Perjalanan Berliku Seorang Wartawan
Saat kali pertama berita yang saya tulis akhirnya terbit di media daring; saya sangat senang sekali sebab akhirnya hobi menulis saya akhirnya membuahkan hasil dan dibaca lebih banyak orang. Dari sanalah saya mulai mencoba untuk menekuni bidang jurnalistik dan kepenulisan kreatif.
Siapapun bisa menjadi seorang wartawan, tidak harus lulusan jurnalistik. Selama kita ingin belajar–atau bahkan mempunyai keterampilan–menulis yang baik, kita bisa menulis berita kemudian mengirimnya ke media. Atau lebih dari itu, kita bisa menuliskan pengalaman kita atau orang lain di sekeliling kita yang sekiranya memiliki sisi unik, kreatif, dan inspiratif yang layak dibagikan kepada orang lain untuk kemudian dijadikan bahan kontemplasi atau inspirasi.
Banyak orang mengira bahwa profesi sebagai wartawan itu banyak enaknya karena bisa menjelajah ke tempat yang sama sekali belum pernah dikunjungi–yang tentu saja dibiayai kantor. Ini memang benar adanya. Namun saya rasa rerata pekerjaan ada suka dukanya. Ya, namanya juga dinamika kehidupan.
Banyak sekali yang merasakan suka duka saat seorang wartawan menjalani profesinya. Beberapa dari mereka mengaku tetap bertahan dalam tekanan batin hingga psikis hanya untuk mendapatkan honor yang tak seberapa itu. Atau bahkan sampai resign karena mental sudah ambyar dan beban kerja yang segede gaban.
Saat saya masih menjalani profesi sebagai wartawan, kerap kali saya menjumpai orang-orang yang tak pernah saya kenal sebelumnya lantas melakukan wawancara. Lalu dari sanalah saya mendapatkan jaringan pertemanan yang cukup luas; juga pengalaman narasumber yang sayang jika tak diabadikan dalam sebuah karya tulis, entah dalam bentuk berita, cerpen, atau bahkan puisi.
Pada titik ini, wartawan dituntut agar bisa menjalin relasi dengan narasumber dari berbagai kalangan; ini penting dilakukan agar pewarta mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Kedekatan ini tentu saja tidak dibangun secara serampangan, melainkan dibangun secara perlahan dan terukur, tentu dengan beragam cara seperti berbasa-basi saat bertemu di tempat liputan atau rutin memberi kabar via pesan singkat.
Dari membangun relasi itu, seringkali saya ditraktir atau diberi bingkisan usai melakukan liputan, tentu saja ini adalah sebuah privilege bagi seorang wartawan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Oh ya, ini bukanlah sebuah sogokan atau pelicin yang biasanya dilakukan oleh oknum-oknum tertentu untuk mencapai apa yang mereka mau. Ini hanyalah sebagai tanda terima kasih bahwa saya telah menulis tentang kegiatan lembaga, perorangan, atau acara organisasi yang sedang berlangsung.
Mengisi kelas jurnalistik setiap pekan di sebuah lembaga pendidikan pun pernah saya lakoni. Dari sana, saya merasa betapa menjadi wartawan sungguh sangat menantang dan menyenangkan. Puncaknya, saya diajak secara cuma-cuma oleh anak-anak kelas jurnalistik plesiran keluar kota untuk mengunjungi kantor berita dalam rangka menambah pengalaman mereka terhadap dapur redaksi dan segala hal tentang keredaksian.
Kendati demikian pada titik tertentu, saat saya melakukan liputan di tempat ramai, saya merasakan energi saya terkuras habis. Sangat mudah gugup dan lelah. Saya pikir hal ini terjadi karena saya adalah seorang introvert akut sehingga merasa sangat tidak nyaman jika harus meliput di tengah-tengah ratusan umat rosul.
