Aku Akan Selalu Berada di Sisimu, Ibu (2)
Ibu pun pernah berpesan kepadaku, ia bilang bahwa “Kerasnya kita berjuang dan tulusnya kita berdo’a bisa mengetuk pintu-pintu keajaiban yang kerap di luar logika,” dan “Suatu saat kamu akan menjadi kenangan di hati orang lain, maka berusahalah menjadi kenangan yang indah, yang sayang untuk dilupakan begitu saja,” sehimpun nilai-nilai inilah yang selalu kupegang teguh hingga hari ini.
Semasa kecilku dulu, hari-hariku selalu dipenuhi dengan canda dan tawa, harta yang seakan-akan tiada habisnya kini telah berubah. Di usiaku yang ke-12, aku berjumpa dengan transisi kehidupanku yang begitu perih. Penipuan yang dilakukan oleh bawahan ayah menjadi penyebab kesalahan manajemen perusahaan, yang pada akhirnya perusahaan keluarga kami dinyatakan pailit.
Emosi ayah menjadi tak terkendali, barang-barang berharga di rumah dipecahkan ayah hingga berhamburan. Ibu tak berkutik dan hanya bisa menangis di ruang tamu. Ayah semakin frustasi, dan pada hari itu juga ayah memutuskan untuk membawa semua perhiasan dan uang yang ada dalam brankas, lalu pergi meninggalkan ibu sendirian yang terkapar dan menangis di teras rumah usai menahan ayah untuk tidak pergi meninggalkan kami.
Usai ayah pergi, mbak yang sedari tadi mengintip dari dapur dengan wajah pusat pasi langsung menolong ibu dan membopongnya ke kamar ibu yang hanya menyisakan foto keluarga, TV, dan lemari yang telah diacak-acak ayah.
Kondisi psikologis ibu makin mengkhawatirkan saat ibu tak mau makan sama sekali dan memilih untuk menyendiri di dalam kamar. Aku sangat menyesali mengapa saat itu aku harus ke rumah kawan hanya untuk sekadar mengerjakan PR bersama? Dan mengapa ibu tak meneleponku di saat kondisi sedang genting? Ah, mungkin ibu tak mau mental dan psikisku ambruk atau malah menjadi korban ayah. Entahlah, namun satu yang pasti bahwa sesampainya di rumah, aku tak meyangka kejadian itu berlalu begitu cepat dan berakhir sangat menyakitkan.
Aku mencoba untuk menghubungi ayah namun teleponnya tak bisa dihubungi, aku mencoba berkali-kali dan hasilnya nihil. Lalu aku mencoba untuk mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari ibu. Isak tangis ibu terdengar samar dari balik pintu. Ibu baru mau makan keesokan harinya dan itu pun atas paksaanku dan mbak. Walau begitu, kondisi psikis ibu tidak baik-baik saja justru malah semakin parah. Ibu semakin mudah marah tanpa sebab, membentak dan memaki siapa saja yang bertamu ke rumah sudah menjadi kesehariannya.
Hari-hari kujalani dengan sangat berat. Yang tak kalah menyedihkannya, mbak mengundurkan diri dari rumah sebab kala itu kami tak lagi punya uang untuk menggaji mbak. Ditambah lagi umurku yang masih belia tak mengerti soal upah. Kepedihan ini terus berlanjut, pendidikanku harus sampai pada tingkat SD saja, dan kala itu aku lebih memilih untuk menemani ibu hingga kepala ibu dipenuhi uban dan semakin kurus.
Ada rasa iri dengan kawan-kawanku yang dapat melanjutkan pendidikannya hingga ke tingkat perguruan tinggi. Tak ada satupun kawanku yang berkuliah di kota maupun luar kota menanyakan kabarku atau sekadar menyapa. Belakangan aku mengerti bahwa hal itu merupakan fase yang biasa ditemui kala dewasa.
Di rumah yang tak lagi terawat dengan pepohonan serta rumput liar yang tumbuh di halaman depan maupun belakang rumah ini, aku hanya bisa menemani ibu yang terkadang lupa bahwa aku adalah anak kandungnya. Ibu hanya bisa tidur di kasur lusuh yang ditempatkan persis di ruang tamu. Setiap malam, mata ibu tak bisa terpejam, ibu seringkali meracau sendiri entah dengan siapa, dan hanya akan tertidur pukul lima pagi.
Kondisi rumah kami diperparah dengan tidak adanya air dan listrik yang sudah 12 tahun diputus. Dengan begitu, praktis kami hanya mengandalkan air hujan yang kutampung di bak untuk minum, memasak, dan mencuci bajuku dan baju-baju ibu, serta lilin dan senter sebagai penerangnya. Dan untuk menopang perekonomian, aku bekerja sebagai keamanan perumahan yang selalu berada di pos ronda yang letaknya bersebelahan di rumah pak RT. Ya, pak RT-lah yang menawariku untuk bekerja sebagai anggota keamanan.
Perihal kondisi ibu yang tak lagi seperti dulu, sebetulnya Pak RT telah menawariku untuk dibawa ke RSJ. Tapi aku menolaknya, sebab aku yakin seiring berjalannya waktu, ibu bisa sembuh dan kembai seperti sedia kala. Akupun tak mau jauh dari satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini, yang membesarkanku dengan nilai dan adab yang paripurna hingga aku bisa mengahadapi ujian ini yang entah sampai kapan. Sebab aku percaya, Tuhan bersama orang-orang yang tangguh, sabar, dan tak kenal menyerah.
Aku merindukan masa-masa itu datang kembali..
Aku merindukan hangatnnya pelukmu.. Dan Satu pintaku, kurindu senyummu, ibu..

Gemar membaca dan menulis sambil dengerin lagu bergenre Pop-EDM. (IG: rvdafii_ls. E-mail: ruzdanfauzi025@gmail.com)
