Menyederhanakan Pesta Pernikahan untuk Kehidupan Selanjutnya
Menikah adalah ikatan suci antara dua insan yang mau saling berbagi dalam segala hal. Pernikahan juga disebut sebagai perjanjian suci antara sepasang anak manusia. Beberapa orang juga menganggap bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, melainkan menyatukan dua keluarga. Maka dari itu peran keluarga, restu orang tua sangat dibutuhkan untuk menuju sebuah keluarga sakinah, mawadah, wa rahmah.
Dalam QS. Ar-Ra’du 38, yang artinya artinya:
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.”
Dalam surat tersebut Allah memberikan sebuah contoh bahwa salah satu sunah Nabi yang merupakan suri teladan adalah menikah. Kendati demikian banyak muda-mudi yang masih berpikir untuk melangsungkan pernikahan dan terjebak dalam hubungan pacaran yang lama, karena belum memiliki cukup uang untuk melangsungkan pernikahan.
Mereka memikirkan nasib keluarga mereka ke depannya, sedangkan dalam Islam sendiri Allah akan memberikan kehidupan yang cukup, menghilangkan kesulitan, serta kekuatan untuk mengatasi kemiskinan. (Abdul Haris Na’im, 2008:22).
Dalam QS. An-Nur 32 Allah berfirman, yang artinya:
“Dan nikahlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan, jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya), maha mengetahui.”
Dari firman Allah tersebut seharusnya membuat para pemuda yakin bahwa rezeki orang yang telah menikah akan Allah Swt. lipat gandakan. Istri mereka membawa rejeki, anak mereka membawa rezekinya masing-masing. Jadi ketika para kawula muda telah menemukan belahan jiwanya, lebih baik untuk menyegerakan menikah. Dari pada terus berkubang dalam hubungan tanpa adanya status yang jelas.
Dalam beberapa literatur beberapa hal yang menyebab seseorang menunda-nunda sebuah pernikahan antara lain:
Pertama, belum memiliki cukup uang untuk melamar. Faktor pertama ini adalah faktor finansial, seorang pemuda yang hendak melamar gadis harus menyiapkan berbagai hal. Mulai dari uang, mahar, seserahan dan beberapa hal lainnya. Hal ini sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. Beberapa pasangan menunda menikah untuk menabung untuk membuat sebuah pesta perayaan pernikahan.
Kedua, secara finansial ia sudah memiliki namun belum memiliki kesiapan mental. Selain dari segi keuangan seorang yang hendak menuju ke jenjang pernikahan juga membutuhkan mental yang kuat. Pasalnya, setelah menikah banyak hal yang akan suami istri hadapi, mulai dari merawat anak, menjadi penengah antara dua keluarga dan beberapa problem lainnya.
Ketiga, belum menemukan orang yang tepat. Seperti yang sering beberapa ustaz sampaikan bahwa jodoh kita sudah Allah tuliskan di lauhul mahfudz. Maka untuk seseorang yang sudah siap namun belum kunjung bertemu, hendaknya terus mendekatkan diri kepada Allah, sembari memaksimalkan usaha. Allah pasti akan memberikan yang terbaik di waktu yang tepat dan saat orang tersebut benar-benar siap.
Menyederhanakan Pesta Pernikahan
Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa pergelaran pesta pernikahan membutuhkan banyak biaya. Hal ini yang membuat beberapa pasangan menunda menikah untuk mencapai target tabungan untuk mengadakan sebuah pesta. Biaya pernikahan itu meliputi: mahar, seserahan, uang panaik, biaya sewa gedung, sewa tenda, sewa alat makan dan masak, sound system, membayar MUA, sewa dekorasi, catering dan berbagai atribut pernikahan lainnya.
Bahkan banyak kasus seseorang yang baru menggelar pesta yang amat besar terlilit hutang karena “sumbang” atau amplop para orang kondangan tidak menutup biaya pesta. Beberapa pasangan pengantin baru juga bingung mengatur keuangan setelah pesta usai, karena uang tabungan terkuras untuk mengadakan pesta. Maka dari itu pentingnya sebuah perencanaan pernikahan, untuk mengantisipasi hal demikian.
Menyederhanakan pesta pernikahan bukan berarti melarang adanya sebuah pesta, melainkan meminimalisirkan serta menyeimbangkan dengan budget yang kedua belah pasangan miliki. Tidak perlu berpijak pada gengsi dan hanya memikirkan omongan orang karena tidak bisa menggelar pesta mewah. Lebih baik menggelar pesta sederhana, namun bisa hidup layak dan bahagia setelah menikah.
Kehidupan sejati akan mereka jalani setelah ijab kabul, setelah tamu undangan satu persatu telah pulang. Salah satu hal yang mempengaruhi adanya sebuah pesta besar adalah permintaan dari orang tua, yang ingin melihat hari bersejarah dalam kehidupan anaknya menjadi memorial. Untuk seseorang yang memiliki kecukupan finansial, mungkin itu tidak menjadi sebuah hal yang memberatkan, namun sebaliknya.
Untuk para muda-mudi yang sudah memiliki keinginan menikah namun belum memiliki cukup uang untuk mengadakan pesta. Sebaiknya dikomunikasikan kepada orang tua, pasangan dan calon mertua. Ceritakan kondisi keuangan dan mimpi kalian untuk membangun sebuah hunian misalnya, atau untuk membuka sebuah usaha. Ketika kalian mendapati orang tua yang open minded maka opsi tersebut akan diterima.
Namun jika tidak, orang tua pasti akan menawarkan bantuan dana untuk pesta pernikahan tersebut. Jadi dapat diambil sisi positif bahwa yang menanggung sebuah pesta bukan hanya kedua mempelai, melainkan juga orang tua. Dan yang harus dilaksanakan adalah meluruskan niat dari walimatul ursy tersebut. Yakni sebagai ungkapan rasa syukur, jadi ketika amplop yang diterima tidak sesuai ekspektasi. Keluarga tidak akan merasa kecewa berlebih.
Menikahlah dengan ia yang mau diajak untuk belajar bersama. Karena setiap hari pasangan harus selalu belajar untuk dapat menuju keluarga samawa. Pernikahan dilaksanakan bukan sehari, dua hari melainkan seumur hidup. Perlunya menemukan partner yang tepat, yang memiliki visi, misi yang sama akan membuat hubungan semakin langgeng. Jangan lupa untuk selalu menjaga komunikasi, untuk mengantisipasi berbagai konflik yang akan menimpa kalian. Lalu, kapan kamu akan menikah?
Guru dan penggiat literasi pena aswaja STAINU Temanggung. IG: Anisa Rachma Agustina.
