Dewasa ini banyak orang sibuk dengan gaya hidup (lifestyle) yang glamor, mulai dari sandang-pangan hingga papan. Setiap orang seolah ingin berlomba-lomba pamer kehebatan, kekayaan, kemewahan, dan lainnya. Bahkan tidak sedikit orang hingga menyusahkan diri sendiri demi gaya hidup. Padahal gaya hidup selalu berubah mengikuti perkembangan zaman—dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Modernisasi, globalisasi dan westernisasi, juga termasuk bagian dari perubahan sosial yang saat ini kita rasakan bersama. Ketiganya senantiasa mewarnai berbagai dimensi sosial-budaya masyarakat. Dan itu sangat berpengaruh pada gaya hidup masyarakat, khususnya masyarakat petembanan. At average orang saat ini cenderung membeli barang karena merk (tanda) bukan karena nilai guna.
Di tengah-tengah gaya hidup yang ‘carut-marut’, di mana perilaku konsumerisme meningkat, gaya hidup menjadi hedonis dan glamor, serta penggunaan barang yang berlebihan. Muncul sebuah tren budaya baru yang menjadi perhatian banyak orang, yaitu gaya hidup minimalis.
Apa itu Hidup Minimalis?
Hidup minimalis belakangan ini menjadi tren budaya di berbagai kalangan. Salah satunya datang dari seorang penulis sekaligus komedian terkenal—Raditya Dika, dia menerapkan gaya hidup tersebut. Di kanal youtubenya dia menjelaskan bahwa dia telah menjual semua koleksi jam tangannya senilai miliar-an rupiah dengan alasan ingin hidup lebih minimalis.
Minimalis artinya mengkonsumsi segala sesuatu berdasarkan nilai kegunaan barang. Jika suatu barang tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama maka perlu untuk ‘disingkirkan’.
Gaya hidup minimalis adalah bentuk responsif sekaligus solusi terhadap gaya hidup yang konsumtif dan berlebihan. Orang selama ini cenderung mengkonsumsi sesuatu atas dasar keinginan bukan kebutuhan. Atau seseorang seringkali membeli barang apapun dengan pertimbangan keinginan sesaat—mengikuti tren kekinian dan mengejar gengsi. Akibatnya barang yang telah terbeli tidak cukup berguna dan menjadi ‘sampah’ di rumah.
Gaya hidup minimalis sederhananya adalah konsep di mana seorang menjalani hidup dengan barang seadanya tapi dapat bermanfaat secara maksimal. Inti dari hidup minimalis adalah meninggalkan gaya hidup yang boros dan berlebihan untuk hidup yang sederhana, bermakna dan bahagia.
***
Dalam buku ‘Hidup Minimalis ala Rasulullah’ karya Ratnani Latifah, menurut Fumio Sasaki orang yang hidup minimalis adalah yang mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
Konsep hidup minimalis ini pun sesungguhnya telah ada sejak datangnya agama Islam sekitar 14 abad yang lalu. Semua aktivitas dan tindakan umat Islam telah diatur di dalam Al-Qur’an dan Hadist sebagai landasan utamanya. Singkatnya, Al-Qur’an dan hadist berlaku sebagai way of life bagi umat Islam dan bahkan seluruh umat manusia.
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasaan mengenai petunjuk itu” (Al-Baqarah: 185)
Menurut seorang intelektual India, Sarojini Naidu dalam sebuah buku berjudul ‘Misi Islam”: Islam atau Al-Qur’an adalah sebuah prinsip ideal yang bersifat dinamis. Islam merupakan sistem etika yang menjadi landasan berperilaku bagi umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Hidup Minimalis dalam Perspektif Islam
Hidup minimalis dalam Islam berdasarkan pada nilai kesederhanaan: tidak boros, tidak berlebihan, dan bersahaja. Kesederhanaan juga bisa diartikan kesesuaian antara kemampuan dan kebutuhan. Bisa dikatakan seorang yang sederhana yaitu siapa yang mengetahui kemampuan dan kebutuhan dirinya: proporsional.
