Apa Salahku?
“Adik, kenapa sih kamu nggak bisa kayak dia?”
Pertanyaan yang paling sering kita dengar dari orang tua kita. Sebuah pertanyaan yang membandingkan kita dengan anak yang lain karena kita tidak pandai terhadap suatu bidang.
Apakah kita dianggap bodoh karena tidak bisa melakukan suatu bidang? Padahal kita lebih unggul dalam bidang yang lain yang tidak disadari oleh orang tua kita.
Lalu siapakah yang salah? Apakah kita sebagai anak, atau orang tua kita yang menjadi pendidik kita?
Memang benar apabila kita dibandingkan oleh orang tua kita. Kita merasa bahwa diri kita yang salah dan berkata kepada diri kita “kenapa saya tidak bisa seperti dia?”
Tetapi, banyak dari pembahasan tentang parenting; yang menjelaskan bahwa ini adalah sebuah kesalahan yang dilakukan oleh orang tua sebagai pendidik anak mereka.
Seperti halnya contoh permasalahan di atas. Hal itu membuat si anak memiliki sikap tidak percaya diri terhadap dirinya sendiri. Bahkan, menjadikan anak kita berbuat bohong, memiliki sikap iri, banyak menyembunyikan hal-hal pribadi, dan masih banyak lagi.
Kriminalitas dan Masa Golden Age
Ada sebuah penelitian kriminalitas dari profesor Harvard, James Q Wilson dan Richard J. Hernstein menyimpulkan bahwa; penyebab kriminalitas adalah kurangnya pelatihan atau pembentukan moral selama masa-masa pembentukan, yaitu pada usia satu hingga enam tahun.
Dari penelitian itu dapat kita asumsikan bahwa kriminalitas tidak terpengaruh karena lingkungan; tetapi karena pola pendidikan mereka ketika masih pada usia golden age atau usai dini.
Pada masa inilah pembentukan moral kepribadian anak sangat berpengaruh besar terhadap kehidupannya masa selanjutnya. Lalu apabila terjadi sebuah kesalahan pada proses pendidikan atau pembentukan moral. Apakah bagaimana dengan masa depan anak-anak tersebut?
Maka dari sinilah para otang tua harus sangat memperhatikan pendidikan pada usia golden age atau usia dini. Karena pada saat usia ini terdapat proses pembentukan karakter dasar bagi anak untuk masa depannya.
Cara Membentuk Karakter
Ada beberapa cara untuk membentuk karakter anak yang dapat kita mulai sejak dini. Salah satunya dengan menanamkan nilai-nilai pada tiap titik. Yaitu nilai-nilai tentang kebenaran, kejujuran, rasa tanggung jawab, solidaritas, toleransi, dan lain sebagainya.
Dan orang tua haruslah berperan penuh. Jika tidak, maka peran ini akan tergantikan oleh media massa dan internet. Media sosial akan menanamkan nilai-nilai tentang kekerasan, balas dendam, kedengkian dan lain sebagainya.
Cara selanjutnya yaitu dengan membiarkan dia menghadapi permasalahan yang sulit. Tetapi tentu membutuhkan pendampingan dari orang tua.
Kehidupan di dunia ini ke depan sangatlah keras apabila kita tidak bisa beradaptasi dan menyelesaikannya. Lalu mau bagaimanakah cara kita untuk bertahan hidup?
Memang benar ketika seorang anak kecil menghadapi sebuah kesulitan; maka dia akan belajar untuk masa depannya. Dan berpikir “Jika saya menghadapi hal seperti ini; saya harus seperti ini. Untuk bisa meyelesaikannya.” Tetapi apabila orang tua tidak dapat mengambil peran dalam pembentukan ini. Maka sama saja. Tidak akan berarti pendidikan tersebut, membiarkan anak menghadapi hal yang sulit. Sebab mereka belum mengerti tentang kehidupan.
Dalam pembelajaran menghadapi masalah ini, peran orang tua bagi anak adalah sebagai pendamping, panutan, tempat cerita, tempat curhat, dan lain sebagainya.
Membelajarkan Rasa Tanggung Jawab dengan Pendekatan Agama
Cara berikutnya yaitu dengan memberikan anak sebuah tanggung jawab yang sederhana. Seperti halnya contoh ketika anak disuruh untuk menaruh barang-barangnya di tempat yang semestinya. Para orang tua itu sedang membelajarkan kepada anak rasa tanggung jawab untuk meletakkan barang-barang miliknya dia pada tempatnya.
Tetapi ketika kedisiplinan ini tidak ada sebuah pengawasan dari orang tua. Maka akan sama saja. Sebab jika tidak ada pengawasan dan pendampingan, Anak akan merasa jenuh, dan tidak meletakkan barang pada tempatnya. Peran orang tua dapat berupa mengingatkan, mengawasi, dan selalu menyemangati para anak mereka.
Ada juga cara yang menurut saya efisien, tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melakukannya. Yaitu dengan cara menanamkan pemahaman tentang agama.
Kenapa cara ini efisien? Karena dengan cara ini para orang tua lebih bisa menjaga anak secara bertahap dan berkelanjutan. Bahkan ketika kita tidak ada di sisinya.
Menurut pendapat dari bapak Minto, seorang ketua Yayasan Pendidikan Alquran; bahwa pembentukan moral atau karakter anak melalui pendekatan agama sangatlah tepat. Karena bisa menjadikan anak madiri dan memiliki pendirian sendiri.
Tetapi, cara ini harus melewati dua tahapan. Dan tahapan ini orang tua tidak bisa melakukannya langsung ke tahapan kedua tanpa melewati tahapan pertama.
Tahapan pertama yaitu dengan mengenalkan agama, Tuhan, dan ciptaannya. Dan tahapan kedua yaitu mengimplementasikan dari pengetahuan Tahapan pertama tersebut. Sehingga, anak mengetahui cara beriman kepada Tuhannya.
Dari uraian di atas, orang tua dapat mengetahui; bahwa pendekatan agama untuk membentuk karakter memang termasuk pendekatan yang paling efisien, karena sifatnya yang berkelanjutan.
Alumni SMA Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta; mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang; Pengajar di Yayasan Pendidikan Alquran di desa Sumberagung Plumpang Tuban.