Oleh karenanya, untuk menutupi kecanggungan yang tergambar jelas dalam ekspresi wajah, saya hampir selalu memakai masker. Hal ini tak jadi masalah karena memang sejak SMA kelas dua saya sudah terbiasa memakai masker buatan Indomar*t. Walau begitu, gerak-gerik saya tidak bisa ditutup-tutupi begitu saja. Sialan.
Saya lebih nyaman jika mewawancarai seorang narasumber secara empat mata–entah di ruangan terbuka atau tertutup seperti di ruang tamu atau di warkop–; sebab pembicaraan empat mata membikin suasana wawancara menjadi lebih mencair dan mendalam, rasa gugup pun bisa diminimalisir.
Namun seringkali saya menjumpai narasumber yang malu-malu untuk sekadar diwawancarai; “Aku nggak bisa menjelaskan secara jelas dan mendetail, suka nge-blenk kalau diwawancarai kayak gini,” kata seorang narasumber sambil tertawa malu. Kala itu saya memang menyodorkan hape saya sebagai alat perekaman; dan saya pikir karena hp itulah ia merasa tidak nyaman saat dimintai keterangan. Pada kesempatan kedua, saya mencoba untuk meletakan hp di lantai dan ia tak lagi merasa canggung.
Di lain sisi, ada beberapa hal yang membikin saya dan banyak wartawan lainnya di luar sana merasa kesal sekali dengan pemberitaan yang kami tulis sendiri. Penyebabnya adalah judul yang telah kami bikin sedemikian rupa itu seringkali diubah seenak jidatnya editor; ini semata-mata demi mendulang page view dan juga mengejar trafik.
Kalau trafik membumbung sangat tinggi sudah barang tentu iklan akan masuk, duit pun akan semakin mengalir deras. Sebab di sini, posisi trafik adalah tolok ukur yang digunakan oleh merketing untuk menjual iklan.
Bahkan pada titik ini ada petinggi media yang mengaku secara terang-terangan kalau media miliknya membikin artikel itu bukan untuk dibaca manusia melainkan untuk mesin yang bernama SEO.
Sejatinya, rerata media pengin medianya diakses oleh banyak orang–yang mana ini memang tujuan utamanya. Sebab pengiklan pingin produknya nongol di media yang banyak diakses publik. Pengiklan masa bodo dengan mutu beritanya seperti apa. Yang penting trafik dan peringkat Alexa.
Oleh karenanya, jika Anda membaca judul berita yang bombastis yang biasanya diselipi kata mengejutkan, mengemparkan, heboh, hingga viral, sangat boleh jadi itu dibikin oleh editor. Sebab di sini editorlah yang memegang kendali berita tersebut layak tayang atau tidak.
Para pembaca pun tak jarang dibikin dongkol dengan judul berita yang jebul biasa aja dengan isi berita itu; atau bahkan tak ada sisi viral atau bombastisnya sama sekali. Kalau sudah begitu, kami tak bisa ikut campur, itu semua sudah berada di luar kendali seorang reporter.
Dari judul berita yang bombastis itu para pembaca pun tergerak batinnya untuk mengkritisi si penulis berita yang biasanya tertera di bagian atas atau di bagian bawah artikel.
Terlepas dari itu semua, saya sangat bersyukur sekali pernah menjadi seorang wartawan media daring. Dari sana, pengalaman saya tentang kehidupan manusia kian meluas. Dari mewawancarai narasumber dengan berbagai latar belakang seperti warga biasa hingga sekelas pemimpin lembaga besar itulah saya mendapat insight dan cerita yang sangat berharga.
Saya merasa mereka turut membantu saya membentuk pandangan baru terhadap suatu isu yang sedang terjadi atau tentang sejarah hidup masa lampau. Being a journalist is like learning by doing, tinggal gimana caranya kita memanfaatkan pengalaman sebaik mungkin.

Gemar membaca dan menulis sambil dengerin lagu bergenre Pop-EDM. (IG: rvdafii_ls. E-mail: ruzdanfauzi025@gmail.com)
