f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bandingkan

Keluarga: Tempat Kita Kembali

Oleh : Hendra Hari Wahyudi*


Rahmania, setiap kita pasti mempunyai keluarga, mungkin kadang ada yang hidup sendirian yang biasa disebut dengan istilah “sebatang kara”. Namun pastilah kita lahir dari sebuah keluarga, yang terdiri dari seorang bapak dan ibu. Terkecuali Nabi Adam dan Siti Hawa serta Nabi Isa as yang lahir dari rahim Siti Maryam tanpa seorang bapak atas ijin dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keluarga, Harta yang Paling Berharga

Mengingat lirik dari sebuah lagu, “harta yang paling berharga, adalah keluarga”, dan itu benar adanya. Karena sebuah keluarga yang utuh, utuh dalam artian penuh harmonis, yang sering disebut sebagai sakinah, mawaddah, wa rahmah, tidak dapat dibeli dengan apapun. Bahkan menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya, saking pentingnya arti keluarga dalam kehidupan kita.

Meski terkadang ada yang menilai kebahagiaan keluarga dilihat dari materi yang dimiliki, namun sejatinya itu hanyalah sementara. Sejatinya kebahagiaan sebuah keluarga dapat terwujud ketika kita merasa tentram, nyaman, dan penuh dengan rasa kasih sayang di dalamnya. Faktornya di antaranya istri yang shalihah, dan mempunyai anak yang shaleh atau shalihah. Anak yang shalih nantinya akan menjadi penyelamat orang tua berkat doa darinya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631).

Maka, istri dan anak adalah harta yang paling berharga bagi sebuah keluarga. Hal ini merupakan idaman bagi setiap manusia untuk memiliki keluarga yang sakinah, mawaddah, serta penuh rahmah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga  Jangan Kau Robek Pakaian Pasanganmu !

Keluarga Tempat Kita Kembali

Banyak sekali kisah-kisah yang menceritakan tentang keluarga, di mana salah satu anggota keluarga entah anak, suami, ataupun istri terkadang melakukan hal-hal yang kurang baik hingga akhirnya ia terjerumus kedalam kemaksiatan ataupun dalam penderitaan. Saat ia menyesali perbuatannya, ketika lingkungan sekitar seakan menolak keberadaannya. Namun, keluarga akan selalu ada dan menerimanya dengan berbagai keadaan yang dia alami. “When everything goes to hell, the people who stand by you without flinching — they are your family.” begitu kata Jim Butcher.

Lalu ketika saat pandemi seperti sekarang ini, dimana wabah Covid-19 sudah menyebar ke berbagai daerah, sehingga adanya pembatasan termasuk larangan mudik. Akan menjadi hal yang sangat menyedihkan bagi anggota keluarga kita yang sedang dalam perantauan, entah bekerja ataupun sedang menempuh studi. Mereka tak bisa pulang ke rumah menikmati masakan rumah, serta memeluk hangat anak yang ada di kampung halaman.

Karena keluarga adalah tempat kita kembali, keluarga yang mau menerima apapun keadaan kita. Keluarga yang memiliki kasih sayang yang tulus bagi kita. Meski terkadang mungkin ada hal yang mungkin menyakitkan hati, namun keluarga tetap membuka pintu maaf dan pintu kasih sayangnya pada kita.

Keluarga merupakan harga diri dan kehormatan kita, ketika ada yang menghina dan menyakiti salah satu anggota keluarga kita, kita pasti akan merasakan sakitnya pula. Puncak kenikmatan nantinya adalah ketika kita bisa berkumpul bersama keluarga di surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman,

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du: 23)

Maka, sudah pasti itulah tujuan kita sebagai seorang muslim/muslimah, berkumpul kembali bersama keluarga di jannah. Caranya bagaimana? Marilah kita perhatian perintah Allâh Yang Maha Kuasa berikut ini :

Baca Juga  Adaptasi New Couple: Semua Tentang Kita

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrîm :6)

Menjaga diri dan keluarga dari sesuatu yang dapat menjerumuskan kita serta keluarga ke dalam api neraka, merupakan cara agar kita bisa dapat berkumpul kembali di surga kelak. Pastinya dengan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran. Sehingga keluarga kita menjadi baik didunia dan mendapatkan nasib yang baik di akhirat nantinya.

Oleh sebab itu, keluarga adalah sebaik-baik tempat kita kembali, maka sudah seharusnya kita menjaga anggota kita dari siksa neraka. Karena keluargalah yang mau menerima kita apapun kondisi kita di dunia, mereka selalu ada buat kita. Dan di saat pandemi seperti sekarang, di mana semua dilakukan dari rumah, adalah momen yang tepat untuk merekatkan hubungan keluarga. Kalaupun sebelumnya sudah erat, maka akan lebih nikmat lagi kebersamaan bersama keluarga, mengingat kita mempunyai waktu yang lebih banyak dirumah.

Bagi yang sedang terpisah karena bekerja ataupun menuntut ilmu, percayalah dengan kita menahan diri untuk tidak pulang di saat pandemi, maka kita menjaga telah diri kita dan keluarga kita dari ancaman Covid-19 yang mungkin saja bisa ikut pulang bersama kita kerumah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera mengangkat penyakit ini. Sehingga kita bisa kembali pulang menikmati aroma dan mencicipi masakan rumah. Kembali untuk memeluk erat penuh cinta, bercanda, dan berkumpul bersama anggota keluarga di rumah. Aamiin Yaa Robbal ‘alamin. (*)

Baca Juga  Menghadapi Pasangan Egois Ala Pak Irud

*) Hendra Hari Wahyudi : guru, jurnalis, kader Muhammadiyah dan penikmat sepakbola asal Lamongan.

Bagikan
Post a Comment