f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
azyumardi azra

Pesan Penting Azyumardi Azra untuk Pesantren

Bangsa kita telah kehilangan salah satu aset berharga, Azyumardi Azra, seorang ulama sekaligus cendekia sekaliber dunia. Ada banyak sekali kontribusinya yang berharga, khususnya di ranah pemikiran keislaman yang beliau geluti. Beliau memang telah pergi, tetapi karya dan pemikirannya terkenang abadi.

Ada pemikiran-pemikiran penting beliau yang patut digarisbawahi pesantren demi keberlangsungannya dengan konteks saat ini. Berbicara pesantren, saat ini mungkin lebih terdengar ke arah-arah duka. Atas kejadian yang sudah-sudah, pesantren mendapat catatan keras untuk terus bersemangat melakukan peningkatan dan semangat berbenah. Bagaimanapun, eksistensi pesantren masih amat menjadi kebutuhan masyarakat di tengah semrawutnya wajah pendidikan kita.

Oleh karena itulah, rasanya pesantren perlu referensi segar untuk menjadi pelipur di tengah hantaman kasus pelanggaran yang tak terbendung. Dan Prof. Azra dengan kredibilitas keilmuannya dapat menjadi rujukan pesantren dalam mengobarkan semangat di tengah masa-masa berbenah.

Sejak masa pertumbuhannya, pesantren memiliki peran dan fungsi signifikan. Peran dan fungsi tersebut, menurut Azyumardi Azra (104: 2003) adalah: pertama, transmisi dan transfer ilmu-ilmu keislaman; kedua, pemeliharaan tradisi Islam; dan ketiga, reproduksi ulama.

Oleh karena itulah, Azyumardi Azra menentang modernisasi pesantren yang cenderung mematikan peranan fungsi tersebut. Karena bagaimanapun, figur ulama hanya akan terlahir di tengah pesantren, tidak di lembaga lain. Maka tidaklah berlebihan, bila nilai-nilai ajaran Islam sampai beliau khawatirkan dapat tergerus oleh arus modernisasi. Mengikuti zaman bukan berarti menghilangkan identitas pesantren.

Amanat di Tengah Modernisasi

Dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru”, ada banyak sekali pemikiran emas dalam menyikapi modernisasi pendidikan.

Di tengah kekhawatirannya, bukan berarti tidak pro dengan modernisasi yang tentu bila tidak membuka diri akan menyebabkan pesantren dalam ketertinggalan. Justru dengan sangat bijak Azra mengatakan “pesantren harus menumbuhkan apresiasi yang sepatutnya terhadap semua perkembangan yang terjadi di masa kini dan mendatang, sehingga dapat mereproduksi ulama yang berwawasan luas.” (Azyumardi Azra, 51: 2003)

Baca Juga  Apakah Hidup Ini Tidak Adil?

Namun langkah modernisasi pendidikan tentu memiliki batasannya. Meminjam istilah Prof. Azra: bukan soal pesantren tidak tanggap pada perkembangan, tetapi demi menjaga identitasnya. Jangan sampai perubahan tersebut mengorbankan esensi dan hal-hal dasariyah pesantren.

Maka di sini ada semacam amanat beliau yang sangat sesuai dengan konteks saat ini. Kasus-kasus yang bertolak belakang dengan nilai pesantren namun terjadi di pesantren, mengindikasikan imbas daripada khawatirannya. Contoh nyata kasus kekerasan hingga kekerasan seksual di pesantren menunjukan identitas pesantren yang tengah mendapat ujian. Seberapa teguh pesantren untuk terus bertahan dan tidak mengesampingkan tugas pokoknya.

Fungsi Pokok Pesantren

Apakah fungsi pokok itu? Azra mengatakan, tugas pokok pesantren pada esensinya ialah mewujudkan manusia dan masyarakat muslim Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Pesantren merupakan harapan berbagai kalangan dalam mencetak manusia-manusia yang saleh.

Menangkap maksud di atas, perlu kecermatan dan kehati-hatian dalam menggagas pola  pendidikan di pesantren. Meski perubahan zaman menuntut pesantren untuk memiliki orientasi kekinian, namun jangan sampai mengesampingkan tugas pokok di atas. Membangun watak Islami harus tetap menjadi prioritas pesantren agar tidak menghasilkan kader ulama yang sekedar unggul secara keilmuan dan kognitif saja.

