f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Lima Kiat Mengatasi Kerinduan pada Anak yang Sedang Nyantri di Masa Pandemi

Segera kuturunkan semua makanan yang ada di bagasi untuk Mobi, anakku yang sedang sekolah di pesantren. Titip di satpam.  Kuketik pesan  WA: “Ustad, saya titip mie ayam untuk Mobi dan teman-teman sekamar, ya.  Sudah saya taruh di satpam. Terima kasih banyak.” Sambil memandangi  pesantren dari kejauhan dan hanya bisa menatap genteng coklatnya, segera kulaju kendaraan untuk kembali ke rumah.

Kecewa? Banget! Sedih? Pasti! Perjalanan ratusan kilometer, melalui jalan layang, perbukitan, lembah, jalanan meliuk tajam hanya untuk melihat genteng pesantren. Biasanya sebulan sekali bisa memeluk anak. Biasanya waktu bercakap-cakap seharian itu tak terbatasi jarak dan waktu, dan segala keluh kesah, kegundahan, dan kebahagiaan terucap saat itu. Kini, 10 menit saja untuk membahas semuanya melalui gawai milik kamar. Mau lihat wajahnya? Gak bisa. Jaringan lemah.

Kebayang nggak sih anak baru lulus SD lalu nyantri di pesantren? Tapi, semangat menuntut ilmu nggak boleh padam kan? Walaupun biasanya masih kita peluk-peluk, masih ngikutin ke mana kita pergi, dan masih suka gelendotan manja.

Kemandirian diuji, rasa kangen harus diatasi. Pandemi memang memporak porandakan semuanya. Tidak ada lagi jadwal kunjungan. Tak ada lagi jadwal kepulangan. Ketemuannya nanti ketika kenaikan kelas atau kelulusan sekolah.

Rindu membuncah karena berbilang bulan nggak ketemu. Lalu bagaimana cara orang tua mengatasi kerinduan ini?

Sibukan Diri dengan Aktivitas Nyantri

Nah ini dia yang sering dilupakan oleh orang tua ketika memasukan anaknya ke pesantren. Anak disuruh nyantri, belajar kitab, menghahal Qur’an, dan berharap dapat memakaikan kita mahkota emas di syurga nanti. Namun, alih-alih ikutan belajar dan menghafal, kita malah santai-santai saja; baca Qur’an kadang-kadang, puasa jarang, tahajud kalau inget, menghafal Qur’an gak sanggup.

Baca Juga  Perkuliahan Daring: Produktif atau Kontraproduktif?

Untuk nge-blend dengan aktivitas anak, yuk kita tahajud, puasa sunnah, membaca dan menghafal Qur’an, baca kitab, dan menghadiri kajian ilmu. Dengan demikian, diri kita akan disibukan dengan aktivitas yang mirip dengan di pesantren.

Ketika orang tua mengirimkan energi belajar, pasti anak merasakan semangat yang sama. Anak betah di pesantren, orang tua nyaman menitipkan anak di pesantren.  Berada di frekuensi hati yang sama membuat hati kita dekat dengan anak.  

Kirimkan Surat dan Foto

Rasanya jadul banget ya kirim surat ke anak. Namun ketika kita menuliskan surat pada anak, kita seolah sedang berbincang dengan anak. Mengabarkan kegembiraan, memberitahukan kesibukan kita dalam mentadabur kitab dan Qur’an, menyampaikan kebanggaan kita tentangnya, dan menuliskan doa dan harapan kita padanya.

Berharap balasan surat? Nggak usah, mereka nggak bisa kirim surat. Palingan menulis surat untuk kita dan kemudian dikirimkan oleh ustad melalui WA.

Buat anak, surat itu akan jadi penghibur. Bener deh. Kita pernah kan merasakan nikmatnya mengulang-ulang membaca surat. Bahagianya menyentuh kertas yang ada tulisan dari yang tersayang. Begitu juga anak.

Ketika dia kangen, bisa langsung buka laci dan membaca kembali tulisan kita. Membayangkan anak membaca surat kita seperti sudah membaca balasan surat darinya.  Apalagi bila di dalam surat itu ada foto kita atau foto sekeluarga. Mantap!

