Menyingkap Tabir Karomah Dunia Perdukunan
Di tengah kemajuan peradaban yang sarat akan pembuktian ilmiah, perdukunan yang penuh nuansa mistis dan magis masih digandrungi sebagian masyarakat. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, promosi perdukunan bermetamorfosis dari pola konvensional menjadi strategi berbasis teknologi digial. Para dukun dengan berbagai penampilan dan teknik semakin gencar menyita minat masyarakat yang tengah mencari solusi dari berbagai persoalan hidupnya.
Atensi publik mulai tertuju secara masif kepada perdukunan sejak penggunaan jasa pawang hujan (Mbak Rara) dalam gelaran akbar MotoGP Sirkuit Mandalika beberapa bulan lalu. Sebagian pihak memberi apresiasi atas kehadiran sang pawang lantaran memunculkan keunikan dalam perhelatan tersebut. Namun tidak sedikit kritik yang dilontarkan dengan dasar agama dan rasionalitas ilmiah.
Setelah persoalan Mbak Rara berlalu, kini muncul praktisi kebatinan yang dikenal dengan Gus Samsuddin Jaddab pasca perdebatannya dengan Pesulap Merah (Marcel Radhival). Bermula dari saling jawab di konten Youtube, Marcel bertekad mendatangi padepokan Gus Samsuddin di Blitar dengan niat pembuktian. Namun setibanya di lokasi, sang pembongkar trik dukun tersebut mendapat hambatan dan gagal mewujudkan niatnya.
Dalam berbagai kesempatan, tidak jarang beberapa pihak mengklaim perbuatannya sebagai kemuliaan dari Allah Swt. berupa karomah atau sebutan lainnya. Misalnya Gus Samsuddin yang mengklaim bahwa kemampuan pengobatannya bukanlah trik seperti penjelasan Marcel, melainkan ilmu ma’unah dan ilmu hikmah yang harus diimani bukan dipersoalkan dan dipertunjukkan.
Sebagian anak bangsa mendukung geliat Marcel Radhival lantaran dipandang masuk akal dan sesuai ilmu penegetahuan. Namun segelintir masyarakat tetap membela dunia perdukunan dan menuding Pesulap Merah telah mengingkari perkara gaib. Bahkan di antara mereka ada yang melaporkan Marcel kepada pihak berwajib karena merasa terusik dengan konten-kontennya.
Fenomena di atas tentu mengundang tanya tentang perdukunan perspektif Islam. Sebagai agama yang universal dan kompherensif, ajaran Islam tentu memuat aturan yang jelas bagi umat dalam menyikapi perdukunan. Tulisan ini berusaha mengungkap sekelumit kajian perdukunan berdasarkan referensi otoritatif dalam Islam.
Perdukunan Menurut Islam
Setidaknya ada tiga kata dalam Islam yang merepresentasikan praktik perdukunan, yaitu kahanah, ‘arraf dan sihr . Kahanah dan ‘arraf memiliki substansi yang sama, yaitu upaya mengetahui dan menyebarkan perkara gaib. Perbedaanya terletak pada sumbernya, kahanah berasal dari setan sedangkan ‘arraf berasal dari isyarat-isyarat tertentu seperti zodiak dan sebagainya. Adapun sihr merupakan setiap bentuk pendekatan manusia kepada setan dengan harapan bantuan dan pertolongan ghaib dalam berbagai persoalan.
Seluruh bentuk perdukunan di atas ditolak dan dilarang secara tegas dalam Islam. Baik dengan dalih mencari rahasia gaib maupun meraih kesuksesan dalam kehidupan, tidak ada alasan yang dimaklumi bagi kaum muslimin. Salah satu larangan tegas terhadap praktik perdukunan disabdakan Rasulullah Saw. dalam hadisnya berikut ini:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَة
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari.” (HR. Muslim no. 2230).
