f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
wirausaha

Bahagia Menjadi Wirausaha Tanpa Mengenal Usia

Memang, setiap orang hanya bisa berdiri di sudutnya masing-masing dan melihat persoalan dari sudut pandangnya sendiri-sendiri.

“Lagi di mana?” sapa teman saya melalui WA chat.

“Lagi di Yogya,” jawab saya singkat.

“Duh, udah sampai Yogya aja, ngapain?”

“Biasalah, lagi site visit bakal proyek baru,” lanjut saya.

“Ya ampun, kasihan amat sih, udah umur segini masih kerja ke mana-kemana.”

“Kayak saya dong, tinggal menikmati hasil, kalau keluar kota ya buat liburan, dan belanja-belanja, bahagia gitu.”

Komentar senada juga beberapa saya terima dari beberapa teman lain saat mereka mendadak ngajak ngumpul, reuni, atau makan bareng teman-teman sekolah dulu. Sedangkan posisi saya masih ada jadwal pekerjaan di luar kota. 

***

Sebagai seorang Interior Architect yang memiliki perusahaan bergerak di bidang konsultan dan kontraktor, saya memang cukup sering berkeliling di mana proyek-proyek tersebut berada. 

Ada dua kata kunci dari komentar teman di atas yang saya beri garis tebal terhadap aktivitas bekerja saya sekarang, yaitu kasihan dan (seolah-olah) tidak bahagia. Oh ya, usia saya saat ini lewat dari pertengahan 40-an tahun. Tapi sebentar, saya kok jadi ingin mengecek ulang batasan usia produktif di Indonesia, karena rasa-rasanya kok saya ya belum tua, haha.

Dalam penggolongan komposisi penduduk, usia produktif terukur dari rentang usia 15-64 tahun. Berarti fix, memang saya masih masuk dalam rentang waktu usia produktif.  

Kembali kepada kata kasihan, kenapa kata ini harus muncul dan tersemat pada orang yang berwirausaha. Notabene aktivitas saya membuka lapangan kerja bagi orang lain. Yang kasihan justru negara kita, Indonesia. Keinginan melaju menjadi negara maju yang rata-rata memiliki rasio kewirausahaannya 12% berjalan tersendat-sendat. Dari hasil Sensus Penduduk 2020, bahwa persentase penduduk usia produktif di Indonesia mencapai 70,72 persen, jumlah yang sayang untuk disia-siakan.

Bayangkan, apabila sepertiganya saja mau menjadi wirausaha, seperti saya. Saya bergerak di bidang Interior dan Arsitektur.  

***

Walaupun bukanlah perusahaan berskala besar, tetapi sebagai contoh di setiap penyelesaian pekerjaan. Katakanlah dalam satu proyek rumah tinggal berukuran 600 m2, memerlukan paling tidak 5-10 unit usaha yang lain. Artinya membuka peluang wirausaha juga bagi orang lain, demikian seterusnya. Pada akhirnya membuka rantai kewirausahaan yang berkesinambungan. Ini baru bicara satu proyek di satu kota saja.

Baca Juga  New Normal, Solusi Pemerintah Hindari Ancaman Resesi Ekonomi?

Apabila semangat kewirausahaan ini terus ditularkan akan cepat meningkatkan jumlah wirausaha Indonesia yang hanya 3,47 persen dari total penduduk itu. Jumlah ini merupakan rasio terendah di negara ASEAN. 

Semua negara tetangga, kewirausahaan telah tumbuh di atas angka 4%, bahkan Singapura 8,75. Sebagian negara maju memiliki rasio kewirausahaan di angka 12%, beda dengan Indonesia yang sangat jauh. Padahal jika kita lihat, dari jumlah penduduk dan luas wilayah, potensi pengembangan usaha Indonesia sangat besar.

Jalan terjal dunia wirausaha, memang membuat area ini bukan menjadi idola bagi masyarakat Indonesia usia produktif.  Alih-alih mempercepat pengesahan sistem dan peraturan pemerintah yang mendukung secara riil unit-unit kecil dunia usaha, pemerintah sendiri membuat posisi pegawai negeri menjadi hal menarik misalnya. 

Daya tarik yang melekat pada pegawai negeri di balik gajinya yang hanya beberapa juta itu demikian menyedot minat banyak orang. Ada gaji tetap, juga ada uang pensiun. Yang menarik tentu saja, ada istilah PHK. 

Belum lagi tetap bisa menikmati semuanya meskipun dalam keseharian ngga pinter-pinter atau rajin-rajin amat. Belum lagi peluang-peluang ikut bermain di proyek, tidak perlu munafik, korupsi terbesar kita sama-sama tahu ada di sana.

***

Tidak mengherankan bila banyak  yang memilih jadi pengangguran atau setengah pengangguran sambil menunggu tes masuk pegawai negeri daripada berwirausaha yang identik dengan kerja keras tak berkesudahan itu. 

Apalagi adanya anggapan yang terlontar oleh kawan saya di awal tulisan, yang kebetulan memang istri pejabat pemerintah. Walaupun ungkapannya tidak bisa disebut sebagai representasi komentar masyarakat pada umumnya. Namun bisa menjadi gambaran singkat bahwa masyarakat kita itu, tidak biasa melihat kerja keras sebagai sesuatu yang membanggakan dan membahagiakan.

Saya menduga hal tersebut merupakan buah dari sistem pendidikan kita. Tradisi pendidikan di Indonesia seolah-olah bermuara mengejar kenyamanan. Kata-kata guru, orang tua yang sering kita dengar, “Belajar yang rajin, jadi anak yang pinter, biar gampang nyari kerja.” 