Buat Folder Tersendiri untuk Foto Anak

Mendapatkan foto anak dari musyrif (pendamping santri di pesantren) bukan hal yang mudah. Musyrif mendampingi banyak santri sehingga terkadang nggak sempat buka chat satu persatu. Akibatnya chat orang tua baru terbalas beberapa hari kemudian. Ya ampun, merana banget deh. Tak ada kiriman foto padahal lagi kangen-kangennya.

Baca Juga  Pandemi Covid-19 dan Kerapuhan Perempuan

Tapi bukan ibu-ibu namanya kalau gak getol minta foto anak. “Ustad, anak-anak lagi mau berangkat sekolah ya? Tolong kirimin foto, tad.”  Gak lupa dibubuhi emoticon senyum lebar. Terus besoknya kirim WA lagi ke musyrif, “Punten Ustad, ada video anak-anak sedang kegiatan di asrama? Tolong kirimiin ya,tad. Kangen banget nih sama anak sholeh nan ganten.” Gak lupa emoticon berderai air mata.  Tapi, kita harus pantang menyerah.

Setelah mendapatkan foto berharga tersebut, jangan lupa untuk merapihkannya di dalam folder khusus di hp kita. Sehingga sewaktu-waktu kita rindu banget dan pengen lihat wajah anak, kita akan dengan mudah menemukan foto tersebut.

Terlibat dalam Komite

Dengan terlibat aktif di komite, kita akan mengetahui kabar terbaru tentang anak. Bahkan kita bisa datang ke pesantren bila komite mengadakan rapat dengan manajemen sekolah atau rapat koordinasi komite. Meskipun tidak bisa bertemu secara langsung dengan anak, tapi jarak kita dengan anak semakin mendekat lho.

Kita bisa melihat gedung asramanya. Beruntung sekali bisa saat itu anak sedang konvoi ke masjid. Saat itulah kita bisa melebarkan pandangan mencari anak kita di antara ratusan santri lainnya. Atau bila sedang ada kegiatan di lapangan, edarkan pandangan ke penjuru lapangan. Siapa tahu beruntung bisa melambaikan tangan dari kejauhan.

Kirim Makanan Rumahan Bikinan Orang Rua

Kirim makanan bisakah melepaskan rindu? Bisa dong. Selain mengirimkan snack setiap bulan, kita juga bisa mengirimkan makanan rumahan kesukaan anak. Membayangkan anak makan masakan kita sudah seperti melihatnya makan di rumah.

Ketika mengirim masakan rumahan jangan lupa cari waktu yang tepat. Caranya tanya ke musyrif perihal waktu longgar bagi santri untuk makan bersama teman sekamar.  Lalu pastikan waktunya tidak bentrok dengan pengiriman dari orang tua lainnya. Karena biasanya santri menyantapnya bersama teman sekamar.

Baca Juga  Dua Adiwira Pandemi

Setelah itu, tempuhlah ratusan kilometer bila sanggup. Bila tidak sempat, kirimlah memakai ekspedisi sameday. Atau kalau tidak sempat masak atau jarak ke pesantren terlalu jauh, cari rumah makan terdekat yang bisa mengirimkan makanan rumahan ke pesantren. Kalau makanan sudah terkirim dan disantap anak,  dijamin bahagia lahir batin. Langkah besar anak untuk berakhlaq Qur’ani dan berprestasi jangan sampai terhalang oleh rintihan kesedihan orang tua. Bila langkah telah ditempuh, pantang untuk mundur. Serbulah pintu langit dengan doa untuk memohon kekuatan atas pilihan yang telah diambil. Jangan lupa ambil langkah taktisnya seperti yang ada di atas. Ohiya, kalau kirim makanan jangan lupa musyrif dikasih juga ya.

Bagikan
Comments
  • akuh padamuuuuu bundooo❤️❤️❤️❤️

    #kangen anak..? emak mah suka ngigau meracau buat lirik lagu ato puisi biarpun g jelas.. tp sedikit rasa rindu terbalas🤩

    November 5, 2021
Post a Comment