Ancaman di atas merupakan ganjaran bagi mereka yang mendatangi dan bertanya kepada dukun sekalipun tidak meyakini ucapannya. Namun jika ucapan dukun atau tukang ramal diyakini, maka ganjarannya jauh lebih berat. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut ini:
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al-Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532).
Dua hadis di atas cukup jelas dan telah menampik segala praktik perdukunan dalam Islam, khususnya dalam upaya menerka perkara ghaib (kahanah dan ‘arraf). Sedangkan upaya meminta pertolongan kepada setan (sihr) dengan segala jenis dan bentukya seperti guna-guna, santet dan sebutan lainnya juga mendapat larangan tegas dalam Islam. Di antara larangan tersebut adalah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai, Rasûlullâh, apakah itu?” Beliau menjawab: “Syirik kepada Allâh, sihir, membunuh jiwa yang Allâh haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. [Hadits shahîh riwayat Bukhari, no. 3456; Muslim, no. 2669].
Perbedaan Karomah dan Sihr
Eksistensi karomah tidak pernah diperdebatkan dalam Islam. Sebagaimana mukjizat yang diyakini sebagai anugerah bagi nabi dan rasul, karomah merupakan anugerah bagi para kekasih Allah Swt. yang senantiasa melazimkan ketakwaan dalam hidupnya. Namun, karomah kerap dijadikan topeng bagi segelintir oknum tidak bertanggung jawab demi mewujudkan kepentingan pribadinya. Oleh sebab itu, penulis akan membahas beberapa perbedaan anatara karomah dan sihir dalam penjelasan berikut ini:
- Karomah berasal dari Allah Swt. sedangkan sihir berasal dari setan. Keduanya merupakan kejadian di luar nalar, namun asalnya berbeda. Oleh sebab itu, karomah hanya diberikan kepada orang yang taat dan shaleh, sedangkan sihir diberikan bagi pemuja dan pengabdi setan.
- Wali (kekasih) Allah Swt. yang memiliki karomah tidak akan mempertontonkan dan menyombongkan karomahnya. Karena salah satu sifat yang dimiliki seorang wali adalah tawadhu’ (rendah hati), sehingga seseorang mendapatkan posisi istimewa di sisi Allah Swt. dengan melazimkan kesombongan. Praktisi supranatural yang mengklaim karomah dan mempertontnkannya jelas bukan wali Allah Swt. yang mendapat posisi mulia.
- Karomah tidak dapat dipelajari, diturunkan dan diajarkan. Perkara ini semata-mata merupakan anugerah yang diamanahkan Allah Swt. kepada kekasihnya. Jalan untuk memperolehnya hanya satu, yaitu menjadi hamba Allah Swt. yang sejati dengan istiqomah dalam ketakwaan. Sedangkan sihir dapat dipelajari dan diajarkan dengan mantra-mantra tertentu dan perbuatan tertentu.
Kesimpulan
Ajaran Islam meyakini perkara gaib, bahkan hal ini ditegaskan dalam QS al-Baqarah [2]: 3. setiap muslim diwajibkan mengimani perkara gaib seperti malaikat, ruh, dan jin. Namun keimanan setiap muslim terhadap perkara ghaib seyogyanya menambah tawakkalnya dan memperkokoh keimannya kepada Allah Swt. sebagai pemilik dan penguasa tunggal alam semesta. Hanya kepadanyalah kita menyambah dan hanya kepadanyalah kita memhon pertolongan. Kesulitan, cobaan dan ujian tidak boleh menggelincirkan umat Islam dari akidah yang benar, yaitu mengesakan Allah Swt. Dalam mengimplementasikan keyakinannya, kaum muslimin diwajibkan berikhtiar sesuai akal yang sehat dengan tidak meninggalkan keyakinan pada Allah Swt. Seperti beekrja dengan cara yang halal, berobat ke dokter yang terpercaya maupun pengobatan tradisional yang logis seperti herbal dan rukyah.
Penghulu Ahli Pertama Kemenag Kota Dumai. Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Suska Riau.
