f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Renungan Untuk Meminimalkan Tangisan Anak

Beberapa pekan yang lalu, bimbingan belajar milik saya mendapatkan kunjungan dari seorang teman dari Jerman. Sebuah kunjungan wisata yang saya manfaatkan sebagai ajang latihan bagi anak-anak les untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris mereka, meskipun alakadarnya. Paling tidak, anak belajar berinteraksi secara langsung dengan bule asli. Kebetulan si bapak bule ini juga seorang guru Bahasa Jerman di sebuah Elementary School di sana. Jadi, lumayan nyambung, karena kami memiliki atensi di bidang yang sama.

Ada beberapa poin penting yang menjadi bahan diskusi kami bersama pak Marco selama kurang lebih 120 menit sore itu (bahkan kami memanggilnya dengan sebutan pak, ngapunten njih pak). Salah satu pembahasan panjang kami adalah ketika seorang anak les dari kelas 9 menanyakan jenis game online apa yang dimainkan oleh anak-anak di sana. Betapa terkejutnya kami semua ketika dia menjelaskan bahwa anak-anak didiknya tidak tahu tentang Free Fire, Mobile Legend, dan kawan-kawannya. Mereka hanya bermain play station karena tidak banyak yang mengenal game online.

Terbatasnya akses dunia digital menyebabkan hanya sedikit anak-anak Jerman yang berinteraksi dengan gadget. Sebuah kenyataan yang jauh dari fenomena menyakitkan yang kita hadapi sekarang. Banyak anak-anak usia sekolah kita lebih menikmati interaksi dengan game online dan berselancar di dunia maya. Sampai akhirnya mengacuhkan interaksi mereka dengan buku-buku dan lingkungan sekitar. Entahlah, anak-anak kita yang lebih beruntung daripada anak-anak Jerman atau kita para orang tua yang kurang aware terhadap keselamatan mental anak-anak.

***

Pembahasan tentang dunia digital ini merembet ke sebuah pertanyaan lain dari seorang siswa les kelas 7 (jujur saja, saya cukup amazing dengan rasa ingin tahu anak-anak didik saya). Dia bertanya, bagaimana anak-anak Jerman menjalani kegiatan pembelajaran selama pandemi sementara mereka juga menghadapi keterbatasan akses digital.

Baca Juga  Ketika Orang Tua Bermain Media Sosial

Dan jawaban dari pak Marco adalah, anak-anak Jerman tetap menjalani pembelajaran jarak jauh, sama seperti anak-anak di Indonesia dan di negara-negara lain. Para guru di Jerman membimbing para siswa lewat sambungan telepon. Beberapa kali menjelaskan tentang materi dan tugas lewat video call, selebihnya para guru menelepon siswanya satu persatu untuk menstabilkan suasana belajar dan sebagai personal approachment. Jadi anak-anak tetap dalam dalam situasi belajar meskipun berada di rumah saja. Sedangkan tugas hanya diberikan ketika materi dirasa belum dipahami secara sempurna. Wow.

Rasanya tak perlu saya beberkan satu persatu alasan “wow” yang meluncur begitu saja dari mulut nyinyir saya. Dan, lagi-lagi saya hanya bisa ber “entahlah”. Ketika anak-anak Jerman memiliki keterbatasan akses digital, mereka memiliki akses tanpa batas untuk tetap keep in touch dengan para gurunya dan suasana belajar mereka. What about ours?

***

Keterkejutan kami masih belum selesai saat pak Marco mengungkapkan “wow” versinya ketika melihat fakta bahwa anak-anak les yang datang ke bimbel sore ini sebagian besar mengendarai sepeda motor sendiri. Karena menurutnya, di Jerman tidak ada anak yang mendapat ijin untuk mengendarai kendaraan sebelum mendapatkan lisence terlebih dahulu. Sedangkan ijin mengemudi baru bisa diperoleh ketika mereka duduk di senior high school.

