Perempuan dan Kebebasan Belajar: Berkah Pandemi Covid-19
Aku, perempuan yang telah menikah dan bersama suami mengurus kebutuhan keluarga. Dan perlu diketahui segala urusan rumah, kami kerjakan tanpa asisten rumah tangga. Selain suami, akupun juga bekerja, yang mana pekerjaan mengikatku untuk tetap berada di wilayah Tangerang Selatan dan Depok pada situasi normal.
Mengenai kebutuhan sehari-hari, tentu telah terbantu oleh hadirnya fasilitas baru yang memungkinkan kami untuk tidak terlalu sibuk berkutat dengan berbagai hal seperti mempersiapkan makan ataupun mengurus tumpukan cucian. Belakangan laundry kiloan banyak beredar, bahkan di perkampungan yang lokasinya berpuluh kilometer dari metropolitan.
Kamipun tak risau dengan hidangan pagi, siang, dan petang. Kebutuhan tersebut sudah sangat terbantu dengan jasa pengantaran tanpa harus berurusan dengan kemacetan, ya, kalau boleh sebut merek, Go Food masih jadi idaman. Hidangan warteg hingga restoran berbintang mudah saja kita hadirkan dari layar gawai pintar.
Meski begitu, tak jarang lidah juga sedikit nakal oleh keinginan mencicipi masakan rumahan yang diolah ala kadarnya namun penuh cita rasa pernikahan. Jika sedang demikian, ya tentu jiwa raga harus memenuhi tantangan. Memasak dengan resep andalan.
***
Dewasa ini, urusan domestik memang bukan lagi persoalan bagi ibu rumah tangga, namun kadang muncul gagasan anyar untuk menambah pengetahuan. Pokok persoalannya, kadang, ini terjadi bukan hanya karena dorongan dari dalam, oleh kejenuhan berkutat pada lokasi dan kegiatan yang seragam sepanjang waktu; juga oleh tantangan dari tempat kerja untuk meningkatkan potensi diri.
Solusi yang bisa kita praktikkan adalah menempuh pendidikan dan menambah kemampuan dalam berbagai keahlian, dengan cara kursus misalnya. Namun kemudian, muncul kendala jika lokasi kursus yang kita pilih adadi luar kota. Izin ke tempat kerja harus dibuat, meskipun durasi waktunya hanya satu semester; lalu harus mendiskusikan kembali dengan suami, siapakah yang akan mengunjungi pada waktu libur Sabtu dan Minggu? Padahal lokasinya berates-ratus kilometer jarak tempuh.
Lalu, keribetan itu menemukan jalan keluarnya semenjak terjadi pembagian berikut ini;
- masa sebelum pandemi/normal
- masa pandemi, dan
- pasca pandemi atau yang sering disebut new normal.
Pandemi menghadirkan sesuatu yang menyesakkan, tapi juga mengajarkan tentang peluang; menyisakan kesedihan karena terdapat sejumlah manusia yang terinveksi bahkan kehilangan sanak saudara, namun juga mengingatkan cara menjaga kebersihan. Pandemi melahirkan sejumlah kemurungan akibat banyak bisnis yang gulung tikar; tapi memberikan nasehatnya agar selalu menyedikan waktu mengolahragakan badan dan menyegarkan pikiran. Pandemi melumuri rasa rindu oleh jarak, pun larangan perjumpaan saat beberapa perayaan tergelar; namun juga menghadirkan gagasan anyar yang tak terpikirkan pada saat kondisi normal.
***
Teruntuk perempuan yang telah berkeluarga sepertiku, situasi pasca pandemi merupakan harapan baru yang penuh peluang dan keterbukaan pemikiran. Tak lagi ada masalah mengikuti kursus ataupun pendidikan jarak jauh, karena ternyata hanya butuh kemauan untuk mengikuti berbagai pelatihan yang meningkatkan kemampuan.
Kursus bahasa asing dapat terlaksana dengan sangat mudah, karena di antara pengajar dan peserta secara bersama mengondisikan waktu menemukan jadwal yang pas. Kelas inklusi lebih tepatnya, karena di dalamnya peserta tak terbatas usia; semua boleh belajar, baik perempuan maupun laki-laki; semua boleh menyampaikan pendapat; dan guru sebagai fasilitator adalah seseorang yang mampu menciptakan kelas menyenangkan.
Tak hanya kelas bahasa yang mudah kita ikuti, kursus memasak pun mudah kita lakukan tanpa harus repot-repot mengalami kemacetan untuk datang ke lokasi kursusan, karena segalanya dari rumah.
Contoh lainnya adalah kursus menulis, ini merupakan hal penting yang menghadirkan keriang gembiraan pesertanya, mengapa? Kelas ini memberikan peluang baru sesuai dengan latar belakang masing-masing. Tak ada paksaan menuliskan apa, yang lebih penting adalah memulai menulis sesuai dengan pandangan dan pengalaman. Menulis sangat penting, utamanya bagiku yang belum pernah mengikuti kelas menulis sebelumnya, memberikan tantangan namun juga peluang untuk mengekspresikan diri lebih nyata.
Tiga contoh di atas merupakan kegiatan yang sebelum pandemi sulit tersalurkan, hanya saja pandemi telah mengubahnya, sehingga pasca pandemi kian mudah untuk belajar, bahkan tanpa ada batasan.
Tentu situasi tersebut tak hanya berlaku bagiku, namun juga seluruh masyarakat Indonesia. Akses kemudahan ini tentunya membuat negeri ini tak lagi banyak ketinggalan. Betapa tidak, pencapaian era teknologi informasi dan komunikasi benar-benar menjadi bagian masyarakat keseluruhan.
***
Nah, jika konsep revolusi industri telah jadi bagian, maka rumusan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menganai konsep society 5.0 akan mudah menemui titik penyesuaian. Benarkah demikian? Tentu saja benar, karena kini, perempuan khususnya ibu rumah tangga tak lagi canggung dengan teknologi yang awalnya hanya generasi digital native yang mengaksesnya. Bukan hanya Facebook, tapi YouTube, Instagram, Tik Tok, dan Line adalah media sosial yang ternyata menghasilkan pundi-pundi keuntungan.
Kegiatan bisnis jual beli, arisan, dan bahkan demo memasak menjadi contoh dari banyak kebaruan yang dapat ibu rumah tangga lakukan pasca pandemi di negeri ini.
Jika masih belum percaya, coba buka gawai pintar kalian, silakan ketik nama Mbah Minto dan google langsung akan menampilkan artis dagelan yang berusia sekitar 80 tahun dengan meninggalkan profesi lamanya sebagai pencabut rumput menjadi salah satu artis YouTube yang mendapatkan keuntungan dari hadirnya society 5.0.
Penulis puisi, pendiri Yayasan Anis Badrus Jaya Inisiatif, dan pengajar di UIN Jakarta

Badrus Sholeh
Tulisan hebat menggugah perempuan Indonesia 👍 Ditunggu tulisan inspiratif berikutnya. Terima kasih Bu Anis 🙏