Baca Juga  Tiga Cara Supaya Anak Terbiasa Menutup Aurat Tanpa Memaksa

Sepertinya kok jarang, bahkan di level nasehat saja, mendengar guru atau orang tua berpesan, “Belajar yang kreatif, out of the box ya, biar lulus nanti jadi pengusaha, buka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.”

Belum lagi fenomena ganti pejabat, ganti kebijakan. Tak terkecuali di dunia pendidikan. Bahkan ganti kebijakan itu juga bersama dengan ganti metode dan ganti buku pelajaran. Tidak ada sustainable method, semuanya serba egosentris. Ego menjabat, ego mengganti kebijakan, ego mengganti peraturan. 

***

Pergantian kebijakan-kebijakan itu tak berarti banyak, hanya menghasilkan peraturan-peraturan linier, membelenggu mental baik murid ataupun guru, sama-sama tidak berani mengambil inisiatif. Mengambil jalan keluar inisiatif (out of the box) menjadi hal yang menakutkan alih-alih menjadi semangat utama, yang akhirnya bermuara pada mentalitas pegawai 9 to 5 saja.

Padahal di luar sana metode-metode lain berkembang demikian pesatnya. Menghasilkan komponen-komponen bangsa yang tangguh. Mengasah mental kewirausahaan sedini mungkin.

Pada sistem pendidikan kita juga tidak diajarkan makna kegagalan, kekalahan. Semua berorientasi pada euforia keberhasilan, kemenangan. Walhasil kita takut kalah, gagal, hingga pada prosesnya pun, kecurangan menjadi hal yang lazim. Tidak heran pada akhirnya mencetak birokrasi korup. 

Sistem pendidikan kita, belum mampu mengakomodasi bahwa setiap siswa adalah individu unik. Merdeka dan dihargai segala pilihan kebisaannya. Dan bahwa proses setiap anak untuk menguasai sesuatu berbeda, terkadang kalah, terkadang menang. Terkadang gagal, terkadang juga berhasil.

Tak hanya sistem pendidikan, juga sistem besar yang berjalan di Indonesia, seolah-olah pemerintah tidak mempunyai blueprint untuk memetakan dan mengakomodasi potensi-potensi penduduknya di usia produktif tadi. Ada yang salah pada ekosistemnya.

***

Bagi saya ini masalah serius. Jika kita tilik secara personal, banyak orang-orang Indonesia yang pintar dan berbakat. Dalam masa PPKM tahun kemarin saja, 15 medali olimpiade sains internasional diraih anak-anak Indonesia. Contoh lain, lulusan SMK Salatiga (notabene kota kecil), bisa menjadi pemenang pertama kompetisi internasional engineering yang diadakan oleh GE. Mengalahkan 700 peserta dari 56 negara, luar biasa.

Baca Juga  Uber Cup 2024: Tentang Perempuan, Perjuangan, dan Kesetaraan

Di luar luar negeri mahasiswa-mahasiswa Indonesia terkenal memiliki kemampuan akademik yang sangat bagus, tidak sedikit juga yang luar biasa. Tetapi mengapa kemampuan individu, prestasi akademis, jumlah rasio usia produktif yang besar tidak mampu diterjemahkan sebagai kekuatan kewirausahaan?

Program meningkatkan UMKM oleh pemerintah, jangan juga diterjemahkan secara naif oleh pelaku-pelaku kebijakan di bawahnya hanya menjadi bidang kerajinan, makanan jadi, baju, furniture.  Banyak industri lain apabila memperoleh kesempatan juga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Seperti industri pertanian, bio-medis, elektronik, dan sebagainya.

Kewirausahaan tidak bisa berdiri sendiri, biasanya merupakan rantai ekosistem yang panjang. Satu subordinat mendukung subordinat lainnya. Semakin panjang rantai ini, maka daya serap lapangan pekerjaan pun semakin besar.

Dan persaingan berbasis kompetensi, yang menjadi ciri khas dunia usaha bukanlah menjadi hal yang asing. Karena, kembali lagi ke paragraf awal, pada sistem pendidikan Indonesia, toh, banyak yang memakai sistem ranking, artinya bersaing dan menjadi yang terbaik merupakan hal yang biasa, bukan. Tetapi output-nya itu tidak seperti diharapkan.

***

Bagi saya ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Bagaimana hasil pendidikan tidak melulu mencetak mentalitas pegawai atau pegawai negeri, tapi menjadi pewirausaha. Bahwa bekerja keras tidak mengenal batas usia. Bahwa bekerja keras merupakan hal membanggakan, apapun bidang pilihannya.

Kebanggaan terletak  pada memberi kemanfaatan bagi sekitar. Kewirausahaan tidak mengenal batas usia. Menjadi wirausaha yang identik dengan kerja keras itu tidak menjadi hal yang menakutkan. Menjadi wirausaha tangguh itu, yang bisa jadi gagal berkali-kali dalam prosesnya tidak membuat gentar. 

Akhirnya bekerja keras, berkarya, mampu membuka lapangan kerja bagi orang lain di usia berapapun menjadi hal yang keren, membanggakan dan membawa kebahagiaan tersendiri.

Bagikan
Comments
  • Tri Djoyo

    “Akhirnya bekerja keras, berkarya, mampu membuka lapangan kerja bagi orang lain di usia berapapun menjadi hal yang keren, membanggakan dan membawa kebahagiaan tersendiri.”

    kalimat penutup yang sarat makna dan dalam… semoga kita anak cucu kita bangga dengan kerja keras, bangga dengan karya sendiri, bangga bisa bermanfaat buat orang lain… bukan hanya sebatas uang atau materi lain.. apalagi hanya pemberian…

    Januari 11, 2022
  • Havik Martoyo

    Keren mbak. Powerfull… Yess ini empowerment

    Januari 18, 2022
Post a Comment