Ada Perempuan, di Balik Suksesnya Ramadan Kita
Oleh : Arif Yudistira *
Rahmania, bulan Ramadan adalah bulannya kaum perempuan. Di bulan ini, kaum perempuan tidak hanya berperan dalam internal keluarga, tetapi juga di ranah eksternal. Pada lingkup keluarga, kaum perempuan seperti didera kesibukan tiada habisnya. Dari menyiapkan sahur, sampai berbuka puasa. Orang boleh membantah fakta di lapangan bahwa kaum lelaki bisa melakukan ini atau bisa dengan pesan antar. Namun fakta di iklan televisi seperti menunjukkan mayoritas keluarga Indonesia di kala Ramadan amat ditopang oleh peranan perempuan.
Bila bapak-bapak atau laki-laki disibukkan dengan tadarus, tarawih dan ibadah sunnah di masjid, maka kaum perempuan atau kaum ibu yang mengurus urusan rumah tangga. Dari kebersihan rumah, sampai kebersihan dapur. Dari terciptanya menu di meja makan, sampai menyiapkan segala keperluan keluarga.
Agama Tidak Membatasi Peran Perempuan
Ada yang menarik saat mencermati bagaimana kaum perempuan seolah tanpa henti memuliakan Ramadan dan menjadi penopang di kala ramadan tiba. Perempuan atau kaum ibu memiliki hak pula seperti kaum lelaki untuk beribadah, tarawih dan menghabiskan hari-harinya dengan tadarus baik di rumah maupun di masjid. Namun mengapa hal ini tidak nampak dalam masyarakat kita?.
Apakah karena faktor budaya, atau memang ini merupakan dominasi maskulin yang dilestarikan?. Lalu bagaimana agama memandang aspek kesetaraan dan pembagian peran ini?. Bisakah kaum lelaki sesekali mengurus urusan rumah tangga di kala ramadan atau hari-hari biasa?.
Agama Islam tidak memberikan batasan atau secara rigit membagi peranan perempuan dalam bulan Ramadan. Di waktu nabi memasuki bulan Ramadan, kita mendapati tauladan yang baik bagaimana Khadijah, maupun istri nabi yang lain memberikan dorongan, dan dukungan atas kelancaran ibadah Ramadan secara bersama. Di kala nabi, kita mendapati keharmonisan, keselarasan, dan pembagian yang saling pengertian saat memasuki Ramadan.
Ramadan di Indonesia
Bagi kalangan muslim Indonesia, Ramadan memang bulan yang penuh suka cita. Ramadan disambut dengan penuh kebahagiaan dan cinta kasih. Selain berbagai tradisi nyekar atau ziarah, serta nyadran, masyarakat juga ada yang menyambutnya dengan padusan atau bebersih diri. Saat melakukan semua tradisi itu, ada guyup rukun dan kebersamaan yang terjalin. Orang sudah tidak lagi memandang apakah ini dilakukan oleh perempuan atau lelaki. Ada semacam kontrak sosial yang sudah berlaku sendiri dan dipatuhi bersama. Sehingga tidak atau hampir tidak pernah terdengar konflik yang muncul karena persoalan pembagian gender di kala ramadan.
Orang Jawa sudah terbiasa menganggap peranan perempuan di rumah adalah hal yang biasa. Sementara, bila saat ini perempuan sudah bergeser dari ruang privat ke publik, hal ini tidak mempengaruhi bagaimana budaya sebagai penopang utama keluarga di kala bulan Ramadan. Setiap bulan Ramadan kita mesti berterimakasih kepada mereka. Bukan hanya karena menyediakan santap sahur dan buka semata, tetapi juga karena perannya yang tidak bisa kita nafikkan yang memberikan keleluasaan kaum lelaki untuk beribadah lebih longgar tanpa terbebani urusan domestik.
Mitos Konsumtif
Di bulan Ramadan, sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita, bahwa pengeluaran justru meningkat. Peningkatan pengeluaran ini sering dituduhkan bahwa kaum perempuan yang menjadi penyebab dari peningkatan pengeluaran ini. Mereka dipersepsikan menjadi lebih lengkap melengkapi isi meja makan. Kebutuhan pakaian dan kebutuhan lain pun dianggap sebagai faktor lain yang mendorong kaum perempuan memacu tingkat konsumerisme.
Menurut saya pribadi, saat saya melihat realitas dalam keluarga lebih dalam, saya menarik kesimpulan bahwa apa yang dituduhkan bahwa perempuan di bulan Ramadan lebih konsumtif tidak bisa dibenarkan. Apa yang perempuan belanjakan hampir secara keseluruhan adalah untuk kebutuhan keluarga. Dan ini dinikmati bersama secara keluarga. Kita sering lihat, ruang dan pusat perbelanjaan di bulan Ramadan pun menjadi ramai, dan konon para pembeli dan konsumennya para kaum perempuan.
Rasanya tidak adil, ketika kaum perempuan dituduh sebagai pihak paling konsumtif. Padahal meningkatnya pembelanjaan dan konsumerisme justru untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kebutuhan itu tidak hanya makanan dan minuman, tetapi juga daftar kebutuhan keluarga selama sebulan penuh. Begitu juga saat mereka membeli aneka baju, celana dan tas. Semua itu tidak melulu untuk keperluan kaum perempuan semata, tetapi juga untuk keluarganya.
Di Balik Suksesnya Ibadah di Bulan Ramadan
Rasulullah pernah bersabda yang ditulis ulang oleh Imam Al Ghazali di bukunya Menyingkap Hati Menghampiri Ilahi (2003) : Umatku diberi lima hal dalam bulan Ramadan yang tidak diberikan kepada umat sebelum mereka, yaitu : bau mulutnya dihadapan Allah lebih harum daripada minyak wangi; mereka dimintakan ampun oleh para malaikat sampai mereka berbuka;mereka dilindungi dari godaan setan; Allah menghiasi surga-Nya dan berfirman, Engkau akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang salih; dan mereka akan diampuni pada malam terakhir bulan Ramadan.” Lalu beliau ditanya “Ya Rasul apakah malam itu malam lailatul qadar?”, “Bukan, tetapi setiap orang yang beramal akan disempurnakan pahalanya.”
Hadist ini memberikan penanda bahwasannya kaum perempuan yang menopang dan berada di balik suksesnya bulan ramadan dalam suatu keluarga tentu akan mendapatkan pahala dan balasan yang sama pula. Meski secara praktik, ibadah kaum perempuan lebih banyak jatuh pada urusan domestik. Kelak pahala mereka disempurnakan pula di bulan ramadan.
Kaum perempuan di bulan Ramadan pada akhirnya memang tidak terlalu terlihat peranannya dibanding lelaki. Di bulan Ramadan itulah, meski tidak nampak secara publik, merekalah yang ada di balik kesuksesan keluarga meraih dan menggapai aneka keistimewaan yang diberikan Tuhan.
*) Arif Yudistira, Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Penulis Buku Penjara Perempuan (2020)
