Perjalanan Kereta ke Rangkasbitung
Tut tut…
Kereta lokal Rangkasbitung-Merak mulai melaju…
Jus… Jus… Bergerak perlahan tapi pasti
Tak henti-henti petugas memperingati
Tak diizinkan membuang sampah atau memangku kaki di atas kursi
*
Keretaku melewati rumah-rumah warga, pesawahan, dan perkebunan
Betapa hijaunya wilayahku
Rangkasbitung, dulu pernah menjadi persinggahan si Multa Tuli
Aduhai.. Tak terbayang masa itu
*
Petugas KAI pun berkeliling menghampiri setiap kursi
Bergegas aku serahkan karcis seharga tiga ribu rupiah
Murah, cukup terjangkau rakyat biasa
Petugas pun mengecek dan menandainya
*
Aku teringat, pertama aku menaiki kereta perjalanan Serang-Jakarta
Masa itu KRL belum ada
Harganya hanya 5 ribu rupiah sekali perjalanan
Kereta adalah transportasi favorit setiap kelas masyarakat
*
Rakyat
Saat aku melewati perkampungan, aku teringat dengan sebutan itu
Bagaimana masa Rangkasbitung masih menjadi hutan belantara
Belanda yang berkuasa…
Kita dianggap manusia rendah, yang mudah untuk dijajah
*
Aku teringat karya Pram atau nama lengkapnya Pramoedya Ananta Toer
Ia menulis sebuah karya yang berceritakan tentang wilayah Selatan Banten
“Sekali Peristiwa di Banten Selatan” itulah judulnya
Pram bercerita
Dulu Darul Islam juga menguasai sebagai kelompok yang ditakuti rakyat biasa
Selain Kompeni, ternyata antek-antek dan kelompok tertentu juga pernah menyiksa masyarakat di sini
*
Ada yang mengatasnamakan kekuasaan, agama, bahkan harta
Itulah kisah dari sebuah perjalanan ini
Menyisakan memori sejarah yang tak terlupakan
Peneliti Muda dan Program Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) dan Lab. Bantenologi UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten.