Oleh karena itu, pendidikan pesantren perlu dipertahankan, jangan sampai modernisasi yang berkembang merubah tugas dari pesantren. Prof. Azra mengungkapkan bahwa dengan kualitas keislaman, keimanan, keilmuan dan akhlaqnya para santri akan mampu membangun diri dan masyarakat sekelilingnya. Para santri diharapkan dapat memainkan fungsi ulama. (Azyumardi Azra, 48: 2003)

Artinya, nilai-nilai inilah yang menjadi kelebihan pesantren untuk selalu dijaga dan membudaya yang tak boleh hilang sedikitpun. Dan tugas itu pula yang mampu menjadikan eksistensi pesantren tak mungkin hilang dari pengharapan masyarakat.

Baca Juga  Pendidikan Cinta Ala Finlandia: Refleksi atas Buku Sistem Pendidikan Finlandia Karya Ratih D. Adiputri
Optimisme Pesantren

Merujuk dari pemikiran Azra, pada intinya tuntunan mengikuti arus modernisasi tidak sepatutnya meninggalkan hal mendasar yang bahkan harus selalu menjadi fokus utama seluruh pesantren.

Meski perubahan itu adalah keniscayaan, dampak dan konsekuensinya bagi pendidikan Islam tidak selalu menggembirakan. Sedikitnya ada dua bentuk respon pesantren terhadap perubahan; pertama, merevisi kurikulum dengan semakin banyak memasukkan mata pelajaran atau keterampilan yang dibutuhkan masyarakat; kedua, membuka kelembagaan dan fasilitas-fasilitas pendidikannya bagi kepentingan pendidikan umum. (Azyumardi Azra, 102: 2003)

Dalam merespon itulah perlu hati-hati agar jangan sampai hal yang inti yang mencakup transmisi dan transfer ilmu-ilmu keislaman terhambat dan reproduksi ulama menjadi semakin minim. Nilai-nilai pesantren harus menjadi prioritas utama dalam keadaan apapun dan di tengah kurikulum semodern apapun.

Ada alasan mengapa masih banyak masyarakat yang menaruh kepercayaan besar pada pesantren. Sebab para orang tua memiliki kesadaran mengharapkan anaknya dididik di lingkungan pendidikan Islami. Pesantren dengan proses pendidikannya selama 24 jam penuh dipandang mampu menjinakkan anak-anak mereka dari dislokasi sosial (pergeseran sosial) yang muncul dewasa ini sebagai akses globalisasi nilai-nilai. (Azyumardi Azra, 50: 2003)

Situasi kondisi di atas yang hanya diajarkan pesantren dan tidak di lembaga lain. Hal itulah yang menjadi optimisme pesantren untuk terus menjadi lembaga harapan bangsa. Meski pesantren saat ini harus melalui tantangan berat untuk terus menghadapi pelanggaran yang tak terbendung. Lantas bukan berarti ia sudah tak lagi menjalankan tugas mulia.

Pembenahan yang saat ini gencar dipraktikan sebagai wujud betapa pesantren masih memikul tugas pokok dengan sebaik mungkin sebagaimana yang diamanatkan Prof. Azra:  pesantren merupakan harapan berbagai kalangan dalam mencetak manusia-manusia yang saleh.

Baca Juga  Ibu dan Cerita Anak

Zaman akan terus bergulir, namun identitas pesantren tidak boleh hilang sedikitpun. Prof. Azra (51: 2003) dengan semangat pemikirannya menghembuskan kata kunci: pesantren perlu mengkaji ulang berbagai gagasan secara cermat dan hati-hati untuk mengorientasikan pesantren pada tantangan kekinian, sebab bukan tidak mungkin orientasi semacam itu akan menimbulkan implikasi dan fungsi pokok pesantren itu sendiri.

Maka di tengah gempuran dahsyat problematika pendidikan, Azra menghimbau kepada seluruh pesantren untuk terus fokus dengan apa yang menjadi tugas pokok. Seberapapun zaman menuntut perubahan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat, tugas pokok itu harus menjadi prioritas demi terjaganya identitas pesantren.

Pun dengan tantangan pesantren yang semakin berat, maka tugas pokok itu tak boleh surut, meski ruang kejahatan di zaman ini tak terelakan.  Paling tidak, identitas pesantren yang terjaga masih memiliki peluang mensalehkan karakter meski tak semua dapat dibidik secara sempurna. Dan paling tidak, kaderisasi ulama yang umat butuhkan berasal dari mana lagi jika tidak terlahir dari  pesantren.

Bagikan
Post a Comment