Dan, “wow” nya pak Marco semakin bulat setelah merasakan sendiri lalu lintas yang harus ia lewati ketika menuju bimbel Pintar. Ya, jalan utama menuju bimbingan belajar yang saya bangun ini memang harus melewati jalur utama pantura. Terbayang kan, segala model kendaraan dengan ragam style berkendara yang melintasi. Ada bus besar dan kecil antar kota antar propinsi, truk muatan dari ukuran kecil sampai yang segede kereta api (hehe), tronton, trailer, mobil-mobil pribadi, tak lupa juga sering ada konvoi motor gede dan iringan pejabat yang cari sensasi. Mereka melintasi jalanan serasa milik sendiri. Ngeri.

Anak-anak les yang mengikuti special session bersama pak Marco sore itu adalah remaja-remaja SMP yang notebene masih labil, masih “kemrungsung”, masih belum memiliki self control yang memadai saat mengendalikan si kuda besi. Dan mereka mengendarai motor sendiri melewati jalanan dengan taraf kesulitan seperti itu. Semoga keselamatan dan perlindungan Tuhan selalu menyertai anak-anak ketika di jalan. Aamiin.

Baca Juga  Mengenang Bapakku
***

Banyak hal yang tanpa sadar telah kita lakukan pada anak, hanya dengan pertimbangan “gengsi”, trend masa kini, kepraktisan, tidak mau repot, dan “toh yang lain juga kayak gitu”. Pertimbangan keselamatan dan keamanan anak sering terabaikan oleh kita para orang tua. Tanpa sadar, kita mempersiapkan tangisan-tangisan yang nantinya kita sendirilah yang akan menikmatinya.

Seperti pemandangan yang sering saya temui di jalanan, terutama pada di akhir pekan. Para orang tua berkendara sepeda motor, muter-muter kampung (eh sering ketemu di jalan raya juga sih) sambil membawa anak yang masih kecil. Anaknya membonceng sambil berdiri di belakang bapaknya, masih untung kalau ibunya memegang badan si anak secara keseluruhan, terkadang si ibu hanya memegang kaki anak. Gak kebayang deh, kalau misal si anak bergerak-gerak di atas motor yang melaju di jalanan. Belum-belum, udah ngilu saya membayangkannya.

Halah, itu sih bu Dinul aja yang lebay, over thinking. Para bapak sudah pasti lebih lincah mengendalikan motor dengan berbagai situasi. Iya juga sih. Mungkin karena saya pernah mengalami kecelakaan motor yang meninggalkan jejak cacat fisik dan trauma psikis, hingga akhirnya membuat saya selalu banyak pertimbangan tentang segala hal yang terkait dengan “keselamatan berkendara”. Akibatnya, saya baru memberi ijin membawa motor sendiri untuk anak saya setelah dia selesai ujian nasional SMP. Dengan pertimbangan, di usianya tersebut sudah cukup memahami perlunya bertanggung jawab dengan dirinya sendiri.

***

Sebenarnya banyak kejadian ceroboh lain yang sering saya temui. Seperti kejadian yang saya alami hari ini di minimarket. Seorang ibu sedang sibuk memilih belanjaan, bersama seorang anak balita yang dibiarkan berjalan sendiri tanpa digandeng. Tanpa si ibu sadari, anaknya sudah jalan-jalan sendiri sampai di pintu masuk minimarket. Hampir saja si anak tertabrak orang yang baru masuk ke minimarket tersebut. Tiba-tiba pemikiran saya terbersit bagaimana kalau sampai anak tadi tiba-tiba nyelonong keluar. Padahal minimarket ini berada tepat di tepi jalan raya. Ih, ngeriii.

Maka dari itu, saya lebih sering memilih berbelanja bersama suami. Selain sebagai back up dana belanja yang mungkin bisa kurang (hehe) juga sebagai penjaga anak, agar saya leluasa berbelanja tanpa takut kehilangan pantauan atas anak. Ya, meminimalkan insiden dan tangisan yang mungkin akan saya hadapi.

Bagikan
Post a Comment