Masjid Impian
Pengalaman pertama mengunjungi Masjid Jogokariyan Yogyakarta, saya sedikit heran. Ternyata masjidnya “biasa saja”. Bangunannya tidak megah, tidak juga mewah. Tidak seperti Masjid Istiqlal Jakarta misalnya, atau Masjid 99 Kubah di Makassar. Padahal dalam perbendaharaan pengetahuan saya yang terkumpul sebelumnya, Masjid Jogokariyan begitu masyhur. Setelah melakukan pengenalan lebih banyak, sadarlah saya bahwa bukan soal bangunan yang menjadikan masjid itu tersohor dan menjadi impian, tetapi tentang fungsinya bagi masyarakat.
Masjid Jogokariyan hanyalah salah satu dari masjid-masjid yang boleh kita katakan berhasil menjadi “sebenar-benarnya masjid”. Dengan konsep “Saldo Infak Nol Rupiah” yang terkenal itu, ia tidak hanya menjadi tempat penyelenggaraan ibadah ritual, tetapi juga—jika tidak berlebihan—pusat peradaban. Berbeda dengan kebanyakan masjid yang berdiri hari ini, yang hanya digunakan untuk salat lima waktu saja, selebihnya sepi. Terutama masjid-masjid yang berada di perkampungan. Sebabnya? Saya kira satu di antara alasan-alasannya adalah karena regenerasi pengurus yang belum berjalan dengan baik. Takmirnya orang-orang tua. Imamnya sudah sepuh, yang ketika Salat Jumat sering pula bertugas sebagai khatib yang membaca teks di lembaran kertas dengan cara yang membuat bosan sehingga jemaah pun terkantuk-kantuk.
Kegiatan di masjid, selain salat tentu saja, hanya kajian keislaman yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu. Remaja masjidnya? Tidak jelas keberadaannya. Pemuda-pemudi kampung? Amat jarang terlihat di masjid—pemuda-pemudi nampaknya lebih banyak terlihat di masjid-masjid perkotaan, itu juga barangkali sebabnya mengapa masjid-masjid di perkotaan cenderung lebih modern konstruksi maupun pengelolaannya.
***
Kesadaran terhadap fungsi masjid ini yang perlu diperbarui di kalangan pengelola dan aktivis masjid. Perlu adanya kesadaran untuk meluaskan kontribusi masjid bagi masyarakat, bagi peradaban. Sebagaimana di zaman Rasulullah ﷺ dahulu, begitu pula di masa kejayaan Islam, masjid memiliki fungsi untuk menampung hampir semua kegiatan esensial. Masjid menjadi tempat pendidikan, pembinaan, konsultasi, dan permusyawaratan umat. Bukan hanya terkait soal keagamaan, tetapi juga sosial, ekonomi, politik, sampai militer. Mulai dari majelis-majelis ilmu, tempat mengatur pemerintahan dan segala aktivitasnya, tempat hidup fakir miskin, hingga tempat pelatihan, persiapan, pemberangkatan pasukan perang, tempat menawan tahanan perang, semua di masjid. Semua telah masjid sediakan. Semua jawaban permasalahan umat bisa mereka temukan di masjid.
Tentu jika kita telusuri, ada banyak masjid di Indonesia yang sudah menjalankan perannya sebagai pelayan dan fasilitator kebutuhan umat dengan baik. Selain Masjid Jogokariyan, saya ambil contoh Masjid Kapal Munzalan di Kalimantan Barat dan Masjid Berkah Box di Kalimantan Timur. Saya sedikit banyak mengikuti informasi-informasi tentang kedua masjid tersebut. Terutama lewat tulisan-tulisan para pemimpinnya, Ustaz Luqmanulhakim dan Ustaz Rendy Saputra. Bukan main profesionalitas dan kesungguhan kedua masjid itu dalam melayani umat. Mulai dari lembaga pendidikan seperti pesantren, lembaga sosial yang menghidupi fakir miskin dan yatim piatu, program yang menyediakan kebutuhan pokok masyarakat seperti nasi kotak, beras, sampai bensin, dan berbagai amal usaha lainnya yang profitnya bermuara untuk umat, tersedia di sana. Masjidnya terbuka dua puluh empat jam. Tersedia ruang khusus untuk para musafir, lengkap dengan fasilitas menginap. Masjid paket komplet. Para pengurus masjid impian tersebut seolah ingin menyampaikan pesan, “Apapun kebutuhanmu, datanglah ke masjid!”
***
Masjid-masjid seperti itu yang saya pikir merupakan masjid impian. Masjid yang sehat lahir dan batin. Masjid yang bukan hanya menghadirkan kenyamanan dalam beribadah—sebab masjid yang telah melebarkan fungsinya tersebut saya kira mestilah masjid yang sudah selesai soal fasilitas penunjang ibadah ritualnya, tetapi juga memberikan kesejahteraan bagi umat islam dan masyarakat umum. Apabila lapar, datanglah ke masjid. Jika butuh tempat menginap, datanglah ke masjid. Jika memiliki problem ekonomi, datang saja ke masjid. Pokoknya datang saja ke masjid! Insyaallah masjid siap membantu. Begitu kira-kira prinsip yang selalu pemimpin-pemimpin masjid impian tersebut kumandangkan.
Pertanyaan yang kemudian muncul, mampukah setiap masjid menjadi seperti itu? Barangkali tidak semua masjid punya sumber daya, baik manusia maupun finansialnya, untuk menjadi masjid yang memiliki pelayanan optimal. Namun, hal tersebut merupakan sesuatu yang masih bisa kita usahakan. Betapa pun masjid adalah entitas yang dicintai banyak orang. Saya yakin tidak ada orang yang tidak senang mengeluarkan hartanya untuk masjid. Siapa pun orangnya, walau jarang berkunjung ke masjid, bersedekah untuk masjid menjadi hal yang pasti pernah dan masih akan dilakukan. Pengurus masjid harus mulai memikirkan penggunaan daya finansialnya untuk kepentingan sosial dan intelektual serta mengurangi atau berhenti untuk sekadar fokus pada pembangunan fisik semata. Mereka harus memulai untuk mengembangkan program-program yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Untuk bisa memiliki kesadaran seperti itu tentu membutuhkan pelatihan dan pembinaan jangka panjang serta keikutsertaan pemuda-pemudi. Masjid membutuhkan ide-ide brilian dari para manusia modern untuk memakmurkan dan memajukan masjid. Menjadi sebuah ironi apabila masjid-masjid hanya berisikan orang-orang tua, sedangkan anak-anak muda tak memiliki keterikatan dan kepedulian dengan masjid.
Kondisi zaman menuntut masjid untuk berperan mencerdaskan dan menyejahterakan kehidupan bangsa. Mengutuhkan fungsi masjid merupakan hal yang mesti diupayakan oleh segenap masyarakat yang berkecimpung di dunia masjid demi menjadikannya sebagai pusat peradaban. Sehingga, pada akhirnya, masjid menjadi tempat di mana semua orang ingin datang, menjadi masjid impian yang kita dambakan.
Mahasiswa PBSI Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif juga di Komunitas Literasi Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta.
