, tarawih, tadarrus dan buka bersama. Ups, Ternyata itu semua terjadi di kurun beberapa tahun yang lalu.

Karena kegiatan ataupun bincang-bincang persiapan menuju bukan ramadan, dalam masa 4.0 terasa asing di telinga umat. Lantas kenapa itu bisa terjadi? Jawaban ada pada kehidupan sehari-sehari kita yang semakin jauh dari nilai-nilai agama. Bahkan tidak pandang bulu dari yang muda sampai tua mulai melupakan esensi beragama. Mari kita mengakui, termasuk diri penulis sendiri.

Amalan-amalan dalam Menyambut Bulan Ramadan

Lantas amalan-amalan apa yang sebaiknya di lakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadan ini? Pertama-tama ialah amalan hati , karena ini amalan terpenting karena berkaitan pada niat menyambut bulan Ramadan dengan lapang hati (ikhlas) dan gembira. Karena hal itu dapat menjauhkan diri dari api yang panasnya tujuh puluh kali dari api di bumi. Pada hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin menjelaskan dengan.

 مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

Artinya: (Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka). Bagaimanapun kondisi kita, sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa, karena hanya di bulan itu kita bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira. Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw dan para sahabat menyambut Ramadan dengan senyum dan tahmid, dan melepas kepergian Ramadhan dengan tangis. Gaya nabi dan para sahabat semoga menular pada kita dan bisa kita duplikasi dalam kehidupan nyata.

Baca Juga  Benarkah Tujuan Manusia Hanya Ibadah Saja?

Kedua, berziarah ke makam orangtua; mengirim doa untuk mereka yang sudah tiada. Menurut orang Jombang, daerah kelahiran saya, kegiatan ini dikenal dengan istilah kirim dongo poso, yaitu mengirim doa untuk para leluhur dan sekaligus bertawassul kepada mereka semoga di beri keselamatan dan berkah dalam menjalankan puasa selama sebulan mendatang. Tawassul dalam berdo’a merupakan anjuran dalam Islam.

Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Maidah ayat 35 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah: 35). Di riwayatkan pula dari sahabat Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulallah Muhammad s.a.w ketika menguburkan Fatimah binti Asad, ibu dari sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berdoa :  اَللَّهُمَّ بٍحَقٍّيْ وَحَقِّ الأنْبٍيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ اغْفِرْلأُمِّيْ بَعْدَ أُمِّيْ

Artinya: Ya Allah dengan hakku dan hak-hak para nabi sebelumku, Ampunilah dosa ibuku setelah  Engkau ampuni ibu kandungku. (H.R.Thabrani, Abu Naim, dan al-Haitsami) dan lain-lain.

***

Ketiga, saling memaafkan. Memaafkan memang tidak mudah, butuh proses dan perjuangan untuk melakukannya, namun hanya kebaikan bagi diri kita dan bagi orang lain yang akan menjadikan memaafkan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan. Para ahli psikologi mempercayai bahwa memaafkan memiliki efek yang sangat positif bagi kesehatan. Singkatnya, maaf itu mudah dan maaf itu mahal. Mengingat bulan Ramadan adalah bulan suci, maka tradisi bersucipun menjadi sangat seseuai ketika menghadapi bulan Ramadhan. Baik bersuci secara lahir seperti membersihkan rumah, pekaranga dan mengecat kembali mushalla, maupun bersuci secara bathin yang biasanya di terjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama umat muslim. Terutama keluarga, tetangga dan kawan-kawan.

Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178;  …فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ 

Baca Juga  Ingin Jadi Ibu Pekerja? Inilah 4 Jenis Support System yang Harus Diketahui

Maka, barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.(QS. 2:178)

***

Menurut sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus.

Dengan kata lain, jika seseorang ingin bebas dari kesalahan sesama manusia, hendaklah meminta maaf kepada yang bersangkutan. Begitu pula jika seseorang menginginkan kesucian diri guna menyambut bulan yang suci maka hendaklah saling memafkan. Pendek kata maaf adalah reoni hati yang isinya berdamai pada kenyataan dan melebur menjadi senyuman.

Berikut, di atas adalah tiga kiat menuju Ramadan. Bagaimanapun, lapang hati, berziarah, dan memaafkan adalah sebuah hal yang mulai asing kita lakukan dalam era modern yang penuh persaingan ini. Meski umat muslim selalu bertempur di persaingan dunia, kiranya juga berlomba-lomba untuk menyiapkan kehidupan di akhirat. Sebagai ikhtitam, semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada penghulu kita, Muhammad, serta keluarganya dan para sahabatnya seabadi kerajaan Allah. Terakhir, saya tidak punya kesimpulan apa-apa, semoga ada yang bergetar di lubuk hati ketika tulisan ini dibuat. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Editor : Lailatul Qoderia

Bagikan