Masihkah Melestarikan Budaya Jam Karet?
Akhir pekan adalah saat yang dinanti-nanti hampir seluruh masyarakat di kota maupun di desa. Bagi pegawai pemerintah maupun swasta akhir pekan atau weekend merupakan hari untuk keluarga. Pergi berlibur, menengok saudara atau menghabiskan waktu cukup bercengkerama dengan keluarga di rumah.
Bagi para pekerja pemerintah atau swasta, dua hari di akhir pekan sangat berarti. Apalagi ketika agenda sudah disusun rapi, dua hari libur tersebut diupayakan untuk refreshing dari kepenatan bekerja di hari-hari sebelumnya. Tentu saja dengan perhitungan yang matang agar akhir pekan benar-benar bisa dinikmati bersama orang-orang terkasih terutama keluarga.
Di setiap akhir pekan, biasanya hari Sabtu dan Minggu, tempat-tempat wisata, mall, berbagai restoran, kolam-kolam pemancingan dan sebagainya, nyaris tak sepi pengunjung. Demikian juga bagi yang tak ada acara keluar rumah, kadang sanak saudara yang datang berkunjung. Oleh karena itu, di hampir setiap ruas jalan selalu ramai dan padat di dua hari itu.
Detik-detik waktu menjadi sangat berarti. Bila mungkin, di hari itu ingin menuntaskan semua rencana dengan mencari hiburan yang sesuai keinginan. Tak jarang dimulai dari sejak dini hari agar agenda hari itu bisa terpenuhi dan berakhir membahagiakan.
Tentang detik-detik waktu yang berjalan cepat sekali, tak semua pribadi bisa diajak kompromi. Dalam satu keluarga yang sudah terbiasa dengan perhitungan waktu yang cermat, tidak akan sama dengan keluarga yang terbiasa lamban. Bahkan cenderung-kalau boleh disebut-suka menyia-nyiakan waktu.
Jam karet, begitu orang menyebutnya. Budaya jam karet sudah seharusnya diganti dengan sat set bat bet. Cepat kaki ringan tangan. Hal ini tentu tidak instan. Perlu dibiasakan sejak dini agar tidak suka mengulur-ulur waktu, menunda-nunda suatu kegiatan yang seharusnya tak perlu ditunda sehingga kesannya menganggap remeh sebuah urusan.
Jika sedari kecil dalam keluarga sudah terbiasa dengan disiplin waktu, niscaya akan terbawa hingga dewasa menjadi pribadi yang menghargai waktu. Merasa sayang, eman-eman, ketika ada waktu luang dan berlalu tanpa ada sesuatu yang bisa dilakukan. Semboyan nenek moyang, time is money. He he. Tidak nyambung ya?
Nah, kita kembali ke weekend ya. Jam karet dan weekend, apa hubungannya? Oh, tentu ada. Begini ceritanya, pas weekend itu ada tiga keluarga berjanji mau makan diluar. Waktu dan tempat yang dituju sudah dalam kesepakatan bersama. Masing-masing membawa anggota keluarga lengkap.
Keluarga pertama on time karena sudah terbiasa mengatur waktu dan menganggap waktu sangat berharga. Segala sesuatu selalu dihitung dengan cermat durasinya karena semakin tepat waktu makin banyak yang bisa terselesaikan. Maka dari itu, jam karet tak ada dalam kamus keluarganya.
Sementara itu, keluarga yang kedua benar-benar tipe yang alon-alon waton kelakon (pelan-pelan yang penting terlaksana). Terlihat jelas masing-masing personil selalu lamban dalam berbuat sesuatu. Termasuk hal-hal kecil dan remeh. Dari masalah mandi, ganti baju dan seterusnya sudah memakan waktu lumayan lama.
Di keluarga yang ketiga makin parah. Mereka tak beranjak dari tempat duduk untuk bersiap sebelum melihat keluarga kedua beres. Bayangkan, bagaimana kalau jadi keluarga pertama? Jika tak lapang dada, pasti sudah memilih membatalkan acara makan bersama. Bukan hanya karena sudah lapar tapi jam karet bagi mereka sangat merugikan sekaligus menyakitkan.
Waktu yang seharusnya tepat ternyata molor hingga tiga jam bukanlah sesuatu yang wajar. Ini serius dan berbuntut masalah baru. Meski sudah berusaha memaklumi sepenuhnya dengan alasan bertoleransi. Namun situasi semacam itu tentu bisa mengubah mood seseorang yang awalnya ingin menikmati kebersamaan menjadi masygul.
Acara tetap berlangsung walau tak sepenuhnya bisa dinikmati terutama keluarga pertama. Akibat dari jam karet tersebut, akhirnya banyak agenda hari itu yang terpaksa berantakan. Acara makan menjadi tidak asyik lagi karena nafsu makan sudah berkurang bahkan hilang. Pilihan menu sebagian sudah tak tersedia lantaran terlambat datang.
Pertemuan keluarga di akhir pekan yang seharusnya penuh suka cita berubah menjadi ajang saling diam. Semua berawal dari kebiasaan jam karet yang sebenarnya sangat merugikan. Tak ada keuntungan apapun dari perbuatan mengulur-ulur waktu. Ada banyak rencana yang akhirnya tak terealisasi hanya karena kebiasaan ini. Jika memang bisa diselesaikan dengan tepat waktu, untuk apa sih, mesti ditunda?
Jam karet, haruskah dilestarikan? Cerita di atas hanya salah satu contoh saja. Syukurlah di tiga keluarga tersebut tak ada yang punya masalah dengan organ pencernaan, sehingga ancaman gangguan lambung tak perlu dikuatirkan. Meskipun demikian, perut melilit tetap dirasakan sebagian dari mereka. Untung anak-anak punya cemilan sebagai penunda lapar. Mungkin untuk remaja dan orang tua melilit sebentar tak jadi soal.
Budaya jam karet sudah saatnya dihilangkan, kecuali ada alasan yang benar-benar masuk akal. Selain merugikan diri sendiri terbukti merugikan orang lain pula. Tidak hanya di acara-acara temu keluarga tapi juga di acara-acara penting lainnya

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
