f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sedekah media sosial

Publikasi Sedekah di Media Sosial, Kenapa Tidak?

“Kenapa sih kalau sedekah selalu dipost di Facebook? Kalau sedekah itu lebih baik diam-diam tanpa orang lain tahu.”. Komentar salah satu Netizen Yang Maha Benar pada postingan tentang kegiatan sedekah di salah satu akun FB komunitas yang memposting kegiatan sedekahnya. Pendapat lain bernada serupa memenuhi kolom komentar postingan tersebut.

Bak debat antara pro dan kontra masing-masing netizen memberikan pandangan dan pendapatnya. Sampai-sampai admin harus menyunting dan memberikan efek buram pada foto penerima sedekah. Beberapa netizen juga memiliki pendapat lain, yaitu sepakat dengan admin FB komunitas untuk mempublikasikan sedekahnya.

Tidak sekedar memberikan efek buram foto penerima sedekah, Admin FB komunitas tersebut  bahkan menambahkan postingan lainnya tentang topik sama pada hari berbeda. Tentu saja postingannya kembali menuai komentar pro dan kontra.

Komentar-komentar kontra khas memuat gaya bahasa sinisme. Mudah sekali jari-jari netizen menuliskan ungkapan-ungkapan berikut:

“Tak perlu kali min, bersedekah diunggah ke media sosial. Masih bisakah itu dikatakan ikhlas?”

“Percuma sedekah kalau diumbar-umbar seperti ini. Tidak ada faedahnya.”

“Berkurang pahala sedekah ini min, diunggah pula.”

Komentar sinisme seperti itu memang sering muncul dalam media sosial. Setiap orang memiliki profil online saat ini. Kondisi ini menciptakan beberapa generasi dengan kepribadian “Snobs”. Mereka yang memiliki kepribadian “Snobs” ini bersembunyi di balik ponsel dan mengamati postingan media sosial teman-teman mereka.

Mereka akan lebih cenderung mengupayakan diri mereka tampak lebih baik dari orang lain. Tampak sedikit angkuh, tetapi keangkuhan ini bagi mereka bukan menjadi masalah. Yang terpenting adalah bagaimana caranya agar tetap mendapat perhatian orang lain. Walaupun dengan menampilkan komentar yang bertentangan.

Begitu terdapat perbedaan pandangan dan pola pikir dengan yang ada dalam pikiran mereka, maka komentar sinisme bahkan terkadang umpatan dan caci-maki terketik di kolom komentar. Keangkuhan bermedia sosial muncul dengan beragam penilaian akibat perbedaan paradigma atau sudut pandang kecil.

Baca Juga  Ketika Televisi Tak Lagi Berguna

Sigmund Freud, Bapak Psikologi Modern, pernah mencetuskan teori “narcissism of small differences”. Sebuah teori yang menyatakan bahwa komunitas dengan hubungan yang dekat cenderung terlibat perselisihan dan ejekan timbal balik.

Selisih paham akan muncul hanya karena lebih sensitif terhadap perbedaan kecil. Mungkin termasuk dalam perbedaan untuk menampilkan atau tidak kegiatan sedekah di media sosial.

Persis seperti yang diperdebatkan, publikasi dan dokumentasi sedekah pada media sosial menimbulkan “narcissism of small differences”. Perbedaan antara menampilkan foto memberikan sedekah dan tidak menampilkan terkadang menjadi masalah besar. Masalah ego atau narsis untuk sekedar tayang pada kolom komentar.

Kecenderungan memberikan komentar negatif agar merasa lebih baik dari orang yang dikomentari memang menjadi masalah besar. Kemudian penggunaan media sosial yang semakin meluas memberikan ruang yang sangat besar untuk memberikan komentar-komentar miring ini. Kita acap kali tidak memikirkan terlebih dahulu dampak dari komentar negatif yang kita berikan. Terutama terkait komentar negatif seputar publikasi kegiatan sedekah.

Padahal bila Netizen muslim dan muslimah sedikit saja mengurangi sifat “Snobs” nya. Kemudian mencari tahu terlebih dahulu apakah memposting foto saat memberi sedekah diperbolehkan atau tidak. Maka, jawaban untuk bolehkah publikasi dan dokumentasi sedekah sudah jelas terdapat dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

“Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Baqarah : 271)

Jadi, jelas bahwa sedekah boleh secara sembunyi dan secara terang-terangan. Termasuk untuk melakukan publikasi dan dokumentasinya. Tentu setelah mendapat izin dari individu yang difoto. Yang tidak boleh adalah terang-terangan tidak sedekah dan hanya bisa memberikan komentar sinisme.

Baca Juga  Langkah Awal Bagi Korban Kekerasan Seksual

Publikasi dan dokumentasi sedekah di era media sosial dan perkembangan teknologi adalah hal yang lumrah. Sudah biasa terjadi, jadi maklum saja. Perusahaan, yayasan, lembaga, dan organisasi tertentu juga sering menampilkan pubdok pemberian sedekah.

Tujuannya baiknya sebagai sarana ajakkan untuk bersedekah, promosi, dan branding organisasi dan lembaga agar lebih banyak orang yang menyisihkan rezekinya membantu orang lain. Bahkan foto tersebut terkadang perlu untuk laporan pertanggungjawaban lembaga.

Selain itu, urusan tulus, ikhlas, riya’ dan pahala dari sedekah itu bukan urusan antara manusia. Melainkan urusan manusia dengan pencipta-Nya. Sungguh terlalu sombong bila kita memberikan pendapat bahwa, “Pahala pemberi sedekah berkurang karena menampilkan foto ketika memberikan bungkusan berisi bantuan kepada fakir miskin.”

Pada akhirnya, semua akan kembali kepada pribadi dan tujuan masing-masing. Tulus? Ikhlas? Sinisme? Atau narsisme? Semoga semua orang yang ingin bersedekah, berinfaq, dan berzakat niatnya memang tulus dan ikhlas untuk membantu sesama. Jangan takut untuk publikasikan sedekah ke media sosial. Kenapa kita malu untuk publikasikan kebaikan, sementara di media sosial banyak publikasi tentang keburukan.

Bagikan
Post a Comment