Look Both Ways: Kisah Jalan Hidup yang Saling Bertentangan
Bagaimana jika rencana hidup yang sudah disusun dengan baik tiba-tiba hancur begitu saja? Terlebih, apa yang menghancurkan rencana ini adalah sesuatu yang tak disangka kedatangannya. Upaya menyusun masa depan yang cemerlang, memiliki apartemen yang nyaman, dan karier yang moncer, seketika amblas. Hidup tidak lebih sebagai serentetan penyesalan. Gambaran yang demikian itu, bisa kita lihat dalam salah satu alur hidup sosok perempuan bernama Natalie Bennettt (Lili Reinhart), karakter utama dari film Look Both Ways (2022).
Mengapa disebut salah satu alur dari kisah Bennett? Rahmania perlu tahu alur dari film ini berjalan dengan dua plot yang berbeda. Titik berangkat kisah terjadi di awal film: saat malam penutupan kelulusan di kampusnya, Bennett khawatir bahwa percintaannya dengan temannya, Gabe (Danny Ramirez)—beberapa hari yang lalu, menghasilkan sesuatu yang buruk, yaitu kehamilan. Ia memeriksa dirinya dengan alat pengecek kehamilan. Dua plot itu pun berdasarkan atas dua pertanyaan dari momen itu; Bagaimana jika hasil pemeriksaan itu menunjukkan kalau ia hamil? Dan, bagaimana kalau sebaliknya?
Apakah Semua Rencana Bisa Berjalan Lancar
Dua kemungkinan itulah yang menunjukkan jalan hidup seseorang bisa sedemikian berbeda hanya gara-gara satu hal. Apalagi, fokus utama dari film Look Both Ways ini adalah sosok karakter perempuan. Dalam alur pertama, Bennett yang hamil mesti menghadapi keterkejutan keluarganya saat tahu bahwa ia pulang ke rumah membawa kabar itu. Keterkejutan itu pun beralasan: Mereka tahu anaknya sudah menyiapkan segalanya sedari awal. Ia sekolah dengan baik, masuk ke kampus favorit, menggeluti dunia animasi, dan berencana pergi ke Los Angelos demi mimpi-mimpinya itu.
Sayangnya, ia justru pulang membawa jabang bayi di perutnya. Babakan ke depannya lantas menunjukkan realitas menjadi ibu muda yang tak mudah. Kendati keluarganya, pada akhirnya, mendukung keadaan Bennett, bahkan lelaki yang menghamilinya, Gabe, turut membantunya membesarkan jabang bayi itu; tetapi, apa yang Bennett lalui penuh dengan hal-hal nelangsa. Kenyataan menjadi ibu sungguh di luar rencananya, dan separuh dari Bennett tidak bisa menerima kenyatan itu. Ia pun mesti mengubur mimpinya, kenyataan baru itu membuatnya tak memiliki gairah untuk melakukan hobinya, yaitu menggambar.
Di sisi lain, alur kedua menampilkan hidup Bennett yang sesuai dengan rencananya: ia pindah ke Los Angeles, melamar di perusahaan animasi, dan bertemu sosok pria yang kelak menjadi pasangannya. Segalanya tampak indah dan sesuai rencana. Kesulitan hidup seperti bertandang dengan bentuk yang sepele. Itulah hidup yang Bennett dambakan hidup yang ia rangkai sejak awal sekolah dulu, merencanakan hidup dengan pertimbangan matang. Namun, apakah segalanya bakal berlangsung lancar-lancar saja? Tentu, tidak ada hidup yang semacam itu.
Berani Bertanggung Jawab Atas Pilihan Hidup
Sungguh, ada banyak hal yang ditunjukkan film ini, terutama terkait realitas modern bagi perempuan. Kita tahu, setiap orang berhak menentukan pilihan hidupnya, persis seperti kedua alur dalam kisah ini. Tapi di sisi lain, setiap tindakan yang kita lakukan, juga memiliki konsekuensi yang mesti dipertanggungjawabkan, persis seperti yang terjadi dalam alur pertama. Yang sebenarnya paling menonjol, baik dalam alur pertama atau kedua, walau tak mudah, Bennett menyikapi apa-apa yang ia hadapi dengan keberanian dan keteguhan hati. Ia bahkan rela berkorban, seperti dalam alur pertama, bahwa ia tak memilih menggugurkan kandungannya demi mengejar cita-citanya. Jabang bayi itu hadir karena tindakannya, maka ia merasa perlu untuk merawatnya hingga dewasa.
Realitas lainnya tampil dalam formula keluarga yang fleksibel dan tidak kaku. Kendati formula ini bisa menjadi perdebatan, sebab bertentangan dengan nilai agama tertentu. Tapi keberterimaan orang-orang di sekitarnya menghadirkan figur yang mendukung dan menciptakan kedamaian, terutama bagi Bennett yang sempat terguncang. Ihwal figur-figur penguat atau pendukung ini pulalah, menjadi sesuatu yang patut menjadi perhatian dalam film ini. Manapun alur yang menggambarkan kisah Bennett, ia selalu memiliki beberapa figur yang menguatkannya.
Kalau di alur pertama, ada sosok keluarga, Gabe, dan sahabatnya; maka di alur kedua pun tak jauh berbeda, ia memiliki sosok keluarga, sahabat, dan Jake (David Corenswet), pria yang menjalin asmara dengannya. Terkhusus figur yang menjalin asmara ini, tampaknya mengambil porsi yang cukup menentukan keberhasilan dalam hidup Bennett.
Figur Pendukung
Tagline yang terpampang di kover film Look Both Ways, yaitu “Wherever life takes you, left love guide you”; benar-benar tergambarkan di dalam kedua alur kisah. Kalimat yang artinya “Ke mana pun hidup berlabuh, biarkan cinta yang memandumu,” itu menjadi semacam mantra penguat dan menjadi bukti alur cerita hidup Bennett, kendati ia tak menyadarinya.
Mantra itu, berlaku baik secara spesifik ataupun tidak. Spesifik, apabila kita merujuk ke figur lelaki yang hadir dalam hidup Bennett. Dan secara umum, apabila kita merujuk ke figur lain seperti keluarga dan sahabatnya. Mana pun itu, peran mereka begitu penting. Sebab, dukungan yang mereka berikan bisa berarti sebagai air yang Bennett butuhkan di tengah fase kekeringan hidupnya.
Dus, kiranya, keberadaan figur-figur semacam itu yang kita perlukan, ke mana pun hidup ini membawa kita. Tak masalah apabila kita terlambat untuk bersekolah, menempuh kesuksesan, atau menjalin ikatan keluarga, asal kita tak ditinggalkan sendirian. Sebab, hidup toh tak selalu sesuai dengan apa yang kita rencanakan; seperti dalam dua alur dari kisah Bennett ini.
Penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.
