Jeritan Rakyat Saat Pilkada Mulai Tiba
Di sebuah pemukiman tua yang terkepung hutan dan sawah Anak-anak kecil di sana, menghadapi hidup dengan tawa-tawa Mereka tak mengenal politik, kebijakan publik apalagi laston dan mall Bukan hanya itu. Mereka juga tak kenal remuneras, grasi dan naik banding.
Pilkada mulai tiba, nyamuk-nyamuk akan hidup dengan gemuk Berdampingan dengan hidup mereka yang lugu Namun mereka tak mengenal soal bantuan dana kesehatan Soal kebijakan dana penanganan diare, malaria apalagi virus corona.
Jika petugas pajak datang, orang tua mereka tergesa membayar Sebab diancam melawan Negara jika tak membayar Dan tanahnya akan diambil alih Negara dan disulap jadi pabrik yang perkerjanya tenaga asingu.
Jika musim kampanye seperti ini, orang-orang pintar dari kota menitipkan tanda gambar, mengajar menusuk kertas di atas angka Lalu memberinya sebungkus mie instan dan sebilah sabit. Bukan hanya 1 orang pintar, bukan hanya 10. Tapi, pernah mencapai 30 dan 35 Dan anak-anak di desa yang terkepung hutan dan sawah Tetap saja tak tahu baca, tak tahu tulis dan mengenal Negara Sudah demikian itu sejak lama, sangat lama Desa yang terkepung hutan dan sawah.
Puisi macam ini banyak sudah rupanya Soal kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan Bahkan dalam pancasila dan pidato-pidato politik Dan kita belum pernah bisa sampai kesejahteraan dengan aman.
Semua masih sibuk memilih dan membaca tanda gambar Dengan bimbang Baliho dengan besar visi misi layaknya cuma wacana Dengan bimbang Politik, dusta macam apalagi ini? Beri saja wacana itu Untuk menimpukimu dalam sejarah peradaban yang dusta ini Dengan bimbang Rakyat menangis.
Pegiat literasi dan juga Koordinator Bidang Komunikasi dan Teknologi Informasi Kwarda Hizbul Wathan Lamongan.
