Tetap Selow dalam Situasi Menjengkelkan
“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada kita), ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita“ – Filosofi Teras.
Semenjak d irumah saja, agar tetap mencapai KPI, sejak tahun 2020 lalu hampir semua perkantoran mengoptimalkan fungsi teknologi. Kegiatan yang tadinya offline, dibuat online. Hampir saban hari ada saja invitation zoom call berseliweran di badan email. Kondisi tersebut mau tak mau menjadi sebuah “kenormalan baru”. Kira-kira begitu aktivitas perkantoran di kantor saya bekerja.
Meskipun teknologi ini tetap bisa menghubungkan kita secara virtual; namun tidak bisa dipungkiri tetap saja ada kebosanan, rasa jengkel muncul acap kali ada saja partisipan yang kelupaan unmute, jaringan yang tidak stabil, semua partisipan ingin berbicara dalam satu momen, atau miss communication. Seperti kejadian yang saya alami.
Awalnya meeting tim virtual berjalan lancar, hingga karena data yang saya cantumkan salah, di saat yang bersamaan semua partisipan berbicara serempak. Bukannya penjelasan tersampaikan dan dimengerti yang terjadi malah kena ‘semprotan’. Selama kena semprot, saya mencoba mengolah nafas, inhale-exhale, begitu berkali-kali.
Tanpa ada konsen dan permisi, saya merasa ’semprotan’ ini jelas layaknya ‘emotional dumping”. Secara teori emotional dumping bisa terjadi pada orang yang keseringan gusar atau ketakutan. Perasaan tersebut kemudian menyebabkan tubuh memikul beban yang berat karena menahan tensi yang berlebihan dan tak tertahankan. Sehingga inilah yang membuat seseorang tidak dapat berpikiran jernih, kehilangan perspektif, dan meledak mencak-mencak macam bocah. Mungkin sangking sumpeknya di rumah aja.
***
Tapi syukurnya, selain mengolah nafas, di saat itu juga saya teringat sebuah prinsip “Dikotomi kendali (dichotomy of control) dari filsuf Stoa. Dikotomi kendali dianggap sebagai prinsip fundamental oleh semua filsuf Stoa; bahwa ada hal-hal di dalam hidup yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak. Nah, hal apa saja yang tidak di bawah kendali kita misalnya: opini orang lain, tindakan orang lain terhadap kita, dst. Sementara hal yang di bawah kendali kita adalah pertimbangan (judjement), opini atau persepsi kita, keinginan kita, tujuan kita, dan segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.
Filsuf Stoa mengajarkan bahwa kedamaian atau kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari hal yang bisa kita kendalikan. Sebaliknya, kita pun tidak bisa menggantungkan kedamaian dan kebahagiaan kepada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Itulah kenapa saya lebih memilih hanya fokus pada hal yang saya bisa kendalikan saja, yaitu cukup mendengarkan dan mengolah pernafasan. Karena saya tau betul merepet itu sangat menguras energi dan melelahkan. Dan saya tidak mau membuang energi saya dengan percuma.
Selain itu menurut Filsuf Stoa, manusia yang rasional diharapkan mampu untuk menahan diri dari hal-hal yang ada di luar kendalinya. Dalam kasus saya, saat itu mencoba untuk menahan diri saja agar tidak terpancing emosi. Meskipun saya kena semprot, toh saya masih memiliki kemerdekaan dan kebebasan untuk “memberikan respon” baik respon di dalam diri maupun di dalam pikiran.
Dengan begitu, saya masih bisa tetap mempertahankan mood, masih bisa menyampaikan terima kasih atas apa yang telah di sampaikan dengan legowo, serta dapat menyelesaikan presentasi tanpa merasa terpojokkan atau malu sekalipun karena kena omelan. Karena balik lagi, kebahagiaan atau kedamaian ada dalam kendali saya. Bukan dari orang lain!
***
Jadi kalimat kebahagiaan itu kita yang tentukan, benar banget, kalau berdasarkan dikotomi kendali. Bagi pengalaman pribadi, dikotomi kendali sangat bisa membantu kita dalam melalui kondisi atau situasi sulit. Karena kita tidak perlu pusing dengan opini orang lain, yang di luar kendali. Dalam kasus saya, setelah menyelesaikan presentasi dan memberikan klarifikasi kekeliruan data tercantum, yang itu semuanya ada dalam kendali saya. Maka itu sudahlah cukup. Selanjutnya relax and enjoy the result.
Learning Self-Healing Enthusiastic

Fiqry
Yess kak
Dian Mayasari
Salam kenal, dan thank sudah komen.