f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
yang tua belajar

Sejumput Asa di Haji yang Tertunda

Oleh : Sofyan Aziz *)

Ibadah Haji bagi sebagian Muslim dimaknai sebagai kesempurnaan dalam beragama. Rukun Islam yang kelima ini adalah manifestasi seorang Insan Kamil, belum sempurna kemanusiaannya jika belum bertitel haji. Faktanya orang-orang yang seharusnya ‘terpanggil’ untuk beribadah di tanah suci di tahun ini harus memendam euforia eksistensinya. Sebagian eksis di mata Allah, sebagian lain bisa jadi hanya ingin eksis di mata para manusia lain.

Ibadah haji tidak hanya berbicara masalah ritual beribadah saja. Dalam ibadah ini sarat dengan nuansa politik, ritual budaya, ekonomi, dan sosial yang melingkupinya. Misalnya, dalam dunia politik praktis, gelar haji bisa menjadi salah satu titel mentereng yang kadang dikamuflasekan sebagai sosok bersih dan antikorupsi, karena pesona religiusitasnya. Maka tak jarang, baliho dan spanduk para politikus, apalagi jelang perhelatan pemilihan, tak kan pernah meninggalkan penggunaan gelar ini di depan namanya. Dengan senyum lebar dan jari jempol ditegakkan.

Dalam praktek ritual budaya, ibadah haji bagi masyarakat tertentu, dipersepsikan sebagai sebuah kebiasaan yang turun temurun. Kebiasaan-kebiasaan seputar perhelatan ibadah ini, seperti misalnya keharusan untuk mengunjungi si calon jemaah sebelum keberangkatan, dengan membawa sekilo dua kilo gula pasir dan teh. Ada juga ritual prosesi pengantaran calon jemaah ke embarkasi terdekat dengan merelakan waktu dan tenaga, dengan penuh hura-hura. Ada juga yang menyelenggarakan slametan mewah, dan sebagainya.

Kalau dalam hal ekonomi, ibadah haji adalah perlambang kesuksesan seseorang dalam mencari materi dunia. Ia belum akan dianggap kaya ‘beneran’, jika belum pernah ziarah ke Makkah. Dus dengan demikian, kelas sosial mereka akan terkerek ke atas. Berkumpul bersama orang-orang ‘ningrat’ lainnya, yang telah sama-sama naik haji. Bangga betul rasanya dipanggil dengan “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”.

Baca Juga  Siapa Bilang Perempuan Haid Boleh Berpuasa?

Ibadah Haji adalah Tujuan Hidup

Tidak, saya tidak sedang meng-generalisasi-kan hal ini. Karena tidak semua jamaah melakukan ibadah Haji dengan dalih duniawi semacam tulisan di atas. Masih banyak yang beribadah demi ibadah itu sendiri, demi penghambaan kepada sang Pencipta.

Terlepas dari apapun latar belakang pelaksanaan ibadah ini, nyatanya ia telah menjadi semacam cita-cita atau tujuan hidup. Mengingat betapa sulit dan lamanya melakukan ibadah ini, bagi sebagian besar masyarakat. Ada uang, waktu, dan tenaga yang harus diinvestasikan sedini mungkin. Biaya beribadah yang tak sedikit, dengan waktu menunggu yang bertahun-tahun, menjadikan ibadah ini nampak membutuhkan effort yang ekstra untuk menggapainya.

Hingga kemudian wabah Korona mengusik asa para calon jamaah, terlebih untuk mereka yang seharusnya bisa berangkat tahun ini, dan untuk mereka-mereka yang lain yang ada dalam daftar tunggu untuk tahun-tahun berikutnya. Mereka harus memendam kekecawaan yang teramat dalam, untuk sejenak menunda ziarah ke makam Nabi, ataupun mereka yang berdalih dengan dalih duniawi belaka.

Dari sini kita lebih bisa belajar, bahwa ada hal-hal di luar kuasa manusia. Dengan masalah ini kita menjadi semakin percaya bahwa ada kuasa sang Maha dibalik setiap peristiwa. Manusia tinggal menjalani dan mematutkan diri. Itulah satu resep manjur cara kita mengobati kekecewaan ketika asa ke tanah suci tertunda.

