Visi Harian Seorang Muslim
Untuk melakukan sesuatu kita memerlukan petunjuk atau arahan. Apakah itu melakukan suatu pekerjaan atau melakukan sebuah perjalanan atau mengoperasikan sebuah alat. Tujuannya, supaya apa sesuatu yang kita itu berjalan normal dan aman. Biasanya arahan ini kemudian dijadikan landasan untuk membentuk visi.
Salah satu pengertian visi dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah, pandangan atau wawasan ke depan. Visi menjadi acuan bagi seseorang atau lembaga dalam menjalankan aktivitasnya menuju misi atau tujuan yang ingin diraih.
Seorang muslim sudah jelas disebutkan dalam al-Qur’an bahwa tujuan hidupnya adalah untuk beribadah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Adz-Dzariyat ayat 56 dan surat al-Baqarah ayat 21.
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 21).
Pertanyaannya, bagaimana seorang muslim menjalani hidup dengan harus beribadah, sementara dia pun harus berlaku sebagai seorang makhluk sosial yang harus bekerja, bergaul dan berinteraksi dengan sesama?
Diperlukan sebuah visi untuk menjawab pertanyaan di atas. Lalu, bagaimana visi yang harus dimiliki oleh seorang muslim?
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa setiap pagi dengan doa berikut:
Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah).
Dalam doa di atas, ada 3 petunjuk yang harus dijadikan visi untuk menjalani hidup, yaitu:
– Ilmu yang bermanfaat,
– Rezeki yang baik,
– Amal yang diterima.
Itulah mengapa Rasulullah SAW mengajarkan doa ini dibaca setiap pagi. Supaya aktivitas harian seorang muslim harus mengacu kepada ketiga hal tersebut.
Ilmu yang Bermanfaat
Ilmu adalah landasan untuk melakukan sesuatu dengan benar. Seorang muslim dilarang melakukan sesuatu tanpa dilandasi ilmu atau pengetahuan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Isra ayat 36.
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Seorang muslim dituntut setiap hari untuk mencari ilmu, ilmu dunia (sains) atau ilmu agama (syariat), serta harus menambah wawasan untuk bekal dalam menjalankan peran hidupnya, yaitu beribadah atau bermu’amalah.
Bahkan Rasulullah SAW mewajibkan seorang muslim harus menuntut ilmu, beliau bersabda:
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim”. [HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]
Jadi, visi harian seorang muslim yang pertama adalah harus mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Rezeki yang Baik
Rezeki adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia untuk bekal hidup. Ada rezeki yang diberikan langsung oleh Allah SWT tanpa perlu diupayakan, dan ada yang harus melalui usaha.
Untuk mendapatkan rezeki yang baik, tentu harus melalui usaha atau ikhtiar yang baik pula. Oleh karenanya, harus menjadi perhatian bagi seorang muslim bahwa ikhtiar yang dilakukannya harus benar dan tidak melanggar tuntutan syariat. Ikhtiar yang sesuai syariat ini harus menjadi visi harian yang kedua bagi seorang muslim.
Amal yang Diterima
Sudah menjadi pemahaman bagi seorang muslim, bahwa hidup di dunia ini hanya sementara untuk mencapai hidup abadi di akhirat. Kondisi nanti kita di alam baka ditentukan oleh perbuatan (amal) kita selama hidup di dunia. Kebahagiaan akan dirasakan oleh kita di alam baka nanti, manakala kita membawa pahala yang banyak.
Pahala atau ganjaran akan diberikan oleh Allah SWT apabila kita melakukan amal yang sesuai dengan petunjuk-Nya atau amal itu diterima oleh-Nya. Sehingga, visi harian ketiga seorang muslim adalah berusaha supaya amal yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT.
Itulah ketiga visi harian seorang muslim. Jadi, seorang muslim di setiap pagi sebelum melakukan aktivitasnya harus bertekad untuk memperoleh: ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.
Muhasabah
Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, artinya secara etimologis melakukan perhitungan. Dalam terminologi syari, muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya.
Setelah melakukan sesuatu perlu dilakukan evaluasi untuk melihat apakah pekerjaan itu sudah dilakukan dengan benar, atau sudah sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Rasulullah SAW mengajarkan setiap muslim untuk melakukan evaluasi atau instrospeksi (muhasabah) setiap malam. Apakah seharian hidup kita lebih banyak melakukan kesalahan atau melakukan perbuatan baik.
Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “Orang yang pandai adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sedang orang yang lemah adalah orang yang jiwanya selalu tunduk pada nafsunya dan mengharap pada Allah dengan berbagai angan-angan.” (H.R Ahmad dan Tirmidzi)
Dalam mengintrospeksi diri tersebut, ketiga visi harian di atas bisa dijadikan acuan. Setiap malam, sebelum tidur, hendaknya kita instrospeksi atau bermuhasabah:
Apakah hari ini kita telah mendapatkan ilmu yang bermanfaat?
Apakah hari ini kita telah berusaha memperoleh rezeki yang baik? dan
Apakah hari ini amal-amal kita diterima oleh Allah SWT?
Saat jawaban dari ketiga pertanyaan itu YA, kita patut bersyukur. Namun, sebaliknya kalau jawaban salah satu atau bahkan ketiganya adalah TIDAK. Maka, kita haru segera ber-istghfar memohon ampun kepada Allah SWT.
Muhasabah penting dilakukan sebelum dan memang kita akan dihisab oleh Allah SWT kelak. Sebagaimana nasihat Umar bin Khaththab RA.
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini daripada besok (hari kiamat). Dan bersiaplah untuk menghadapi pertemuan terbesar. Ketika itu, kalian diperlihatkan dan tidak ada sesuatu pun pada kalian yang tersembunyi.” (Az Zuhd, Ahmad bin Hambal, h. 177)
Muhasabah penting dilakukan sehingga kita bisa melakukan perbaikan di hari esok.
Pegawai BUMN tinggal di Tasikmalaya, aktif menulis di blog pribadi, kompasiana, grup-grup FB, dll.
Twitter : @wid_urip