Orang yang hidup minimalis alias sederhana sudah pasti jauh dari sikap boros (konsumtif), dan berlebih-lebihan. Dalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Dan makan minumlah jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)
Bahkan dalam aspek makan dan minum Islam secara tegas melarang untuk berlebih-lebihan. Hal ini senada denga hadist riwayat Imam Ahmad dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, nabi bersabda: “Makan, minum, berpakaian, dan bersedekahlah kalian dengan tidak sombong dan tidak berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah suka melihat nikmat-Nya tampak pada hamba-Nya”.
Dalam hadist lain juga diterangkan: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara yaitu mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan idho’atul maal (menyia-nyiakan harta).” (HR. Bukhari Muslim).
***
Dalam Islam sifat boros dan berlebih-lebihan itu tidak baik, Islam menyeru umatnya untuk hidup minimalis. Menurut Buya Hamka dalam tafsirnya sifat boros dan berlebihan itu berbahaya, karena akan mencelakkan diri sendiri. Peribahasa orang dulu, “sedang ada jangan dimakan, sesudah tak ada barulah makan”. Pepatah ini mengajarkan kita untuk tidak mengahambur-hamburkan sesuatu selagi ada, akan tetapi mengatur, menakar dan mengkonsumsinya dengan bijak sesuai kebutuhan.
Menghindari sifat yang boros dan berlebihan dalam Islam menjadi anjuran. Hal ini terlihat dalam banyak ayat Al-Qur’an yang menyeru untuk menghindari sifat tersebut. Bahkan dalam surat Al-Isra’: 27 bahwa orang-orang yang konsumtif adalah saudaranya setan. “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat inkar kepada Tuhannya”.
Menurut Habib Husein Ja’far, bahwa menjadi temannya setan itu salah satu penegasan bahwa sifat tersebut sangatlah buruk dan tercela. Adapun dalam hal ini Islam mengajarkan untuk memberikan sebagian harta karena di dalamnya mengandung hak orang yang membutuhkan. Hal ini terdapat di surat Al-Isra’: 26 yang artinya:
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”.
Belajar Minimalis dari Nabi Muhammad
Nabi Muhammad adalah suri tauladan (uswatun hasanah) beliau mengajarkan banyal hal kepada umatnya. Salah satunya yaitu hidup minimalis mulai dari sandang, pangan ataupun papan. Beliau merupakan sosok yang sangat sederhana dalam hidupnya. Rumah beliau luasnya hanya sekitar 8 x 4 meter, sangatl minimalis. Termasuk segala perabotan yang ada di dalamnya, semuanya hanyalah perabotan yang nabi butuhkan.
Ada kisah tentang kesederhanaan nabi, yakni saat Umar ke rumah nabi dan mendapatinya sedang tidur di atas sebuah tikar yang tipis. Kemudian Umar bertanya:
“Wahai Rasulullah, kenapa engkau menggunakan tikar ini? Engkau bisa menggunakan permadani, pasti akan lebih memberi kenyamanan bagimu”. Nabi menjawab: “Apa urusanku dengan dunia? Permisalan antara aku dan dunia bagaikan seorang yang berkendaraan menempuh perjalanan di siang hari yang panas terik, lalu dia berteduh di bawah pohon, istirahat di sana lalu meninggalkannya”. (HR. Timidzi).
Masih banyak hadist-hadist lain tentang gaya hidup minimalis nabi Muhammad Saw. Mulai dari pakaian, sandal, sepatu, makanan, gelas, semuanya sangatlah sederhana. Dalam sebuah hadist Amru bin Huraist: “Saya melihat Rasulullah Saw mendirikan shalat dengan menggunakan sepasang sandal yang berlubang (bertambal)”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