Hamba yang Belajar

Dari peristiwa ini, paling tidak kita bisa belajar pada 4 hal, yaitu belajar ikhlas, belajar percaya akan adanya takdir, tetap berprasangka baik kepada Allah, dan belajar mengukur batas kemampuan diri.

Yang pertama, ridho atau ikhlas. Maqom ini dalam khasanah tasawuf mempunyai kedudukan tertinggi dalam menapaki tangga tasawuf. Gampangnya, para jamaah yang gagal tidak perlu bersusah payah menapaki tangga tasawuf itu, asal dia sudah ridho bahwa ini adalah kehendak-Nya, maka kedudukan kita sudah sedemikian tinggi secara ruhani. Tanpa repot-repot lagi untuk bertarekat. Mantab kan.

Baca Juga  Al-Ghazali : Pahala Puasa Tidak Terikat Dengan Hitungan Matematis

Yang kedua, takdir. Takdir adalah ketentuan Allah yang sudah ditentukan. Bahkan tidak ada sehelai daun pun yang gugur tanpa seijin-Nya. Apalagi peristiwa besar seperti Korona ataupun penundaan ibadah haji secara besar-besaran seperti ini. Percaya deh, ini sudah diatur dengan indah oleh sang Pengatur. Apa-apa yang berasal dari-Nya pasti baik bagi makhluk.

Yang ketiga, berprasangka baik. Belajar berprasangka baik kepada Allah. Kadang kita sebagai manusia dipenuhi oleh kecurigaan-kecurigaan kepada liyan dengan dalih waspada. Sifat manusiawi yang ego centris. Namun hal ini jangan diterapkan kepada Allah, karena yang datang dari Allah pasti yang terbaik untuk kita.

Yang keempat, mampu. Kita tahu bahwa syarat wajib menjalankan ibadah haji setidaknya ada 5, yaitu Islam, berakal sehat, baligh, merdeka, dan mampu. Syarat mampu yang selama ini dipandang ‘hanya’ melulu kecukupan materi alias biaya ONH, sekarang nampak perlunya perluasan makna.

Memaknai Kembali Syarat Mampu

Mampu untuk membayar biaya haji beserta tetek bengeknya memang yang utama. Namun ada banyak faktor ‘mampu’ yang tak kalah pentingnya.

Yang pertama, mengenai daftar tunggu naik haji yang terus bertambah dari waktu ke waktu, seiring dengan membaiknya sektor ekonomi dan meningkatnya faktor religiusitas masyarakat. Misalnya kita sudah membayar ONH dan mendapatkan nomor porsi, maka setidaknya kita sudah menggugurkan kewajiban kita sebagai sosok yang dipandang mampu namun belum kesampaian untuk menunaikan haji. Setelahnya, serahkan pada roda takdir, apakah kita jadi dipanggil ke Baitullah atau belum?

Yang kedua, memperhatikan kuota haji yang dijatahkan oleh pemerintah Arab Saudi. Hal ini juga ikut andil sebagai salah satu faktor lamanya daftar tunggu.

Yang ketiga, keadaan faktor keselamatan. Biasanya hal ini berkaitan dengan keamanan ataupun kesehatan secara umum. Konflik sosial politik atau merebaknya wabah seperti saat ini.

Baca Juga  Panduan Penyelenggaraan Ibadah Iduladha 1441 H/2020

Maka di sini saatnya kita mengambil sedikit pelajaran. Bahwa para calon jamaah yang telah menunggu cukup lama, nampaknya masih perlu bersabar lagi. Jangan terlalu risau, niatmu ibadah sudah tercatat dengan apik di buku catatan amalmu. Dengan demikian, setidaknya telah gugur satu kewajibanmu.

Ingat bahwa masih tetap ada asa walau sejumput untukmu yang berhalangan naik haji di tahun ini, patutkan diri dan jadilah insan kamil dengan sebenar-benarnya.

***

Rembang, 25 Juni 2020

*) Penulis adalah Guru PAI, Koordinator Lingkar Diskusi Sarang .                                                  

                                                                    

                                                                    

                           

Bagikan
Post tags:
Post a Comment